CandikataEsaiRupaSeni

PUTU WINATA MENYUSURI PERASAAN-PERASAAN TENTANG ALAM

Putu Winata menyodorkan rangkaian gores dan warna yang seakan-akan tak pernah berhenti. Satu gores menumbuhkan gores lain. Satu warna membiakkan warna berbeda. Dan begitu seterusnya. Bahasa visual Putu seperti tak mengenal tanda titik.

Yang tersaji pada kanvas Putu bukanlah hasil akhir atau tujuan. Alih-alih, Putu mengetengahkan proses. Lukisannya tidak menghadirkan ciptaan, dalam arti suatu obyek yang selesai, final, dan total. Kanvasnya ibarat panggung, tempat drama penciptaan dipentaskan. Suatu drama yang memainkan hubungan kompleks antara sang pelukis dan dunia di luar dirinya. 

Pada lukisan-lukisan Putu yang ditampilkan dalam pameran Garden of Intuition di Galeri Zen1 di Second Floor Coffee, Kesiman, Bali, 9 Oktober – 10 November, kita menangkap citra tentang alam. Kita segera mendapat kesan tentang bentang alam, pohon, bunga, daun, ranting, air terjun, perairan, cakrawala, dan sebagainya. Putu memang tidak menghadirkan potret, melainkan abstraksi, tentang alam. Namun, tak pelak mata kita terbawa mengenali nuansa alam yang terasa familiar di kanvasnya.

poster

Gores dan warna dalam lukisan Putu menghantarkan isyarat-isyarat visual yang aktif membentuk persepsi tentang alam dalam benak pemirsa. Terlebih lagi, judul lukisan-lukisan Putu juga menyarankan wacana alam. Pikiran kita tentu seperti dituntun untuk membayangkan alam ketika membaca judul-judul lukisan seperti “Berbunga Menjelang Senja”, “New Season is Coming” (Musim Baru Telah Tiba), atau “When the Wind Blows” (Tatkala Angin Berembus).

Putu memang mengaku menyukai alam. Ia suka bepergian ke kawasan yang lingkungan alamnya masih asri. Misalnya, daerah pegunungan atau desa yang jauh dari Denpasar, kota besar berpenduduk padat tempat Putu bermukim. Pengalaman bersentuhan dengan alam banyak mengilhami Putu dalam melukis.

Kendati demikian, alam bukan satu-satunya sumber inspirasi Putu. Tak jarang ia terpikat pada warna-warni dalam lukisan seniman lain, terutama karya para master seni lukis dunia seperti Vincent van Gogh dan Claude Monet. Warna-warna itu terekam kuat dalam jiwanya, dan pada gilirannya kemudian seakan-akan terlahir kembali dari tangan Putu dalam bentuk gubahan rupa baru. Demikianlah, misalnya, dalam lukisan “Flowing in Love” karya Putu, kita sayup-sayup dapat menangkap gema semarak warna-warni seri lukisan kolam teratai Monet, khususnya karya masyhur “Water Lilies and Japanese Bridge”.

flowing-in-love
Flowing in Love (2021)

Warna-warni dalam mahakarya lukis yang dikagumi Putu seakan menjadi tenaga yang mendorong gerak kreatif pelukis alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini dalam menuangkan ungkapan artistik tentang alam. Imaji alam terpancar dari bahasa rupa Putu yang khas. Itulah bahasa yang secara intuitif mempertemukan kekacauan dan ketertiban, chaos dan cosmos.

Diamati dari dekat, lukisan Putu menampakkan karut-marut gores, garis, sapuan, torehan, usapan, dan berbagai perlakuan lain yang terlihat acak, spontan, bahkan liar. Namun, jika dipandang dari jarak yang cukup, berbagai anasir kekacauan itu – hampir-hampir secara ajaib – menjadi luruh, lebur, dan membentuk struktur yang dapat dikenali atau dirasakan sebagai citra alam. Lukisan Putu seperti mau mengatakan bahwa chaos dan cosmos ibarat dua sisi koin. Ada kekacauan di balik ketertiban, ada tata di belakang huru-hara. Menggaungkan kosmologi Hindu-Bali, siklus penciptaan dan kehancuran terpadatkan dan hadir serempak dalam citra alam di kanvas Putu.

Putu mengaku bahwa proses melukisnya selalu berangkat dari ide tertentu. Ia tidak melukis dari kekosongan. Gagasan tertentu, misalnya tentang lanskap atau kembang, memicunya untuk melukis. Namun, ide awal itu bukanlah semacam rencana atau skema untuk diwujudkan secara setia dalam lukisan. Gagasan awal hanya ibarat cakrawala yang mula-mula hendak dituju oleh kapal imajinasi Putu. Namun, ketika kapal telah berangkat dan mengarungi lautan luas kebebasan kreatif, intuisi mengambil alih kendali kemudi. Tujuan tidak lagi menentukan. Yang memegang peran adalah proses di sepanjang perjalanan. Proses yang tidak saja berisi prosedur dan perhitungan artistik, tetapi juga sarat dengan kebetulan dan kespontanan: ketakterdugaan.

Dengan teknik lukisnya, Putu menyambut kehadiran yang tak terduga di kanvasnya. Satu teknik unik yang dikembangkan Putu adalah penggunaan bola pingpong untuk melukis. Putu mencelupkan bola pingpong ke dalam cat aneka warna, kemudian menggulirkannya di atas kanvas. Guliran bola pingpong meninggalkan jejak warna yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali sang pelukis. Efek yang dihasilkan juga berbeda dengan cat yang disapukan kuas, ditorehkan pisau palet, atau dioleskan jari tangan. Lapisan cat warna-warni di permukaan bola pingpong tersingkapkan pada kanvas secara khas, tak terduga, seolah-olah memiliki “kemauan” sendiri. Kehadiran yang tak terduga itu mengisyaratkan bahwa alam dalam lukisan Putu bukanlah representasi. Bunga dalam lukisannya tidak mewakili bunga sungguhan di luar kanvas.                                      

teknik-bola-pingpong
Melukis dengan bola pingpong

Alam mengilhami Putu, tapi sang perupa sesungguhnya tidak melukis alam. Ia tidak memindahkan obyek-obyek yang dilihatnya di dunia nyata ke kanvas. Lukisannya bukan mimesis dalam artinya yang lazim: tiruan dunia nyata.

Realitas, katakanlah alam, tidak ditiru di kanvas Putu dengan mengerahkan kontrol dan disiplin. Lukisannya tidak mengenal detail. Putu menangkap bentuk atau gejala yang ada di alam, tapi tidak menyalinnya ke kanvas. Tangkapannya terhadap alam selalu terendam arus gelombang emosi yang kadang mengalir tanpa arah tertentu, kadang beriak, kadang bergolak. Bukan mengejar kemiripan atau kesepadanan antara obyek di dunia nyata dan citranya pada kanvas, Putu malah membebaskan intuisinya. Ia melukis mengikuti gerak hatinya, bisikan kalbunya.

Pikiran, peralatan utama yang digunakan untuk mencerap realitas dan membangun gagasan awal, berangsur-angsur undur menjauh dalam proses melukis, digantikan perasaan. Itulah sebabnya, kadang kita tidak langsung bisa mengidentifikasi apa gerangan persisnya yang ditampilkan dalam lukisan Putu. Di kanvas Putu, kita bisa merasakan suasana alam, kita dapat teringat pada fenomena alam, kita bahkan tahu (dari judul lukisan, antara lain) bahwa sang pelukis berbicara tentang alam, namun kita belum tentu bisa melihat alam.    

Putu tidak melukis alam. Ia melukis perasaan-perasaan tentang alam.

new-season-is-coming
New Season is Coming (2021)

Alih-alih melukis alam, Putu menggambarkan dinamika perasaan liris yang muncul mengiringi imajinasi tentang alam. Gores, gurat, alur, dan sapuan yang begitu rimbun di kanvasnya seperti getaran energi yang memancar – sering kali meluap-luap – dari obyek atau suasana yang digambarkan oleh sang pelukis. Sang seniman menangkap vibrasi itu dengan perasaannya, dan kemudian menubuhkannya dalam lukisan: menjadikannya tampak.

Transformasi dari dunia alam ke dunia batin ke dunia citra dalam proses kreatif Putu tidak banyak melibatkan gerak intelek, tetapi lebih mengandalkan kerja tubuh. Prinsipnya sejalan dengan pandangan filsuf Maurice Merleau-Ponty dalam “Eye and Mind”: “Kualitas, cahaya, warna, kedalaman yang ada di hadapan kita, hanya ada karena membangunkan gema di dalam tubuh kita dan karena tubuh menyambutnya… Segala sesuatu memiliki padanan internal di dalam diriku; membangkitkan di dalam diriku rumus badani tentang kehadirannya.”

Tubuh sang pelukis, misalnya gerak tangannya ketika menggulirkan bola pingpong bersalut cat pada kanvas, “menerjemahkan” perasaan-perasaan tentang alam menjadi kesan-kesan kasatmata. Kesan-kesan itu kelak beresonansi dengan memori yang tertanam di tubuh pemirsa dan menjadi tanda-tanda yang bermakna. Dan pada momen resonansi itulah lukisan Putu menanamkan kesan mendalam pada kita.

opening
Prof. I Made Bandem membuka pameran Garden of Intuition

ARIF BAGUS PRASETYO

Penulis, penerjemah, dan kurator seni rupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *