SYDNEY | cerita Ade Mulyono

Nanti malam hari ulang tahunku akan dirayakan. Sungguh aku mulai muak, membayangkannya saja sudah bergidik. Mengingat akan bertambah banyak saja orang yang akan menyiksa batinku dengan pertanyaan dangkal: “Kapan akan menikah?”

Pertanyaan dangkal semacam itu menjadi lazim di Republik ini yang sudah diwariskan turun-temurun, bahkan sebelum Republik ada. Akhirnya menjadi pembenaran menurut pandang umum, di usiaku yang sekarang ini, seharusnya aku sudah mempunyai dua anak. Bukan aku tidak ingin menikah, tapi menikah ialah urusan personal. Rahasia di dalam kotak kecil yang di simpan di saku pakaian—di dalam lemari kamar—yang pintunya terkunci. Sedemikian rahasianya tetapi Republik—civil comunity—selalu ingin mengintipnya.

Misalnya saja, kapan dan dengan siapa aku akan menikah? Itu menjadi urusanku. Rahasiaku. Terlebih urusan menikah bagiku itu hak asasi—begitu pun mereka yang memilih untuk melajang. Sayangnya eksistensi tindakan manusia selalu dibatalkan oleh kehendak umum. Dari situ aku tahu, ruang publik kita dikepung bahasa teologi. Percakapan kita sebagai manusia dipersempit oleh unit-unit kebudayaan yang isinya hanya anjuran dan anjuran; komat-komit moral dan khotbah belaka.

Itu sebabnya sejak lulus kuliah aku mulai benci perayaan ulang tahun yang dibuat oleh keluarga. Sebab, kebiasaan orang-tuaku ialah meloloskan bisikan para Sengkuni. Menyodorkan seorang pemuda lajang dengan harapan ada kecocokan dan terbitlah cinta, ringkasnya menikah. Betapa pragmatisnya keluargaku menafsirkan cinta. Cinta selalu disinonimkan dengan pernikahan. Maklum keluargaku oportunis. Layaknya pedagang yang memandang segala sesuatunya dengan menimbang untung dan ruginya. Bagiku cinta bukan untuk di-kapitalisasi.

Begitulah watak orang tua yang kapitalistik. Selalu menghitung untung dan ruginya saat akan menikahkan anaknya. Maksudnya dilihat siapa calonnya: bibit-bobotnya. Apakah anak orang kaya, pekerjaannya apa, bagaimana kedudukan sosialnya, apakah bisa menginvestasikan masa depan dengan garansi kebahagiaan yang tolok ukurannya ialah materiil. Celakanya, hal itu diaminkan oleh perempuan pada umumnya, bahwa kepastian dalam cinta ialah pernikahan. Entah dari mana definisi itu dicomot? Andai Cassanova masih hidup jelas pencetus gerakan petualang cinta ini akan mengamuk sebelum menyemprot masyarakat: pernikahan adalah kuburan bagi cinta!

Bila diancam dengan pisau pertanyaan pragmatis semacam itu yang sedikit pun tidak membuatku takut, maka seperti orang baru bangun tidur aku hanya menguap, “Aku belum ingin menikah, Mama.”

“Kamu sudah berumur. Sudah saatnya untuk menikah. Jika kamu sudah punya suami, hati Mama akan tenang.” Begitulah argumentasi Mamaku yang membosankan. Jika sudah berdebat mengenai pernikahan, aku lebih memilih melarikan diri masuk dalam kamar. Melihat tingkahku, Mama hanya memerahi daun pintu kamarku.

Aku jadi teringat dongeng Sutan Takdir Alisjahbana: Layar Terkembang. Bagi kebanyakan orang tua yang mempunyai anak gadis, pernikahan berarti melepas tanggung jawab orang tua. Paling tidak jatah makan, pakaian, dan hal lainnya bukan lagi menjadi tanggungan orang tua. Seharusnya hal semacam itu dicarikan solusinya. Sungguh menyedihkan hidup perempuan. Ada alasan afeksi ekonomis yang diselundupkan atas nama ketertiban, norma, sosial, dan kebudayaan.

Namun, Mama tidak pernah putus asa. Pelbagai cara dilakukan. Sedikitnya sudah empat kali Mama memberi kejutan di setiap ulang tahunku itu. Yang terakhir dengan memperkenalkan anak teman arisannya bernama Zainal. Seorang penulis, ia hangat dan menyenangkan. Aku sudah mencoba untuk mengalahkan diriku sendiri. Mencoba untuk menjaga api cinta yang ia nyalakan di hatiku. Bahkan hal yang paling radikal: merespons sergapan bibirnya. Percuma: sia-sia.

Hidungnya yang mancung dan matanya yang lebar tak sanggup membangkitkan api berahiku. Mungkin hatiku yang kecil tidak cukup luas untuk menampung nafsunya yang liar.

“Kau cantik sekali, Mawar. Kau laksana bidadari yang diturunkan ke bumi untuk menguji iman seorang lelaki,” kalimat itu meluncur deras dari bibirnya—laksana anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat menghunjam jantung hatiku.

“Ah, lelaki di mana saja sama, pandai berdusta.”

“Mungkin itu setengah benar. Tapi kamu melupakan satu hal.”

“Apa itu?”

“Tuhan mengampuni dosa hamba-Nya yang sedang jatuh cinta.”

Waktu itu aku diam saja. Aku tak dapat membalasnya. Baru kali ini aku berhadapan dengan seorang pujangga. Ia ingin sekali mempunyai seorang pendamping. Maklum usianya sudah melampaui usiaku tiga tahun. Malam itu pukul dua pagi lebih sedikit, ia menyelimuti tubuhku yang sudah tak dibungkus gaun berwarna hitam kesayanganku. Ia mengerti bahwa tak ada tak gelora di dalam diriku. Paling tidak, menyelesaikan hubungan cinta yang sunyi dan sembunyi.

Setelah aku dan Zainal saling diam tanpa pakaian, serta gagal menuntaskan manifesto cinta yang radikal, akhirnya kuceritakan masalahku. Awalnya ia terkejut hingga mengunci bibirnya dan membiarkan mataku menatap punggungnya. Syukurlah setelah beberapa saat akhirnya ia mengerti. Mula-mula ia menyelimuti tubuhku dan dengan ramah mulai mendengarkan masalahku.

“Ah, orang-tuaku bisa mati mendadak bila kuceritakan. Kita tahu negara tidak memfasilitasi cinta yang partikular. Negara tak punya pengalaman akan hal itu,” jawabku setelah disarankan Zainal untuk berterus-terang pada orang-tuaku. Jujur aku tidak menyukai saran Zainal, mengingat akulah tuan bagi tubuhku. Bukan negara ataupun keluarga. Biarpun kucumbu sendiri tubuhku, maka itu adalah hak prerogatifku.

“Ya, aku mengerti itu, namun kamu juga tahu jikalau negara selalu ingin mengintip dengan siapa kamu tidur di ranjang.”

“Sejak kapan negara menghukum moral?”

“Sejak agama menjadi polisi di muka bumi. Kalau begitu, bagaimana seandainya kisahmu aku jadikan novel saja. Kisahmu bukan cerita cinta yang biasa. Setelah tiga bulan terbit, semua orang akan mengutukku dan federasi-federasi agama akan langsung mengeluarkan fatwa,” timpal Zainal sambil mengelus rambutku. Mendengar itu aku langsung menjawab, “Kafir”. Kami pun tertawa terbahak-bahak.

***

Seperti keong, waktu berjalan begitu lambat. Pukul sembilan malam, aku memutuskan keluar kamar setelah seharian bertapa, kecuali hanya sarapan udara yang masuk kamar dari balik hordeng dan menenggak khayalan bersama kekasihku sepuas-puasnya sebelum masuk angin oleh kesepian yang bersekutu dengan kesedihan.

Seperti malam tahun lalu, di mana setiap tamu yang datang akan memberikan ucapan selamat sesaat setelah dengan muka masam kutiup lilin yang berjumlah 25.

“Selamat ulang tahun, Mawar, semoga bahagia selalu,” kata temanku.

“Ya. Terima kasih,” jawabku pendek. Begitulah seterusnya percakapan basa-basi seperti acara talk show politisi yang bibirnya dipenuhi bunga, sementara duri bersemayam di hatinya.

Kini giliran orang-tuaku dengan menambahkan jampi-jampi yang membuat dadaku sesak seperti ditonjok: “Selamat ulang tahun, anakku sayang. Semoga lekas dapat jodoh dan berikan Mama cucu yang banyak. “Begitu juga Papa, sama harapannya dengan Mamamu.” Begitu kompaknya orang-tuaku menganiaya anak gadisnya.

Tiba-tiba seorang lelaki kurus menyeruak dari kerumunan, muncul di hadapan keningku sambil mengulurkan tangannya, “Kenalkan, namaku Boy. Selamat ulang tahun.”

“Mawar. Terima kasih,” balasku acuh.

“Mawar, ini Boy Sidharta yang tempo hari Mama ceritakan,” bisik Mama yang berdiri sebelahku. “Silakan mengobrol, Mama tinggal dulu,” ujarnya lagi sebelum berlalu dari kejaran mataku.

Hampir satu jam aku bersama pemuda aneh ini. Entah Mama menemukan makhluk ini di belahan bumi mana. Tak ada yang dapat kunikmati dari dirinya, entah bahasanya maupun penampilannya. Dari tadi kami membicarakan hal yang tak jelas pangkal ujungnya. Ia banyak tak tahu. Pengetahuannya dangkal. Barangkali antara bumi dan langit jika harus aku bandingkan dengan Zainal.

Setelah kakiku tiba di halaman rumah dan mataku menemukan bintang-bintang. Kemudian kuputuskan duduk di kursi halaman. Belum sempat aku menikmati kursi yang terbuat dari bambu ini, tiba-tiba seseorang menutup mataku dari belakang sambil berbisik di telingaku: “Setiap detik yang berlalu tanpamu akan menjadi sekuntum rindu untukku.”

Aku tak asing dengan suaranya. Kata yang dulu setiap hari kudengar. Sebelum akhirnya Mama melarangku bergaul dengannya. Tentu karena alasan yang berlebihan: takut tertular pikirannya untuk tidak menikah. Waktu itu kami kepergok mengunjungi komunitas pelangi.

Setelah melepaskan tangannya, dengan cepat aku berteriak, “An….” Belum selesai kusebut namanya, bibirku sudah ditutup dengan bibirnya. Aku langsung memeluknya erat. “Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Kemudian dengan cepat aku membimbing tangannya menjauh dari keramaian. Juga meninggalkan lelaki aneh yang dari tadi bengong melihat apa yang baru saja kulakukan.

“Mau ke mana, Mawar?” tanya Boy si manusia aneh.

“Bukan urusanmu!” bentakku.

“Selamat ulang tahun, sayang, kamu tambah cantik saja. Karena kamu membawaku ke tempat yang sepi seperti ini, sungguh aku ingin memperkosamu,” katanya dengan tingkah yang genit.

“Bahkan aku akan menyerahkan diriku sebelum kau memintanya,” balasku dan ia hanya tertawa kecil. “Aku tidak percaya kamu akan datang.”

Sambil memegang tanganku, ia berujar, “Kekasihku. Andai saja hal yang kuingin adalah perihal yang mungkin. Aku akan menikahimu. Ah, ingin sekali aku menjadi manusia yang bisa melihatmu paling pagi. Maafkan aku baru kali ini bisa hadir di hari bahagiamu. Tentu tidak perlu kujelaskan alasannya.”

“Hari bahagia, katamu. Ini hari yang menjengkelkan. Tanpamu, orang lain adalah neraka. Tunggu, sepertinya ada yang aneh, sejak kapan kekasihku menjadi penyair?”

“Penyair?”

“Ya.”

“Hahaha… Tentu sejak Zainal bersajak tentangmu.”

Aku kaget bukan main ketika nama Zainal dikecupkan dari bibirnya yang merah bagai belahan dilema itu. Apakah Zainal menceritakan kejadian malam itu? Aku diam sesaat. Wajahku mulai berembun: panas-dingin. “Bagaimana ceritanya bisa mengenal Zainal?” tanyaku dalam hati menyelidiki.

“Tenang, sayang. Dia kemarin mendatangiku dan menceritakan persoalanmu. Dia lelaki yang baik. Dia juga hendak membantu kita. Tapi maaf, sayang, aku tak bisa berlama-lama di sini. Aku harus segera pulang. Aku khawatir tamu istimewa Mamamu akan mengetahui hubungan kita. Sekali lagi, selamat ulang tahun, kekasihku. Aku hanya ingin mengucapkan itu langsung di hadapanmu. Keberanianku akan dibayar mahal jika sampai Mamamu tahu aku hadir di sini.”

“Tidak. Ceritakan dulu apa yang kamu bicarakan dengan Zainal.”

“Lain waktu. Atau nanti sesudah sampai di rumah, aku akan menghubungimu.”

Sebelum ia pergi, aku menarik lengannya dan lekas memeluknya. “Nikahi aku. Mohon dengan sangat,” pintaku sambil tak kuasa menahan tangis.

“Tentu. Aku akan menikahimu. Tapi ini Jakarta, bukan Sydney.”

Mendengar itu aku diam. Ketegaranku mulai runtuh.

“Kenapa Jakarta begitu tertinggal dalam peradaban? Kenapa para filsuf tidak dilahirkan saja di Jakarta?”

“Tenangkan hatimu. Cinta tidak pernah kalah. Baiklah akan kuceritakan. Tahun ini aku melanjutkan kuliahku di Australia. Sebaiknya kamu melakukan hal yang sama. Lanjutkan kuliahmu, minta izin ke Mamamu untuk study di Australia. Janjikan padanya bahwa kamu akan pulang dengan membawa cucu untuk Mamamu.”

Mendengar itu, aku berpikir keras.

“Inilah saran dari Zainal. Inilah yang aku bicarakan dengan Zainal,” ujarnya lagi.

“Maksudnya?” tanyaku minta penegasan.

“Kamu bodoh apa pura-pura bodoh. Zainal akan menjadi suamimu, setelah itu akan membawamu ke Sydney. Di sanalah kita akan selalu bersama. Kita akan menikah di Sydney.”

Aku hanya menangis mendengar saran itu. Dia tidak tahu bagaimana tubuhku dengan sendirinya menolak tubuh Zainal.

“Ini demi cinta kita. Inilah harga yang harus ditebus demi kebahagiaan kita, Mawar.”

“Aku tidak bisa. Sungguh aku tidak bisa.”

“Dasar bodoh. Pernikahanmu dengan Zainal hanya sandiwara. Tentu aku juga tidak rela kekasihku diserahkan pada orang lain untuk dihirup bunga cintanya.”

Mendengar hal itu, hatiku sangat lega. Aku pun tersipu dan menundukkan pandanganku.

“Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku akan menyiapkan semuanya sebelum ke Sidney.” Sebelum ia masuk ke dalam mobil, aku pun memburunya. Memeluknya untuk sekali lagi.

“Aku sangat mencintaimu, Mawar,” bisiknya di telingaku. Seperti nada-nada indah yang keluar dari seruling untuk mengiringi lagu cinta.

“Begitu juga diriku sangat mencintaimu, Ani,” balasku lirih sambil perlahan melepaskan pelukannya.

Aku merasakan detak jantungnya yang bersembunyi di balik buah dadanya yang mulai kencang. Sama persis yang sedang kurasakan.

Ade Mulyono lahir di Tegal. Menulis fiksi dan nonfiksi. Sedangkan menyiapkan novel keduanya, “Namaku Bunga”.

Gambar Utama: Foto Sharon McCutcheon di Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *