TAMBAR

Men Coblong tertegun. Mbak Tukang Sayur langganan di perumahan tempatnya tinggal sejak 1999 dengan girang menghadiahinya sebungkus kecil rengginang mentah dalam plastik ukuran 1/4 kg. Tawanya riang. Matanya berbinar-binar.

“Saya sudah jualan sejak kemarin, Bu. Tapi Ibu tidak ke luar rumah. Padahal saya sudah teriak-teriak. Cukup keras, sih. Maaf kalau tidak sopan dan mengganggu, ya, Bu. Saya pikir, ya sudah, mungkin Ibu sudah masak dan punya stok makanan di rumah. Senang rasanya kembali lagi ke Denpasar. Maaf, ya, Bu, saya pulang kampungnya kelamaan.”

Suaranya yang girang tiba-tiba berubah jadi datar. Ada isak yang disembunyikan dalam palung hati.

“Sejak Covid, saya baru kemarin itu ketemu saudara di kampung. Saya juga tidak pulang ketika bapak saya meninggal dimakan Covid.”

Getir.

Kegetiran merembet ke dalam hati dan pikiran Men Coblong.

Terbayang keriangan seorang sahabat semasa bersekolah di SMPN I Denpasar. Sejak kecil, sahabat Men Coblong itu bertubuh subur menggetarkan. Tetapi, sekalipun bertubuh tambun, perempuan belia itu mahir berolahraga senam di aula sekolah. Dia bisa melompati kuda pelana dengan cantik. Biarpun napasnya tersengal-sengal, perempuan itu tetap tersenyum bangga. Tidak pernah merasa ada yang salah dengan tubuhnya yang lebih besar daripada anak-anak lain.

“Yang penting usaha. Aku latihan di rumah,” bisiknya serius.

Men Coblong juga latihan di rumah. Dia lompat-lompat di matras agar tubuhnya lentur dan mudah melompati kuda pelana dalam pelajaran senam di sekolah. Hasilnya tidak bagus-bagus amat, sih. Tapi yang penting usaha. Dan kakinya tidak nyangkut.

Kerja keras Men Coblong terasa nikmat karena semua orang di rumahnya aslinya tidak setuju. Setiap kali Men Coblong melakukan ancang-ancang lompat, neneknya berteriak-teriak melengking seolah ingin merubuhkan rumah. Jika tuniang-nya itu marah, rumah serasa dilanda hawa tidak enak.

“Bagaimana kalau kakimu patah? Siapa yang tanggung jawab? Kakimu tidak bisa dibeli di bengkel!”

Suara Tuniang terdengar seperti badai yang akan melahap seluruh genting atap rumah. Bisa seharian perempuan tua itu mengomel. Membuat kebisingan yang meneror penghuni rumah.

Tuniang mencintai Men Coblong dengan caranya sendiri yang terlalu protektif. Bagi Men Coblong, beragam larangan dari Tuniang adalah tantangan yang harus ditentang. Biasanya para perempuan asisten rumah tangga yang menjaga Men Coblong akan berbisik-bisik membujuk gadis itu agar tidak melakukan hal-hal yang membahayakan tubuh mungilnya. Tapi beragam rayuan dan kata-kata manis dari para wang jero itu tidak ada yang menempel di kuping Men Coblong.

Guru olahraga di sekolah Men Coblong juga penuh pengertian. Kalau dipikir-pikir, lelaki yang baru tamat dari Sekolah Guru Olahraga di Denpasar itu sangat sadar dia membimbing anak SMP. Konon anak-anak di SMP-nya manja-manja dan banyak tingkah. Aslinya tidak juga, sih. Mereka mandiri. Mereka belajar keras untuk mendapatkan nilai apik.

Men Coblong menyukai guru olahraganya yang baru karena orangnya sabar. Lelaki muda itu tidak pernah marah. Dia juga kalem saja melihat anak-anak lelaki sering sengaja tidak menjatuhkan tubuh di kasur senam, tapi malah berdiri tegak di kuda pelana.

Kuda pelana itu berisi busa sehingga tidak terlalu keras. Nyaman digunakan. Kasur senamnya juga empuk. Tidak bikin sakit pinggang.

Bagi siswa SMP terbaik di Denpasar itu, pelajaran olahraga benar-benar terasa seperti piknik. Habis olahraga, acara bebas. Siswa tidak disuruh belajar di kelas. Bebas nongkrong di kantin.

Kalau saja Tuniang tahu betapa baik dan menyenangkan guru olahraga muda itu, Tuniang pasti akan jatuh cinta. Anak-anak perempuan di kelas Men Coblong juga banyak yang naksir guru muda itu. Kumisnya seksi, kata mereka.           

Masa remaja adalah masa yang penuh pertanyaan. Masa seorang gadis kecil berangkat menjelma jadi perempuan. Masa menuju kehidupan yang penuh onak, riak, dan dahak. Kehidupan yang membuat kita sering tersedak.

Jika direnungkan, kehidupan ini sungguh ajaib. Tidak mudah, kadang tidak banyak pilihan, tapi harus terus dilanjutkan. Perjalanan waktu tidak bisa ditunda. Kita harus terus maju, suka atau tidak suka.

Menengok ke belakang tentu boleh. Asal jangan sering-sering. Jika keseringan, bisa-bisa kita masuk jurang. Kita harus lebih banyak menatap ke depan. Memikirkan strategi agar perjalanan hidup tidak menjadi sekedar beban berat. Bukankah problem itu spirit hidup? Adanya masalah menandakan kita masih ada. Masih hidup.           

Men Coblong membisu terkenang masa lalu. Masih terbayang bau tubuh sahabatnya.

Setelah memiliki anak dan menjadi pejabat penting daerah, sahabat Men Coblong itu tidak berubah. Men Coblong sering nongkrong ngopi-ngopi dengan dia sambil menunggu anak pulang sekolah.

Tidak ada yang berbeda pada sahabatnya itu. Dia tetap tambun. Tetap berpipi bakpao. Tetap modis dengan tubuh besarnya yang dibungkus seragam ASN. Kulitnya yang kuning terlihat bercahaya. Senyumnya yang ramah dan menabur kebahagiaan ke orang-orang sekitar tetap menjadi jenama yang bertahan. Bahkan dalam kenangan.

Sahabat Men Coblong pergi seusai tumbang dalam perang melawan Covid. Men Coblong tak bisa mengantar kepergiannya. Tak bisa menyentuhnya untuk terakhir kali. Tak bisa datang ke pemakamannya. Tak bisa melihat jasadnya yang terbujur kaku.

Pagebluk selama dua tahun lebih telah memangkas banyak sahabat Men Coblong. Entah sampai kapan. Entah kapan berakhirnya teror ini.           

“Ada tambahan lain, Bu?”

Suara Mbak Tukang Sayur membuyarkan kenangan Men Coblong.

“Saya bawa timun kesukaan Ibu. Timun kecil-kecil. Enak untuk lalapan. Selada juga ada. Oh iya, hampir lupa. Saya juga bawa oleh-oleh terasi dari kampung.”

Diulurkannya seujung jempol terasi yang dibungkus daun pisang kering. Baunya harum menggiurkan. Mantap untuk bikin sambal khas Jawa.

“Terasi ini buatan kakak perempuan saya di kampung. Enak, lo, Bu. Pasti Ibu suka. Kalau cocok, nanti Ibu bisa pesan. Terasi ini cukup disangrai saja. Tidak perlu digoreng pakai minyak. Mana harga minyak goreng tidak turun-turun. Rakyat kecil seperti saya bisa apa? Tapi kalau kita mau usaha, pasti tetap bisa hidup. Bisa makan. Rakyat kecil kayak saya ini tidak bisa korupsi. Mau ngorupsi apa? Orang-orang pintar yang makan dari pajak kita juga tidak becus. Ngurus minyak goreng tidak bisa. Ngurus kedelai tidak bisa. Ngurus apa-apa tidak beres. Terus kerja mereka itu apa? Buat apa mereka dibayar negara mahal-mahal?”

Mbak Tukang Sayur nyerocos. Membandingkan para menteri dan pejabat dengan dirinya.

Men Coblong terseyum miris. Kalau saja orang-orang “terhormat” yang makan dan mendapat banyak fasilitas dari pajak rakyat mendengar keluhan orang kecil macam Mbak Tukang Sayur, apa mereka tidak malu? Apa mereka masih bisa enak makan? Masih bisa santai-santai menerima beragam tunjangan? Masih bisa piknik-piknik dan senang-senang ke luar negeri tanpa beban? Tapi… apa mereka masih punya malu? Masih punya harga diri?           

“Pejabat yang korupsi kok santai saja, ya, Bu? Malah bangga posting-posting di medsos. Tidak takut ditangkap. Hartanya tetap banyak. Kekayaannya tidak dirampas seperti penjual pesugihan zaman now yang bikin trading-tradingan opsi biner, robot trading atau apalah itu. Harta koruptor tidak tersentuh. Keluar penjara, mereka tetap sejahtera. Harusnya koruptor diperlakukan kayak orang-orang yang katanya jadi penipu ala zaman now itu, ya, Bu. Biar tahu rasa. Kuras hartanya. Bekukan rekeningnya. Sita semua asetnya. Harusnya dimiskinkan, gitu lo. Biar kapok.”

Men Coblong hanya diam. Matanya melayang ke rengginang dan terasi kampung oleh-oleh si Mbak.

Denpasar, 28 Maret 2022

OKA RUSMINI

Sastrawan

One thought on “TAMBAR

  • 24 April 2022 pada 05:42
    Permalink

    Setuju dengan pemikiran mba tukang sayur. Hukuman koruptor harusnya dibuat maksimal supaya ada efek jera.
    Belakangan kalau nonton berita tentang pejabat korupsi jadi kayak sinetron mereka ndak pernah dapat peran sad ending.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.