“SPACE IN BETWEEN”: LIVING IN GALLERY WITH WAYAN SUJA | esai Vincent Chandra

Puluhan bidang gambar segi empat, baik kanvas dan kertas dalam berbagai ukuran, mengisi dinding-dinding Komaneka Gallery sebagai bagian dari program Living in Gallery pada bulan Maret 2022. Program yang telah berjalan sebanyak 8 kali sejak bulan Desember lalu ini adalah semacam residensi singkat yang memberi tawaran (tantangan) kepada para seniman undangan untuk berproses, berkarya, sekaligus mengembangkan gagasan masing-masing di ruang galeri dalam kurun waktu tertentu. Pada sesi ke-9 ini, Komaneka Gallery diisi oleh pelukis I Wayan Suja yang dikenal lewat karya-karyanya yang hadir dalam kecenderungan realistik dan seringkali mengangkat isu-isu soal identitas diri dan sosial budaya sebagai tema utama kekaryaannya.

Merespons tawaran program ini, Wayan Suja mengemas gagasannya ke dalam konsep Space in Between(Ruang Antara). Tema dan konsep ini sendiri berangkat dari nama studio miliknya di Batubulan, yaitu Ruang Antara Studio. Kendati demikian, apa yang sebenarnya ingin ia perlihatkan dalam residensi ini tidak hanya berhenti pada menampilkan ‘proses kreatif’ hingga ‘karya utuh’ sama seperti halnya kerja-kerja di studio secara umum, di mana seniman adalah yang paling superior dalam proses penciptaannya. Wayan Suja merasa perlu menghadirkan sesuatu yang berbeda dan bermakna dalam program residensi ini, dan itu baginya adalah interaksi. Lebih jauh lagi, aktivitas interaksi kemudian dimaknai olehnya menjadi sebuah mekanisme kerja kreatif-kolaboratif di mana setiap orang (aktor-aktor) yang datang dilibatkan sebagai bagian penting dari proses terwujudnya karya.

Ini bukan kali pertama Suja melakukan kerja kolektif dan kolaborasi sebagai perpanjangan dari praktik seni dan konseptualnya. Bila kita tarik sedikit ke belakang, sekitar tahun 2002 Suja aktif dalam kelompok Klinik Seni Taxu dan menjadi organisator dalam berbagai program riset dan pameran bersama teman sekelompoknya, lalu pada tahun 2015 Suja juga aktif dalam gerakan masyarakat peduli lingkungan, hingga yang paling akhir pada tahun 2020 Suja bersama 3 seniman domisili Bandung, Yogyakarta dan China berkolaborasi secara virtual mengerjakan sebuah instalasi yang dipamerkan di Griya Santrian Gallery. Suja memang sudah terbiasa melibatkan dirinya secara sosial, kolektif, maupun kolaboratif dengan berbagai orang sehingga tampaknya bagi Suja, selain sebagai instrumen untuk menggali dan mengenali diri dalam-dalam, seni juga adalah sebuah peristiwa sosial yang memungkinkan interaksi dan pertukaran pengetahuan dapat terjadi. Begitulah Suja mendudukkan praktiknya kali ini dalam program Living in Gallery di Komaneka Gallery.

Lalu kolaborasi seperti apa yang terjadi di ruang galeri Komaneka?

suja
Wayan Suja berkarya di Komaneka

Suja menghabiskan waktunya berada di Komaneka Gallery selama kurang lebih 6 jam x 6 hari. Sejak hari pertama di Komaneka, Suja mengajak dua orang anaknya, Kadek Caesar (12 tahun) dan Komang Dimas (6 tahun), sebagai kolaborator dan menggambar bersamanya. Ternyata ide Suja tentang Space in Between ini juga ia dedikasikan untuk kedua anaknya yang gemar menggambar, yang sejak dulu, menurut Suja, sangat ingin ia ajak untuk berkolaborasi, hanya saja belum menemukan momen yang tepat. Baru di program inilah Suja merasa bisa mewujudkan keinginannya yang sempat terendap lama itu. Di hadapan kanvas-kanvas kosong, Suja dan anak-anaknya memulai interaksi mereka dengan membagi tugas, mengeluarkan alat gambar, memilih bidang gambar, lalu bersama-sama mulai menggambar secara spontan dan saling merespons bidang gambar satu sama lain. Suja memulai dengan membuat pola-pola abstrak dari cipratan dan lelehan cat serta stensil dari potongan-potongan kain dan kertas koran, sementara Kadek dan Komang awalnya lebih banyak membuat sketsa dan menggaris menggunakan marker atau kuas-kuas kecil. Perlahan, setelah terbiasa dengan bidang besar, barulah mereka berdua mengambil kuas dengan ukuran yang lebih besar, roller, hingga cat semprot dan alat gambar lainnya.

Hasil kolaborasi mereka bertiga di antaranya seri “Virtual Iconography”, “Mithology of the Future #1 & #3”, “Everyone is a Hero”, “Nature Guardian #2”, dan seri “Small Narative”. Lewat karya-karya tersebut, yang terlihat tidak lagi seorang Wayan Suja yang telanjur dikultuskan sebagai pelukis realis dalam medan seni rupa Indonesia, bukan juga gambar anak-anak yang seringkali diintervensi oleh orang dewasa terutama orang tuanya. Apa yang tampak dalam karya mereka adalah leburan dari hasil jalinan relasi antara ayah dan anak, antara kesadaran akademis Suja dan alam imajinasi anak-anaknya. Oleh karena itu, tantangan terbesar Suja—selain bersabar menunggu anaknya bermain game dan menonton Youtube saat jenuh menggambar—adalah menahan diri untuk tidak mendominasi gambar anak-anaknya, sehingga kemudian pilihan Suja adalah dengan sebisa mungkin mempertahankan gores-garis dan bentuk original yang dihasilkan oleh Kadek dan Komang.

Sebagai ayah yang menginginkan anak-anaknya terus tumbuh membawa imajinasi beserta kreativitasnya, maka praktik ini juga segera terbaca sebagai modus Suja untuk melanggengkan hal tersebut, yakni lewat upaya mengenalkan seni dan estetika kepada anak-anaknya melalui metode-metode yang lebih cair, santai dan menyenangkan. Bermain adalah salah satu yang paling bekerja. Tentu Kadek dan Komang tidak menganggap aktivitas mereka di ruang galeri ini sebagai sebuah praktik berkesenian. Mereka hanya peduli pada kenyataan bahwa mereka dapat menghabiskan waktu mereka secara khusus bersama sang ayah, membangun momen yang akan selalu abadi dalam memori mereka.

Selama berproses di sana, Suja juga didatangi oleh keluarga, teman-teman senimannya, serta para pengunjung galeri. Sebagian besar dari mereka yang hadir tadi kemudian menjelma sebagai kolaborator yang memberi pengaruh langsung pada karya-karya yang terwujud. Semisal pada karya “Space of Possibility” yang merupakan karya hasil kolaborasi 3 orang (Dewa Gede Purwita, Made Susanta Dwitanaya dan Wayan Suja sendiri), karya “Gunung Berapi” hasil kolaborasi Wayan Suja dengan desainer grafis Ketut Nugi serta karya “Mithology of the Future #2” dan “In Between” dikerjakan oleh Suja bersama perupa muda Surya Subratha. Karya-karya ini menggambarkan pola kolaborasi yang banyak terjadi dalam program Living in Gallery kali ini. Para kolaborator memilih merespons kanvas yang telah diisi lebih dulu oleh Suja, alih-alih mengambil kanvas yang masih kosong. Setelah itu Suja merespons kembali hasil gambar dari para kolaborator, beberapa diberi lelehan cat, beberapa distensil, beberapanya lagi digarap secara realistik tanpa sepenuhnya menghilangkan garis original dari kolaborator.

Bentuk interaksi lain antara Suja dan pengunjung juga bisa kita lihat pada karya “Made The Art Writer” & “Nyoman The Young Art Writer”. Pada satu kesempatan, Suja menawarkan kolaboratornya untuk menjadi objek dalam lukisannya. Dalam karya “Made The Art Writer”, siluet wajah digambarkan hanya dengan beberapa tarikan garis cepat dari charcoal, sementara pada “Nyoman The Young Art Writer”, portrait wajah digarap dengan lebih realistik. Bentuk interaksi yang tampak dalam residensi Suja juga tidak hanya melibatkan orang-orang yang hadir, tapi lingkungan galeri Komaneka itu sendiri telah memberi pengaruh pada karya-karya Suja. Lihat saja pada seri karya “Artefacts in the Gallery’s Corner”. Patung-patung antik yang ia temui di areal galeri ia gambar kembali secara stilistik menggunakan drawing dari charcoal, marker, serta tumpukan warna-warna yang transparan.

Praktik yang dilakukan oleh Wayan Suja bersama kedua anaknya, para sahabat senimannya, dan pengunjung galeri lainnya secara tidak langsung membuat Living in Gallery kali ini terasa berbeda dari sesi-sesi sebelumnya. Sesuai dengan harapan Suja yang ingin menghadirkan kemungkinan-kemungkinan lain dalam momen berkaryanya di lingkungan Komaneka ini. Pun hasil akhir tidak menjadi persoalan utama dalam proses berkaryanya kali ini. Suja lebih tertarik untuk menitikberatkan prosesnya kali ini pada bentuk-bentuk interaksi yang terjadi, baik secara formal maupun informal yang membuat karya-karyanya terwujud.

suja
Wayan Suja (kedua dari kiri) di pembukaan pameran “Space in Between”

Di sinilah kemudian usaha Suja ini terbaca sebagai contoh sederhana dari praktik estetika relasional. Di mana konsep estetika bukan lagi hanya dipandang dalam kualitas formal, yakni garis, bidang, warna, bagus tidaknya karya, tapi lebih jauh lagi, konsep ini ditantang untuk dapat relevan dengan bagaimana aktivitas dan konteks sosial si seniman juga. Sehingga posisi Suja bukan lagi menjadi seniman seutuhnya atau satu-satunya aktor penting dalam karya-karyanya kali ini. Suja sekaligus juga adalah “organisator” dalam aktivitas seni yang ia rencanakan. Setuju pula dengan pernyataan sebuah twit yang sempat saya baca, bahwa makin kompleks relasi yang dijalin dalam proses kreasi sebuah karya, maka makin estetis juga karya tersebut.

Batubulan, Maret 2022

Vincent-Chandra

VINCENT CHANDRA lahir dan tumbuh di Medan, Sumatra Utara, 9 Desember 1997. Sejak kecil senang dengan berbagai bentuk kesenian, semisal menggambar, menari, dan menulis. Pada tahun 2015, hijrah ke Bali untuk menekuni dunia seni rupa lewat jalur akademik di Prodi Pendidikan Seni Rupa, Universitas Pendidikan Ganesha. Menjelang lulus pada tahun 2019, iklim kesenian di Bali pada saat itu pelan-pelan mengubah arah minatnya pada dunia penulisan seni rupa. Pada tahun 2020, diajak bergabung dalam komunitas Gurat Institute. Di sana ia belajar banyak tentang riset, pengarsipan, pendokumentasian, penulisan, serta pengelolaan pameran. Hingga hari ini masih melangsungkan keduanya, belajar menggambar dan belajar menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *