PUTU AYU ARISTYADEWI: Pariwisata, Perempuan, dan Kuliner

Pagebluk Covid-19 telah membuat beragam hal dalam ritus kehidupan manusia menjadi jungkir balik. Teknologi, contohnya, tadinya dianggap pedang bermata dua karena bisa menjauhkan manusia dari sesama dan membuat manusia sibuk dengan gawai. Namun saat ini teknologi justru jadi panglima untuk bersosialisasi dalam gaya hidup baru.

Pandemi juga membuat perempuan pekerja harus berinovasi. Itulah yang dilakukan Putu Ayu Aristyadewi, perempuan kelahiran Denpasar, 7 Februari 1973.

Malang-melintang di dunia kehumasan dan perhotelan, Dewi saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Grup Pemasaran & Komunikasi Smailing Tour.

Beragam jabatan pernah didudukinya. Antara lain, Kepala Pemasaran & Hubungan Masyarakat Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Regional Manager E-Commerce Alila Hotels and Resorts, Marketing Services Manager Indonesia Accor Indonesia, Marketing Communications Manager Hotel Sheraton Bandara, dan Public Relations Manager The Acacia Jakarta.

Dewi juga sempat mengajar di sejumlah universitas. Antara lain, Universitas Indonesia, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Pada 2001, Dewi diganjar anugerah “Karya Bhakti Adikarya Wisata 2001” dari Gubernur Jakarta untuk humas terbaik.

Berikut perbincangan Maca dengan perempuan Bali yang tinggal di Tangerang ini.

Bagaimana ceritanya kamu bisa berkiprah di Jakarta?

Sebetulnya dari kecil sudah di Jakarta, sih. Hanya numpang lahir dan balita di Bali, lalu orang tua – bapak saya, I Nyoman Sutedja dan ibu saya, Ida Ayu Adi Adnyani – merantau ke Jakarta. Tapi kemudian diberi kesempatan tinggal di Bali lagi ketika SMP kelas 1 (SMPN 1 Denpasar) sampai SMA kelas 2 (SMAN 1 Denpasar) karena Bapak tugas di Bali, sebelum kemudian pindah tugas lagi ke Surabaya dan Jakarta.

Pandangan kamu tentang Bali saat ini?

Bali buat saya merupakan kampung halaman, tempat yang akan selalu dirindukan untuk dikunjungi karena ada banyak hal yang tidak bisa ditemui di tempat lain. Keluarga besar, makanan khas, pantai, wangi dupa dan bunga, cuaca yang selalu cerah, dan terutama “hawa liburan”. Meskipun sedang pergi ke sana untuk tugas kantor, tetap saja mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai langsung berasa liburan.

Berapa lama kamu berkarier di dunia perhotelan?

Lumayan lama, 1994-2007.

Apa suka-dukanya kerja di perhotelan?

Sukanya, bertemu orang berbeda, menghadapi hal dan pengalaman berbeda tiap hari, bahkan berkesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh dan selebriti ternama, bahkan artis terkenal dunia. Bisa berinteraksi dengan berbagai bangsa dan budaya juga. Gaji sangat mencukupi. Makan dan minum, antar-jemput, dokter, klinik hingga pakaian seragam disediakan perusahaan.

Dukanya, hotel itu usaha jasa yang berjalan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jadi, kehidupan kita pun ikut menyesuaikan. Libur di musim liburan seperti Idul Fitri, Natal, apalagi Tahun Baru, itu hampir tidak pernah. Jam kerja juga cukup panjang, jadi susah ada waktu untuk bergaul di luar rekan sekantor.

Bagaimana peran perempuan di sana?

Peran perempuan cukup dominan karena industri jasa memerlukan keramahtamahan, pelayanan prima, dan tentunya keindahan alias kecantikan dan penampilan yang menarik. Dan kini bahkan kepemimpinan wanita juga mulai menonjol. Banyak teman saya yang sudah menjabat sebagai general manager di hotel-hotel berbintang.

Menurut kamu, mengapa karier perempuan sering tidak segemilang lelaki?

Mungkin karena sebagai perempuan, ada kodrat untuk melahirkan dan mendidik anak-anaknya, sebuah tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada berkarier. Bahkan masa depan sebuah bangsa pun bergantung pada peran perempuan dalam mendidik generasi penerus.

Kamu pernah dinobatkan sebagai humas terbaik DKI Jakarta. Bagaimana ceritanya?

Wah, sudah lama sekali. Tahun 2001. Pemprov DKI Jakarta sejak 1991 memberikan penghargaan dua-tahunan yang dinamakan Adikarya Wisata bagi para pelaku pariwisata dengan penilaian berdasarkan kinerja, dedikasi dan kontribusi bagi industri yang digeluti. Para calon diajukan oleh komite atau asosiasi industri, lalu harus melewati tahap tes, wawancara, dan penilaian oleh mystery guest. Para jurinya terdiri dari dinas pariwisata pemprov sendiri, para pakar, asosiasi (PHRI), pimpinan perusahaan (GM hotel) sampai wartawan media massa. Dan waktu itu merupakan kali pertama bidang humas ikut dilombakan. Selain humas, juga dipilih beberapa jabatan lain seperti front office, housekeeper dll. Gak nyangka sih bisa menang, karena termasuk calon termuda hehehe…

Belakangan kamu bekerja di biro perjalanan wisata. Apa pertimbangannya?

Sebetulnya awalnya karena mendapat tawaran menggantikan teman, dan kebetulan saya sudah menyelesaikan S2, jadi sudah bisa kembali bekerja full time. Selama kuliah S2, saya memilih pekerjaan yang relatif lebih santai di Kedutaan Besar Argentina agar bisa fokus kuliah.

Pertimbangan lain, karena saya pikir travel agency tidak 24 jam 7 hari seminggu seperti hotel, sehingga tidak akan mengganggu waktu dengan keluarga. (Dewi menikah dengan Felix Tjandra pada 2010 ). Selain itu, saya ingin mencari pengalaman baru yang gak terlalu jauh dari pendidikan dan pengalaman saya sebelumnya.

Bagaimana sih prospek industri perjalanan wisata?

Industri perjalanan wisata saya lihat memiliki peluang yang besar karena jalan-jalan sudah bukan lagi kebutuhan mewah. Bahkan banyak dari generasi milenial menjadikan jalan-jalan sebagai life goal-nya. Selain itu, business corporate travel juga sangat bagus karena perjalanan dinas/business travelling merupakan salah satu cost tertinggi dari perusahaan yang membutuhkan pengaturan yang baik yang bisa ditawarkan oleh travel agent.

Setelah ada pandemi?

Untuk saat ini, perjalanan wisata domestik masih lebih berpeluang untuk bangkit daripada outbound ke luar negeri. Jadi kami di Smailing Tour memulai era new normal ini dengan menawarkan paket-paket domestik ataupun staycation di hotel bagi yang ingin liburan dengan aman.

Apa yang harus ditingkatkan dalam menawarkan pariwisata di Indonesia?

Fasilitas (akomodasi, transportasi, makanan dsb.) yang bersih, nyaman, dan sekarang tentunya harus mengikuti standar protokol kesehatan dan kebersihan. SDM yang terampil, promosi, dan kebijakan pemerintah yang mendukung (visa, pajak, dll.).

Apa keunggulan pariwisata kita yang layak dijual ke publik dunia?

Saat ini orang cenderung memilih destinasi yang menawarkan pengalaman yang unik dan khas. Berlibur sesuai hobi/special interest juga sangat diminati. Juga liburan yang eco-friendly. Dan Indonesia memiliki banyak hal yang bisa ditawarkan. Jadi jangan hanya mengunjungi Borobudur, tetapi bisa makan malam di pelataran candinya, misalnya. Atau ke Bali bukan hanya melihat Kuta atau Kintamani saja, tapi belajar membuat gebogan, misalnya.

Atau tur bersepeda, tur khusus mencicipi kuliner khas, atau bahkan tur dengan menginap di rumah penduduk sambil mengajar anak-anak setempat berbahasa Inggris, atau ikut kegiatan sehari-hari penduduk lokal, pasti akan sangat menarik. Pengalaman yang tidak akan didapat di negara atau destinasi lain.

Siapa sih panutan kamu?

Yang pertama itu bapak saya. Dia mendidik saya menjadi perempuan pemberani dan mandiri. Saya diajari bela diri sampai jadi atlet karate hehe…. Dan sejak kecil saya diberi kebebasan untuk berpendapat dan menentukan pilihan dengan tetap diberikan pandangan-pandangan untuk dipertimbangkan.

Saya tuh cita-citanya jadi dokter hewan. Boleh saja sama Bapak, tapi lalu diberi pengertian – zaman itu – kita aja sakit belum tentu ke dokter. Plus nilai IPA saya pas-pasan. Jadi kenapa gak masuk IPS aja, lalu lanjut ke perhotelan karena industri hotel sedang booming? Saya dengan senang hati nurut, dan memang terbukti nasihatnya memang benar – walaupun sekarang dokter hewan juga sangat populer, bahkan kadang kalau kucing saya sakit, dokternya lebih mahal daripada dokter saya hahaha….

Yang pasti, saya menikmati masa SMA saya karena tidak memaksakan kemampuan. Kadang bolos hahaha…. Bahkan sambil jadi atlet PON dan nilai saya tetap baik. Bapak juga selalu baik sama semua teman saya, termasuk yang lelaki. Saya boleh berteman dengan siapa saja, tidak membeda-bedakan.

Selain itu, Bapak memberi teladan kejujuran dalam bekerja. Dia sangat dihormati di kantornya karena prinsip-prinsipnya itu.

Idola yang lain: Madonna hahaha…. Sejak SMP sampai sekarang. Bagi saya, Madonna sosok perempuan yang keren, berprestasi dan cuek. Berani hidup sesuai keinginannya sendiri, gak peduli orang lain bilang apa, tapi gak neko-neko. Dan sampai setua sekarang tetap keren!

Pandemi memukul seluruh gaya hidup kita. Bagaimana kamu memandangnya?

Bagi saya pribadi, pandemi ini semacam jawaban atas doa-doa saya. Bukan berarti saya berdoa minta penyakit, melainkan doa untuk belajar hidup sederhana. Sebelumnya, sangat susah buat saya tidak mengikuti gaya hidup hedonisme kota besar. Tapi dengan pandemi ini akhirnya saya dipaksa untuk lebih banyak diam di rumah, dan otomatis hidup secara lebih sederhana. Tidak makan di restoran, tidak jalan-jalan di mal, tidak berbelanja barang-barang konsumtif, tidak nge-gym, tidak nonton bioskop, bahkan berdandan pun jarang, apalagi ke salon.

Sekarang olah raga saya jalan pagi. Makan masakan sendiri. Waktu luang saya isi dengan beres-beres rumah, berkebun, ngobrol dengan suami, nonton film seri kesukaan di TV – wah, dulu mana sempat – dan berdoa atau beribadat. Saya bahkan mengecat rambut sendiri hehehe…. Saya juga lebih konsen pada kebersihan. Padahal dulu saya termasuk cuek dan sedikit jorok hahaha….

Awalnya cukup stres memikirkan masa depan pekerjaan. Tapi sekarang saya malah merasa lebih rileks, tidak lagi dikejar-kejar waktu. Tuhan itu yang memelihara kita, apa yang harus dikhawatirkan? Dan ini juga semacam pembuktian atas kuasa-Nya. Semua yang kita miliki itu hanya titipan. Beliau bisa mengambilnya kapan saja. Satu virus bisa melumpuhkan dunia.

Dan hikmah lainnya, pandemi ini semacam pembuktian bahwa pekerjaan bisa dilakukan di mana saja, tidak harus di kantor. Teknologi sudah sangat maju. Rapat, seminar, bahkan mengajar mahasiswa, saya lakukan secara online. Ibadah pun bisa secara online dan lebih khusuk karena hati dan pikiran lebih fokus.

Banyak sekali kuliner yang kamu posting di IG. Maksudnya apa, sih? Ada rencana buka usaha kuliner?

Hahaha…. Memasak itu salah satu hobi saya. Bakatnya menurun dari ibu saya. Kebetulan suami juga hobi makan, karena mama mertua juga pengusaha kuliner. Jadi hobi saya tersalurkan. Selain itu, karena pandemi, tidak bisa jajan sembarangan. Akhirnya kalau kepengen makan sesuatu, ya kita masak sendiri aja. Sekarang resep apa pun bisa ditemukan di Google.

Dan saya juga suka motret makanan, karena dulu zaman kerja di hotel sering membuat brosur untuk mempromosikan masakan yang dijual di hotel. Maka jadilah, selesai masak, kita foto dan posting di sosmed.

Apa yang menarik dari kegiatan masak?

Memasak itu sebuah proses. Ada usaha untuk mencari resep, membeli bahan, meracik bumbu sampai jadi masakan yang diinginkan. Dan kalau berhasil, rasanya senang sekali. Memasak itu sesungguhnya yang jadi kunci: Biar enak apa ya? Harus seneng makan hahahaha…. Kalau kita gak pernah makan masakan itu, pasti susah untuk memasaknya. Gak bakal tau rasa yang pas.

Di tengah pandemi ini, apa arti keluarga bagi kamu?

Saya hanya berdua dengan suami. Buat saya, suami saya itu pasangan, sahabat dan pendukung utama saya. Pandemi ini menjadi masa yang menyenangkan karena bisa punya banyak waktu berdua. Selama ini saya lebih banyak di luar rumah, bahkan kadang pergi dinas ke luar negeri.

Apa arti tinggal di rumah bagi kamu?

Home sweet home. Punya banyak waktu untuk diri sendiri dan melakukan hal-hal yang disukai.

Rencana kamu ke depan?

Tetap hidup sederhana, mengalir seperti air saja. Mengerjakan tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya dan sebanyak mungkin membantu mereka yang membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *