VIVID SAMBAS: Perempuan Harus Mandiri dan Terus Belajar

Vivid Sambas adalah seorang personal life coach, hipnoterapis, dan pelatih, serta narasumber tetap salah satu radio swasta di Surabaya. Ia menulis buku Miracle on Demand bersama beberapa hipnoterapis, dan Single Parent: Move On – Bangkit dari Perceraian yang merekam pengalamannya jatuh bangun sebagai orang tua tunggal. Tahun 2016, perempuan penuh semangat ini mendirikan “Intrans – Inner Tranformation for Happy Life”, menyediakan diri sebagai mitra untuk melakukan transformasi diri.

Menurut Vivid, perempuan mandiri sebaiknya mapan secara ekonomi. Sehingga, jika terjadi perceraian, perempuan minimal bisa hidup dari pekerjaan yang dimilikinya. Perceraian memang bukan hal mudah jika dialami perempuan, terlebih bagi perempuan yang “terpaksa” meninggalkan karier di dunia kerja demi membangun “karier domestik”. Demi menjaga keutuhan dan merawat anak-anaknya dengan baik.

Sayangnya, setelah karier gemilang ditinggalkan dan berfokus menjadi ibu rumah tangga, tiba-tiba perkawinan yang dikira akan baik-baik saja hancur berantakan. Kejadian yang sering terjadi pada perempuan itulah yang dialami Vivid dan mendorongnya untuk menulis buku Single Parent.

Berikut ini perbincangan dengan Vivid.

single-parent

Apa sebetulnya ide awal untuk menulis buku Single Parent?

Berawal dari keinginan untuk melakukan refleksi diri dan membukukan pengalaman bangkit dari perceraian. Diramu pula dengan cara-cara self-healing (pemulihan diri) dan self-coaching (pemberdayaan diri untuk mencapai tujuan) sesuai dengan pengalaman sebagai praktisi hipnoterapi klinis dan life coach.

Apa yang ingin dibagi dengan buku itu?

Pengalaman jatuh bangun dan suka duka selama menjadi single mom delapan tahun, serta alternatif cara untuk segera move on.

Apa sasarannya khusus untuk perempuan?

Ya, terutama untuk perempuan. Namun ada juga pembaca laki-laki. Akhirnya terpikir juga semoga buku ini bermanfaat untuk siapa saja yang ingin bangkit dari perceraian.

Bagaimana caranya menjadi perempuan kuat?

Kenali diri, kenali diri, kenali diri. Perempuan kuat bukan berarti tidak punya kelemahan. Kuncinya adalah mengenali diri sendiri, keunikan diri, luka diri, memeluknya sebagai bagian dari diri seutuhnya, dan memahami potensi diri, terus berproses menjadi diri yang lebih baik. Menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Bisa mandiri secara pemikiran dan keputusan, lebih baik lagi bisa mandiri secara ekonomi, mampu berstrategi dalam kondisi eksternal yang tidak mudah atau di luar kendali diri. Terus belajar untuk menguatkan diri dalam pilihan peran yang diambil.

Dalam dunia patriarki di mana perempuan lebih diharapkan sebagai manajer keluarga, maka selalu menyiapkan diri menjadi sekoci terbaik yang siap bila kapal utama bermasalah/tenggelam/karam. Berstrategi di dunia patriarki.

Kalau mau diringkas: mau terus belajar, dan berkesadaran berproses.

Apakah menikah lagi itu solusi untuk mengikis trauma dari perkawinan yang gagal?

Menurut saya, belum tentu. Ambil pelajaran terbaik dari kegagalan perkawinan sebelumnya. Mau dengan “garang” melakukan introspeksi diri. Kenali diri, pulihkan diri, bahagiakan diri, adalah kondisi ideal. Berproses dalam kondisi diri yang tidak ideal adalah tantangannya. Selanjutnya tergantung value dan belief.

Saya percaya, hidup adalah rangkaian konsekuensi pilihan-pilihan kita di mana ada campur tangan Semesta di dalamnya, apakah kita bertemu dengan jodoh yang lebih baik di kemudian hari.

Apa saranmu untuk perempuan yang belum mampu move on dari gagalnya perkawinan?

Mengambil tanggung jawab pribadi untuk pulih, dan move on. Selama kita masih menyalahkan orang lain maupun kondisi di luar kendali, akan menjadi tidak mudah. Introspeksi diri, berdialog dengan diri dan Yang Maha Kuasa sesuai keyakinan masing-masing, pesan apa sih yang mau disampaikan Semesta dari peristiwa keterpurukan ini.

Kuatkan diri dengan berbagai cara, menata lagi cita-cita dan impian ke depan. Temukan cara self-healing dan katarsis yang paling sesuai untuk diri kita. Jaga lingkaran pertemanan tetap positif. Dan bila memang memerlukan bantuan, pastikan datang pada orang atau pihak profesional yang menguasai bidangnya..

Apa mimpimu saat ini?

Jadi ibu rumah tangga yang baik, ha ha ha…. Ya beginilah, saya percaya tidak ada yang kebetulan. Setelah berkiprah menjadi perempuan karier lebih dari dua puluh tahun, di mana urusan rumah tangga dibantu asisten, sudah sejak pertengahan pandemi menjadi full IRT (Ibu Tumah Tangga).

Tantangannya adalah bagaimana perempuan dengan “beban ganda” berkesadaran untuk menjadikan sebuah tanggung jawab sebagai keindahan. Memberi makna pada tugas-tugas yang ada itu penting untuk menjaga motivasi. Tetap berkontribusi untuk publik dengan manajemen waktu – kalau tidak bisa disebut “akrobat” di tengah keterbatasan energi yang ada.

Menguatkan diri pribadi, mendampingi suami, mengasuh dan mengawal anak-anak, dan tetap berkontribusi untuk sesama, dalam keterbatasan energi. Mengambil peran yang lebih berdampak dan strategis, membangun jejaring, dan #connectingthedots, mengutilisasi jejaring tersebut untuk kebaikan.

Oh iya, di masa pandemi ini tentu syarat utama adalah survive, resilient, sehat, waras, gembira. Bisa tetap produktif dan berkontribusi. Ehm… dan segera menerbitkan buku lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.