CandikataEsaiSastra

SURAT CINTA SITA UNTUK SANG RAMA

oleh LUH YESI CANDRIKA

Nestapa Dewi Sita

Dewi Sita [Janaki, Sri Janaki, Maha Satya Dewi, Janakasuta, Janakaputri, Dewi Maithili, Sang Maithili] disebutkan dengan banyak penamaan oleh pengarang dalam Kakawin Ramayana. Kata Śitā (Skt) berarti isteri Rama (Zoetmulder, 1995: 1105), hadir sebagai tokoh perempuan dan istri yang ideal yang memiliki keluhuran budi dan menjalankan ajaran patibrata (Skt patiwrata), yaitu kesetiaan atau kebaktian kepada suami. Namun, kebahagiaan putri Janaki tersebut mulai hilang, saat Rahwana yang jatuh hati padanya berusaha meraih cinta Dewi Sita dengan membawanya ke Lengka Pura.

Tepat di sebelah timur Puri Lengka terdapat taman yang begitu indah, sangat luas, dan banyak pohon bunganya. Bunga Angsoka tumbuh begitu banyak di tempat tersebut dan bermekaran sangat indah sehingga taman tersebut disebut dengan Taman Angsoka.

Keindahan taman tersebut tidak terhenti pada mekarnya bunga dan semerbak wangi bunga, tetapi Hyang Ratih juga membawa janji maya karena perintah Sang Maharaja Rahwana, bahwa di tempat tersebut tidak akan pernah ada paro gelap bulan mati, tetapi selalu purnama, atau di taman tersebut selalu terang-benderang. Selain itu, keindahan taman Angsoka juga tersohor karena di taman tersebut terdapat permata Candrakānta (Skt) atau batu bulan atau permata yang dibentuk dari pembekuan sinar bulan yang larut karena pengaruh sinarnya (Zoetmulder, 1995: 158).

Konon orang yang diam di taman tersebut tidak akan terkena susah. Namun, di taman inilah Dewi Sita dijaga ketat, seorang diri dalam duka nestapa karena dikurung, sangat sedih, rindu, bingung, termenung, hanya raksasa wanita yang banyak, beliau tidak punya pelayan manusia (Dewi Sita ngka tamolah tininggu, aikakya nghing kasyasih yar kinungkung, meneh moneng mona masa sasoka, anghing wwil kweh tar parowang sira wwang).

Duka nestapa Dewi Sita yang begitu dalam dirasakan pula oleh segala hal yang berada di sekitarnya. Saat Dewi Sita menangis semalam suntuk, batu permata candrakanta seolah menetes mengalir tak henti-hentinya. Begitu pula dengan bunga-bunga yang dirontokkan angin menangis berguling-guling di tanah. Burung-burung pun berusaha bernyanyi untuk menghibur Dewi Sita.

Kesedihan Dewi Sita mulai luruh saat ia bertemu dengan Hanuman, putra Bayu. Cincin yang diberikan oleh Sri Rama adalah sebagai bukti kebenaran bahwa Hanuman adalah utusan Sang Rama. Melihat hal tersebut, Dewi Sita merasa sangat yakin kepada Hanuman dan memberikan cudamani dan sebuah surat untuk diserahkan kepada Sang Rama, sebagai ungkapan rasa kesedihan dan kerinduan yang mendalam kepada Sang Rama. Kesedihan yang ditimbulkan oleh rasa rindu yang dalam dan tertuang dalam kata-kata menjadi menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Tulisan atau Aksara artinya tidak termusnahkan, merupakan simbol atau lambang dari bahasa. Berdasarkan peranannya, aksara memiliki kemampuan yang tidak terbatas untuk memindahkan akal dan pikiran manusia. Tulisan sering kali menjadi media penghubung sekaligus mencatat kedalaman rasa, peristiwa dan nilai-nilai hidup sesuai dengan perjalanan waktu. Maka, menulis surat dipilih Sita sebagai perantara untuk mengungkapkan rasa rindu sekaligus cintanya pada Rama sang kekasih hati.

Hanuman: Duta yang Terpuji

Sebelum membahas isi surat yang diberikan Sita kepada Rama, menarik pula untuk membahas peran Hanuman sebagai utusan sekaligus penyambung pesan antara Dewi Sita dengan Sang Rama. Sebagai putra Bayu yang dianugerahi kesaktian dapat memindahkan gunung, Sang Hanuman memiliki sikap yang patut diteladani sebagai seorang duta.

Saat ia melihat raksasa-raksasa yang sedang tidur usai berfoya-foya dan mabuk-mabukan, sempat terbersit dalam pikiran Sang Hanuman untuk membunuh para raksasa tersebut (nyang wwil nidrawas ya matyeki dengku). Namun, hal itu tidak ia lakukan karena ia ingat pada tugas utamanya atau tujuan pokok (ndan wyarthekapan ya tan mukya ning don), yaitu sebagai utusan atau duta dari Sang Mahamulia (Sang Rama).

Hanuman memiliki kesadaran untuk tidak dikuasai oleh ego dan kemarahannya karena tujuan utamanya adalah untuk menemui Dewi Sita (anghing dewi mukya tapwan kapangguh). Tujuan pokok sebagai seorang duta senantiasa diupayakan oleh Hanuman. Perannya tidak mudah karena musuh pertama yang coba ditaklukkan oleh Hanuman adalah kemarahan (kroda) dan kebingungan diri (moha).

Selanjutnya, saat bertemu dengan Sita, ia pun sempat diragukan kebenarannya sebagai seorang utusan Sang Rama. Sita pun sempat menaruh curiga di dalam hati karena Sita sering kali berusaha dibohongi oleh sihir dari Rahwana dan para raksasa yang berusaha membujuk rayunya. Namun, Hanuman yang hadir sebagai seorang utusan (umaso ta sang pinaka duta Maruti), justru hadir pertama kali di hadapan Sri Janaki dengan perilaku yang sangat santun. Ia menundukkan kepalanya seraya memberi hormat dan menyembah Sang Dewi (pranatar panembah asilawarah sira).

Selanjutnya, Hanuman menunjukkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan meyakinkan lawan bicaranya. Pertama-tama Hanuman menjelaskan tentang perjalannnya menuju Lengka Pura yang begitu sulit dan melalui berbagai hambatan. Selain itu, ia juga menjelaskan tentang keberadaan Rama yang teramat sedih karena memikirkan Dewi Sita karena teramat rindu, badannya pun menjadi teramat kurus (glana kingking mangen dewi, wet ning uneng sirakuru).

Demikian penjelasan Sang Hanuman sehingga membuat Dewi Sita terheran-heran, kemudian Dewi Sita menjadi yakin pada Hanuman. Dewi Sita kemudian menyerahkan cudamani (cudamaningku ya teki, wehakna ri Sang Rama) dan sebuah surat (lawan ta rekangku waneh), untuk diserahkan kepada Sang Rama. Hanuman pun menuai pujian.

Nihan pinuji ning dūta, ikang tuměmwa ri donya,
améta yasā yaśa nya, anung tang adbhuta cihnā.
           
Terjemahan:
Begini seharusnya seorang duta yang terpuji, yang telah berhasil menunaikan tugasnya. Sudah sepantasnya mengusahakan sesuatu yang terpuji, yang berwujud suatu ciri yang menakjubkan.

Demikianlah sosok Hanuman sebagai seorang utusan yang mengemban tugas dan tanggung jawabnya. Pengetahuan tentang mengendalikan pikiran (manah), pengetahuan tentang perbuatan atau etika (kaya), dan pengetahuan tentang kemampuan berbicara atau berkomunikasi yang baik (wak) adalah tiga hal yang hendaknya dimiliki oleh seorang duta atau utusan dari seorang pemimpin. Konsep ini dalam ajaran agama Hindu dikenal dengan Tri Kaya (tiga sumber perbuatan) yang terdiri dari kaya, wak, lan manah (Dharma Palguna, 2008: 49).

Isi Surat Cinta Sita untuk Sang Rama

Surat tulisan tangan Dewi Sita dengan segera dihaturkan Hanuman kepada Sang Rama. Surat tersebut memberikan kegembiraan yang luar biasa pada diri Rama. Kemudian dengan segera dibukanya surat yang indah itu.

Dalam Kakawin Ramayana, bagian bait-bait surat Sita untuk Sang Rama termuat dalam teks kakawin bagian I, Sargah XI, dengan menggunakan Wirama Sardula Wikridita yang berjumlah sebelas bait. Secara umum, surat Sita kepada Sang Rama ini menggambarkan tentang kesedihan hati Sri Janaki yang begitu dalam karena dilanda rasa rindu kepada Sang Rama.

Sardula Wikridita

       1. Sěmbah ni nghulun āryya putra ya těkě pādadwayan ta prabhu,
nyéking réka wacān uni nya ya iko cihna nyuněng ni nghulun,
mwang cūḍāmaņi tulya ni nghulun iké mangsö suměmbah kita,
nyāng simsim pakirim naréndra ya ikā sparśan ta tékak hiḍěp.
 
Terjemahan:
Sembahku, Oh Rajaputra! Kini datang menghadap Tuanku. Silakan baca surat ini, yang isinya merupakan rasa rindu dendamku. Dan permata cudamani sebagai diri saya datang menghadap sembah kepadamu. Itu cincin yang Kakanda kirimkan kepada Adinda sebagai pelukanmu.
 
 
       2. Yak ton yāta makūng manah ku mangarang bhrāntā patak ton kita,
āh Śri Bhūpati Rāmadéwa huningantéki tangis ni nghulun,
mwang bhaktingku magöng taman hana wanéh iṣṭingku tan lén kita,
anghing sang prabhu nitya kéwala siwinkwé sapta janmāntara.
 
Terjemahan:
Ketika Adinda melihat itu, kian rindu hatiku, sedih dan bingung karena tidak melihat Kakanda. Oh, Kakanda Prabu Ramadewa, dengarkanlah tangis Adinda ini! Dan rasa hormat Adinda yang sangat besar tiada lain Adinda tujukan hanya untukmu. Hanya Kakanda Prabulah yang selalu Adinda puja sampai ke tujuh kali penjelmaanku.
 
       3. Ngūni tan karěngö huripta kalawan wrěttanta tātan hana,
anghing matya taman wanéh angěn-angěn niskāryya tākun hana,
nāhan Sang Hyang Apuy gunung tasik asing mārggā niking jīwita,
hīnganyān patualang manah ku malilang nistrěṣņa wétning lara.
 
Terjemahan:
Dahulu ketika Adinda tidak mendengar berita tentang kehidupan Kakanda, tiada lain hanya mati yang kupikirkan karena tidak ada makna hidup ini. Dewa api, gunung, laut, dan semua yang merupakan jalan mati. Pendeknya saya telah berketetapan hati ikhlas tanpa nafsu untuk hidup akibat penderitaan.
 
       4. Sakwéh ning maraséng dangū ya rinasan tātan hanānganrasé,
kěmbang bāp hana ring taman taman ikā tāmbānyuněng ni nghulun,
sakwéh ning karěngö manohara lawan sakwéh nikang srak marūm,
yékān wyartha hana nya nirguņa kabéh wway tan pasuk ring gulū.
 
Terjemahan:
Segala yang enak-enak dahulu itu kini kurasakan tidak enak. Bunga yang memenuhi taman, bukan itu obat sakit rinduku. Segala yang terdengar merdu dan semua yang harum semerbak, semuanya itu tidak berguna adanya, air tidak dapat masuk ke dalam kerongkongan.
 
       5. Lawān haywa naréndra mālara dahat wéhěn wiśuddhāng manah,
sāmpun tāku wěruh rikeéng lara magöng niskāryya tātan padon,
sugyan dudwa kuněng ikéngangěn-angěn tan dadya dé sang prabhu,
nahan hětu niké matang nya kwarah swasthā jayā bhūpati.
 
Terjemahan:
Dan lagi, jangan Kakanda Prabu telalu bersedih hati, sucikanlah pikiran. Adinda telah maklum bahwa penderitaan yang berat itu sia-sia tak bermanfaat. Mungkin pikiran itu salah, jangan hendaknya Kanda Prabu turuti. Itulah sebabnya adinda mengingatkan semoga Kakanda selamat dan jaya.
 
       6. Lawān haywa katangguhan kita rikā ta lwir ta ngūnīn ḍaray,
kālan tād winarang naréndra mahulun kālih sukāmbék nira,
salwir ning [ng] upabhoga yogya ya pawéh tātan kurang ring suka,
ring krīdhā wihikan kitésawinuwus ring kāma śāstrottama.
 
Terjemahan:
Dan jangan Kakanda teringat dengan masa lalu ketika masih jejaka. Pada waktu Kakanda dikawinkan dengan Adinda, ayah kita berdua sangat gembira ria. Segala yang menyenangkan hati yang baik-baik itu diberikan, tidak ada yang tidak menyenangkan. Dalam hal bersanggama sangat pandai sesuai dengan petunjuk bermain asmara yang utama.
 
       7. Ring [ng] Indrāņi lawan śacī tama tuwin tātan mapunggung kita,
ri pratyéka niké rasa nya ya kabéh sāmpun kita wruh rikā,
nāhan téki duméh manahku kalaran śīrnnān těñuh tang hati,
āpan tan hana lén padhanta rikanang jñānādi lāwan guna.
 
Terjemahan:
Kakanda juga telah menguasai ajaran Indrani dan Saci dengan baik. Tentang bagian-bagiannya dan intinya, semua telah Kakanda ketahui. Itulah yang menyebabkan pikiran Adinda sakit dan remuk redam. Karena tidak ada yang menyamai Kakanda dalam hal keluhuran ilmu dan keahlian.
 
       8. Ndan prāptā ta naréndra haywa masuwé pöngpöng ni nghulun,
yéking Rāwana mūrkka tan [n] angěn-angěn dharmāwěrö yālupa,
haywopěk mangangěn [n] angěn basama tan siddhā sakāryyā haji,
pěngpöng śakti nikang prawīra kapi sakwéh nyādbhuténg paprangan.
 
Terjemahan:
Dan datanglah segera Kakanda Prabu saat Adinda masih hidup. Dia si Rawana  murka tidak memikirkan kebenaran, selalu mabuk lupa akan diri. Sangat sulit untuk berpikir andaikata tidak berhasil semua usaha Kanda Prabu. Manfaatkanlah kesaktian seluruh prajurit kera yang luar biasa itu di medan laga.
 
       9. Yadyan prāptā naréndra ri nghulun apā tékīn anung pangguhěn,
kasyāsih ku hanéng musuh kapilangö hétunya tag wruh huwus,
nghing kingking pasajingku tan hana wanéh kālih putěk ning hati,
lāwan luh juga timtiměn nahan iké cihnā nyuněng ni nghulun.
 
Terjemahan:
Jika Kanda Prabu datang padaku, apa gerangan yang akan Kanda temukan? Hanya kesengsaraanku, ada di tempat musuh, rindu dendam tidak dapat berkata apa-apa, tiada lain rindu dendam dan kekusutan hatilah yang Adinda persembahkan. Beserta air mata kupersembahkan sebagai tanda kerinduan!
 
      10. Tāmběh ning lumarénghulun hulun asing sangkā nikéng wédanā,
hétunyān mapasah pakon ku ginawé sangké ryyasihté nghulun,
yapwan pangguha sang naréndra umuwah tan mangkanātah waluy,
solah ning kahulun nghuluñ juga hulun yékā gěgön ku hulun.
 
Terjemahan:
Tambahan lagi yang menyakitkan hati Adinda, karena Adindalah yang menjadi sumber penyebab penderitaan ini. Yang menyebabkan berpisah karena Kanda memenuhi permintaanku dengan penuh kasih sayang. Jika Adinda dapat bertemu kembali dengan Kakanda Prabu, tidak akan demikian lagi. Semua kewajibanku sebagai abdi mengabdikan diri itulah akan kupegang sebagai abdi.
 
      11. Sāsing sājña naréndara yéka pituhun sojar ta tak langghana,
nāhan prārthapa ni nguluh taya wanéh sangkā ri göng ning rěņa,
yawan tan wulati nghulun apa kuněng līngang kwa tag wruh huwus,
nā hétu nya těkā naréndra huwusěn sangkā ryyuněng ni nghulun.
 
Terjemahan:
Segera titah Kakanda Prabu akan Dinda laksanakan dan semua yang Kakanda katakan tidak akan Dinda langgar. Demikian kaul Dinda tiada lain karena besarnya hutang budiku. Jika Kanda tidak datang melihatku, tidak tahulah Dinda yang harus dikatakan. Itu sebabnya segeralah Kanda Prabu datang karena Dinda sangat rindu.

Mengacu pada isi surat Sita kepada Rama di atas, dapat diuraikan sebagai berikut: (1) Dewi Sita menjelaskan tentang cudamani miliknya sebagai perwujudan dirinya yang hadir dihadapan Rama. Kemudian cincin pemberian Rama hadir seolah memeluk Dewi Sita; (2) kemudian, pada bagian bait selanjutnya, Dewi Sita menunjukkan rasa hormatnya pada Rama, mencurahkan kesedihan hatinya, dan membuat pernyataan akan kesetiaannya hingga tujuh kali penjelmaannya akan senantiasa memuja Sang Rama. Setelah itu, (3) Dewi Sita mengungkapkan bahwa Sang Rama adalah hidup dan kehidupannya sehingga tanpa artilah hidupnya di dunia tanpa kehadiran Sang Rama dan itu semua tiada bedanya dengan sebuah penderitaan.

Selanjutnya, (4) Dewi Sita menjelaskan bahwa tidak ada hal yang dapat menghibur kesedihan hatinya, makanan dan minuman pun terasa tidak nikmat; (5) pada bait ini, Dewi Sita menyampaikan pesan pada Rama agar tidak terlalu bersedih dan menyucikan pikirannya. Selain itu, Dewi Sita juga mendoakan Sang Rama agar senantiasa selamat dan jaya; (6) mengingatkan kenangan masa lalu saat mereka menikah dan memuji kepandaian Sang Rama bermain asmara.

Kemudian, (7) pada bait selanjutnya pula, Dewi Sita memuji kepandaian Rama dalam keluhuran ilmu dan berbagai  keahlian; (8) pada bagian ini, jelas Dewi Sita meminta Rama untuk segera menjemputnya dan bekerja sama dengan prajurit kera yang luar biasa; (9) Dewi Sita kembali menegaskan bahwa rasa rindu dendam yang bisa diungkapkan dalam surat tersebut layaknya air mata sebagai tanda kerinduan.

Berikutnya, (10) Dewi Sita mengungkapkan permintaan maaf karena telah menjadi sumber penderitaan serta berjanji akan menjadi abdi dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Rama; (11) pada bait akhir, Sita mengatakan itu semua adalah janjinya sebagai bentuk hutang budi, dan kembali di akhir surat, Dewi Sita meminta Rama untuk segera menjemputnya.

Demikianlah bunyi surat Sita yang membuat Sang Rama tidak berdaya untuk membacanya. Air mata Sang Rama pun bercucuran dengan deras sehingga menetes pada surat yang ditulis Dewi Sita dan membuat tulisannya menjadi kabur. Beliau pun kaget dan bertambah duka karena hal tersebut.

Apakah sesungguhnya sambungan surat Sita yang begitu lirih tersebut? Mungkin jawabannya ada pada perilaku Rama setelah bertemu kembali dengan Dewi Sita.

luh_yesi_candrika
LUH YESI CANDRIKA

Pemerhati sastra Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *