Siniar Salihara: Ngomong-ngomong Soal Polemik dalam Sastra dan Seni

Hari ini, kita masih mendengar silang pendapat, termasuk dalam sastra dan seni. Silang pendapat inilah yang kemudian memicu adanya polemik.

Polemik tidak hanya membicarakan persoalan baik dan buruk. Melalui polemik, kita bisa melihat paradigma, gagasan, atau wacana yang lahir dari pemikiran para pihak yang saling beradu pendapat. Temuan tersebut yang nantinya akan sangat berperan penting dalam perkembangan dunia sastra dan seni baik di dunia maupun Indonesia.

Melalui kacamata sejarah, polemik bisa dilihat sebagai medium pembelajaran yang lebih detail. Selain mengamati inti masalah, kita juga bisa melihat kondisi yang terjadi saat itu, baik terhadap respon tokoh atau pengamat sekitar, ataupun fenomena yang terjadi akibat polemik tersebut. Pendengar juga bisa menimbulkan sikap kritis terhadap situasi yang terjadi di masa lampau.

Dipandu oleh Ibrahim Soetomo (Ibam), manajer galeri Komunitas Salihara, kami akan mengajak pendengar Siniar Salihara untuk bersama melihat jauh ke belakang tentang hal-hal yang membentuk pemikiran sastra dan seni masa kini. Segmen “Ngomong-ngomong Soal” merupakan segmen terbaru dari Siniar Salihara yang sudah banyak dikenal melalui segmen sebelumnya yakni “Stay A(r)t Home Talks”.

Dalam episode perdana Ngomong-ngomong Soal, Ibam akan ditemani Nirwan Dewanto, seorang penulis, kurator, dan direktur program Komunitas Salihara untuk membahas Polemik Kebudayaan: Barat Kena, Timur Kena. Tema ini akan mengupas mengenai polemik antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane yang dipicu oleh tulisan Sutan Takdir di majalah sastra Poedjangga Baroe (1935).

“Sutan mengatakan bahwa kesadaran bangsa itu adanya di awal abad 20, sebelum itu tidak ada. Yang ada adalah katakan saja upaya-upaya atau perjuangan melawan kolonialisme untuk kepentingan kelompok atau wilayah masing-masing.” Pernyataan Nirwan Dewanto perihal tulisan Sutan Takdir Alisjahbana.

Sutan Takdir mengesampingkan kesadaran nasionalisme yang terjadi di abad 19 ke belakang  (pra-Indonesia), karena baik perjuangan dan kebudayaan yang terjadi saat itu bukanlah bagian dalam menciptakan Indonesia baru, melainkan bentuk kesadaran yang ditujukan untuk kepentingan kelompok atau kerajaan masing-masing. Dalam tulisannya, Sutan Takdir menjadikan barat sebagai acuan dalam menciptakan kebudayaan Indonesia yang baru.

Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Sanusi Pane dan tokoh lainnya, bagi mereka kebudayaan pra-Indonesia yang terpengaruh oleh timur masih merupakan bentuk dari Indonesia itu sendiri dan tidak dapat dikesampingkan. Sanusi Pane membalas pernyataan Sutan Takdir Alisjahbana melalui sebuah esai, baginya zaman sekarang ialah kelanjutan dari zaman sebelumnya.

Diskusi lengkap ini dapat didengar melalui Siniar Salihara di Spotify, Apple Podcast dan aplikasi NOICE, serta dapat ditonton di kanal YouTube Komunitas Salihara. Ngomong-Ngomong Soal akan selalu hadir dengan episode terbaru setiap Senin.

Tentang Nirwan Dewanto

Seorang penulis, kurator seni, dan penyunting sastra. Saat ini Nirwan aktif sebagai Direktur Program di Komunitas Salihara Arts Center. Beberapa bukunya yang terbaru adalah Museum of Pure Desire (2017), Buku Merah (2017) dan Buku Jingga (2018).

Tentang Komunitas Salihara Arts Center

Komunitas Salihara Arts Center adalah sebuah institusi kesenian dan kebudayaan yang selalu menampilkan kesenian terkini dari Indonesia dan dunia, baik yang bersifat pertunjukan maupun edukasi, dalam lingkungan kreatif dan sejuk di tengah keramaian selatan Jakarta.

___________________________________________________________________

Untuk mengetahui detail pertunjukan silakan kunjungi sosial media Komunitas Salihara: Twitter @salihara | Instagram @komunitas_salihara | atau hubungi: media@salihara.org

*Gambar Utama: Hasil tangkap layar Ibrahim Soetomo (kiri) dan Nirwan Dewanto (kanan) dalam episode Ngomong-ngomong Soal “Polemik Kebudayaan: Barat Kena, Timur Kena”. | sumber: YouTube Komunitas Salihara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.