Teater Yapendra: Terang dalam Sastra

Teater Yapendra (Yayasan Pendidikan Dria Raba) merayakan ulang tahun ke-5 dengan menggelar Lomba Musikalisasi Puisi pada 30 Juni. Lomba Musikalisasi Puisi Se-Bali ini diketuai I Putu Rasta Adi Kusuma dan mengusung tema ‘Terang dalam Sastra’.

Peserta diminta tampil membawakan dua buah puisi untuk dialihkreasikan menjadi sebentuk musikalisasi puisi. Puisi wajib bertajuk ‘Laut Negeriku’ karya Aspar Paturusi. Beberapa puisi pilihan adalah ‘Persetujuan Dengan Bung Karno’ karya Chairil Anwar, ‘Tanah Air Mata’ karya Sutardji Calzoum Bachri, ‘Selamat Pagi Indonesia’ karya Sapardi Djoko Damono, dan ‘Syair Empat Kartu di Tangan’ karya Taufik Ismail.

Ketua Yayasan Pendidikan Dria Raba, Ida Ayu Pradnyani Manthara, dalam pidatonya menyampaikan rasa syukur atas pencapaian teater Yapendra yang melalui masa-masa sulit. Berkarya dalam gelap. Walau mereka memiliki keterbatasan dalam penglihatan, namun tak menghentikan mereka dalam proses berkarya.

Beragam juara telah disabet teater Yapendra. Kelompok ini bahkan pernah mewakilki Bali dalam musikalisasi puisi di ajang nasional.

Selain musikalisasi Puisi, Teater Yapendra juga pernah mementaskan drama di Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar beberapa tahun silam. Pementasan drama tersebut di bawah manajemen Teater Sadewa dan disutradarai seniman teater Hendra Utay.

Dalam ulang tahun ke-5 ini, Teater Yapendra menggelar lomba musikalisasi puisi dengan mengundang para seniman teater dan sastrawan sebagai juri. Ida Bagus Martinaya, Heri Windi Anggara, dan Moch Satrio Welang didapuk menjadi dewan juri. Ketua Dewan Juri, Ida Bagus Martinaya, seorang tokoh teater modern Bali, menunjukkan kegembiraannya melihat proses yang dijalankan adik-adik teater Yapendra dalam menggelar kegiatan susastra dalam bentuk musikalisasi puisi.

Pegiat musikalisasi puisi terkini, Heri Windi Anggara, mengawali seremoni pemotongan tumpeng sebelum memberikan pidato evaluasi dewan juri. Heri memiliki proses panjang dengan Teater Yapendra, mendidik mereka dalam bidang musikalisasi puisi selama beberapa tahun.

Aktor teater dan penyair Moch Satrio Welang pun menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Teater Yapendra. “Teater Yapendra berkarya dalam gelap, namun terang dalam sastra memang benar adanya. Mereka membuktikan bahwa apapun yang Tuhan berikan pada kita, patut disyukuri dengan semangat luar biasa untuk melanjutkan hidup dengan beragam kegiatan positif seperti yang dilakukan Teater Yapendra. Daya tahan dan daya juang mereka sangat menginspirasi!” ujarnya.

Pengumuman juara oleh dewan juri yang disiarkan di kanal Youtube Awb Post Media mengantarkan para pemenang. Juara 1 diraih Teater Rubikz SMAK Harapan Denpasar, Juara 2 disabet Teater Melati Denpasar, dan Juara 3 direbut Teater Solagracia, Negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *