CandikataEsaiSastra

Perilaku Remaja dan Kehancuran Sebuah Negara: Mengurai Catatan Penting Mosala Parwa | esai Luh Yesi Candrika

Pasca unjuk rasa UU Cipta Kerja yang terjadi pada awal bulan Oktober tahun 2020 yang lalu, berbagai media menyoroti bahwa tidak sedikit para remaja ikut serta dalam demo yang tidak hanya terjadi di ibu kota negara, tetapi berlangsung pula di sejumlah daerah lainnya. Lebih lanjut, dalam interogasi yang dilakukan pihak kepolisian kepada beberapa remaja usai demonstrasi, mereka mengaku tidak tahu secara pasti mengenai persoalan yang tengah diperjuangkan dalam unjuk rasa tersebut.

Mengamati fenomena ini, tentu banyak masyarakat yang menganggap bahwa para remaja yang tidak bisa mengendalikan dirinya cenderung hanya ikut-ikutan atau bahkan memanfaatkan momen unjuk rasa ini sebagai pelepas penat dalam situasi pandemi yang tak kunjung berhenti. Apalagi perilaku yang reaktif, gegabah, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan gemar mencoba hal yang baru senantiasa melekat pada kaum remaja. Sementara itu, unjuk rasa yang diharapkan dapat dilakukan secara damai dan kooperatif itu pun, justru berakhir dengan ricuh dan rusaknya fasilitas-fasilitas publik yang merugikan negara.

Perilaku remaja dalam peristiwa di atas mengingatkan kita pada kisah hancurnya Kerajaan Dwarawati yang termuat dalam pustaka kuna Mosala Parwa, yaitu parwa yang terpendek dalam Astadasaparwa (delapan belas parwa). Sebagaimana kisah mengenai kehancuran kerajaan Dwarawati dalam parwa keenam tersebut, yaitu diawali dengan ulah dua orang remaja Wangsa Yadu, Arya Samba dan Sang Wabru yang berpura-pura menjadi sepasang suami-istri saat menyambut kedatangan tiga orang wiku ke Dwarawati. Ketiga wiku tersebut yaitu Resi Wiswamitra, Resi Kanwa, dan Dang Hyang Naradha.

Akibat dari rasa ingin tahu yang tinggi terhadap kesaktian (kasidhian) dari seorang wiku, Sang Arya Samba berpura-pura menyamar sebagai pengantin wanita dan Sang Wabru sebagai suaminya. Dengan penuh keangkuhan, para remaja Wangsa Yadu ini berpikir bahwa apa yang dilakukan akan mendapatkan pengampunan karena telah sering menolong para pendeta.

Saat para wiku telah tiba di Dwarawati, mereka menghadap para pendeta dengan alasan memohon belas kasihan agar bisa mempunyai anak. Dengan gelagat yang mencurigakan, akhirnya penyamaran pengantin ini diketahui sang pendeta. Betapa marahnya sang pendeta karena dihina dan ditipu oleh Sang Samba seorang putra Prabu Kresna yang bijaksana.

Kutukan dari seorang wiku sangatlah luar biasa saktinya. Apa yang diucapkan pasti akan terjadi (sidi mantra atau sidi ucap). Wangsa Yadu di Kerajaan Dwarawati mengalami kehancuran akibat perilaku yang tidak baik dari para remajanya.

Kutukan pun dilontarkan oleh sang wiku, yaitu agar kelak kandungan hasil penyamaran Arya Samba benar-benar lahir berupa palu besi atau tongkat besi yang dapat menghancurkan seluruh wangsa Yadu, kecuali pada Prabu Kresna dan Baladewa yang tidak terkena kutukan dari sang wiku. Prabhu Kresna dan Baladewa pun menyadari bahwa kekacuan yang diakibatkan oleh para remaja Wangsa Yadu tersebut tidak dapat dihindari. Mereka pun tidak berkeinginan untuk mengubah kutukan sang wiku.   

Mengacu pada perilaku atau sikap yang ditunjukkan oleh tokoh Arya Samba dan Sang Wabru dalam cerita, memiliki nilai penting mengenai perilaku hidup untuk generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman saat ini. Kata muda dalam bahasa Jawa Kuna berarti bodoh, sehingga tatanan dan tuntunan sangat diperlukan untuk membentuk laku hidup. Salah satunya, yaitu sikap untuk menghargai dan menghormati orang yang lebih tua, terlebih lagi orang suci. Keangkuhan pada masa remaja adalah salah satu musuh yang patut diatasi.

Arya Samba dan Sang Wabru pada akhirnya gagal menaklukkan musuh yang ada dalam dirinya, hingga kemudian harus menikmati karma dari hasil perbuatannya yang dengan sengaja menipu kaum brahmana. Hal tersebut merupakan perbuatan tercela karena telah mencela brahmana (orang suci). Nitisastra menjelaskan bahwa perbuatan mencela brahmana, buku-buku, atau mencela guru akan mendatangkan kesengsaraan bahkan hingga kematian.

Pada kasus keterlibatan remaja dalam demontrasi yang ricuh tersebut, peran guru terutama orang tua (guru rupaka) dan pemerintah (guru wisesa) tengah diuji. Dalam situasi yang demikian, para orang tua diharapkan memiliki kemampuan mendidik sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada anak sehingga dapat terbebas dari kesengsaraan.

Lebih lanjut, Nitisastra sesungguhnya telah menerangkan ajaran pada anak sesuai dengan usianya, yaitu sutasasana (untuk anak bermur lima tahun) bahwa perlakukan anak seperti raja, saptangwarsa (anak berumur tujuh tahun) latih anak agar menurut, sapuluhing tahun (anak berumur sepuluh tahun) anak diajar membaca, sodasawarsa (enam belas tahun) anak diperlakukan sebagai sahabat serta berhati-hati menunjukkan kesalahannya, wus putra suputra (anak telah berputra) mengamati perilaku anak dan memberikan isyarat dan contoh sebagai bentuk pengajaran.

Mendidik anak dimulai dari tingkat keluarga, bukanlah hal yang mudah. Sadar akan tumbuh kembang, kebutuhan, dan kemampuan seorang anak dapat menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pendidikan anak, hingga akhirnya ia siap menjadi bagian dari masyarakat dengan berbagai tantangannya.

Remaja atau dalam konteks ini seorang anak, diharapkan menjadi sosok yang sadu gunawan (baik dan bijaksana) oleh kedua orang tuanya. Berbicara mengenai putra yang suputra atau sadu gunawan, maka sosok remaja yang dapat dijadikan teladan dalam kisah Mahabaratha, yaitu Abimanyu, putra dari Arjuna dan Subadra.

Abimanyu menghabiskan masa anak-anaknya dalam asuhan pamannya, yaitu Krisna, sehingga nilai-nilai kebenaran tertanam dalam dirinya. Pada saat dalam kandungan, Abimanyu pun telah mendapatkan pendidikan prenatal dari ayahnya, Arjuna. Dalam garba Subadra, Abimanyu telah dialiri pengetahuan mengenai cara menembus formasi perang Cakrabyuha.

Namun, dalam usahanya membela negara dan kebenaran, ia pun akhirnya gugur di medan perang Kuruksetra pada usianya yang baru enam belas tahun. Walaupun pada akhirnya Abiamanyu berkalang tanah, ia tidak pernah mundur dari medan perang Kurusksetra.

Pengetahuan yang diberikan oleh orang tua sejak dalam kandungan merupakan salah satu cara untuk melahirkan anak dengan kualitas yang baik. Lahirnya anak-anak yang berkualitas dan mendapatkan pendidikan di tingkat keluarga yang baik, niscaya keberhasilan suatu negara dapat terwujud.

luh_yesi_candrika

Luh Yesi Candrika adalah pemerhati sastra Bali.

Gambar utama: Foto Carlos di Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *