PEKERJAAN BURHAN | cerita Donny Anggoro

Kala itu, kata Burhan, hanya aku saja yang tahu pekerjaan sebenarnya di kota ketika aku tak sengaja menemuinya sedang berjalan keluar dari stasiun KRL. Burhan, lengkapnya Burhanuddin, adalah teman satu kosku waktu kami sama-sama kuliah di Kota Gudeg.  Setelah lulus, kami berpisah dan tak pernah ada kabar lagi darinya. Pertemuan tak terduga aku menemui Burhan ketika aku hendak pulang ke rumahku yang sekarang di Tangerang. Penampilan Burhan tak berubah, sama seperti dulu. Hanya perutnya sedikit buncit.

Tidak, tidak, tidak, dia bukan pemimpin atau pengelola panti asuhan. Ketika aku tanya, semula dijawabnya bekerja di salah satu yayasan amal. Setelah itu dia malah balik bertanya dengan gaya bicaranya yang nakal, “Ayo, tebak!”  Dia juga bukan semacam relawan atau aktivis yang membuka sekolah gratis untuk anak-anak jalanan. Dia juga bukan pekerja dinas sosial milik pemerintah atau swasta. Dia juga bukan petugas Satpol PP yang dari pagi hingga sore hari melarang pedagang berjualan di atas trotoar…

“Lantas apa yang kaukerjakan Burhan?”

“Inilah yang kulakukan,” katanya sambil membuka lemari besar. Di situ aku melihat bermacam stel baju koko, gamis, peci, sarung serta kotak-kotak kaca dan kayu yang biasa kulihat di warung-warung, minimarket dan supermarket.

“Apa ini? Properti teater? Maksudnya kamu menyiapkan ini untuk orang-orang yang mau pentas drama? Atau main film? Kamu main teater lagi, Han?” tanyaku. Karena dulu, selain kuliah, Burhan juga aktif sebagai pemain dan sutradara teater kampus.

Burhan terkekeh.

“Hampir sama, Wan, tapi nggak juga… Ribuan orang masih tak terbendung jumlahnya, berbondong-bondong pergi ke kota besar, mengadu nasib….”

“Langsung sajalah pada intinya, Han! Ngomongmu mulai ngelantur!”

“Begini, Wan, tadi kamu bilang baju-baju dan kotak-kotak tadi itu properti teater… kubilang hampir sama tapi tidak begitu…”

“Lalu apa?”

“Aku menyewakan barang-barang ini kepada siapa saja yang sedang kalut… barangkali karena gagal total mengadu nasib ke kota… silakan pakai barang-barang ini. Semua ada biayanya. Membeli juga boleh, sewa juga boleh. Tapi kebanyakan yang datang kepadaku akhirnya beli. Mungkin karena kalau membeli modalnya tidak terlalu besar.

Ya, aku menyediakan segala kebutuhan untuk itu. Kota-kota besar masih banyak orang mau beramal. Seribu atau dua ribu rupiah tak jadi soal, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit…. Sadar nggak, ketika kau keluar dari mini market itu, misalnya… sebagai pengunjung, tanpa disadari kau akan menemui tiga lapis pengemis. Pertama, tukang parkir; kedua, pengemis sungguhan; ketiga, para petugas kotak amal. Nah, akulah yang menyediakan kebutuhan untuk lapisan ketiga. Pengemis yang tak tampak pengemis. Mereka bersih, rapih, seolah dari masjid, yayasan sosial atau panti asuhan.”

“Lantas kau tak pernah bekerja lagi sesuai kuliahmu dulu? Kan kamu arsitek, Han!”

Burhan terdiam sejenak. Pandangannya menerawang. Setelah mematikan rokoknya di asbak, dia mulai bicara. Suaranya menjadi lirih.

“Wan, kalau bisa kubilang, jujur saja, hidup aku ini gagal. Aku sudah tak bisa lagi jadi arsitek seperti idaman orang tuaku dulu. Memang aku pernah bekerja di salah satu perusahaan dan bekerja siang malam sesuai kuliahku dulu. Tapi setelah perusahaanku bangkrut, aku pun gagal menjadi arsitek lepas yang tak bekerja di satu tempat….”

 “Bagaimana dengan anak dan istrimu?”

“Aku sudah bercerai, Wan. Barangkali istriku malu bersuamikan aku yang di matanya tidak kreatif… tidak mandiri… setelah kantorku bangkrut…. Bahkan pernah berwiraswasta saja aku gagal…. Setelah kami menikah 5 tahun, dia menuntut cerai. Aku juga tak tahan lama-lama hanya mengandalkan hidup dari pekerjaannya sebagai guru. Aku juga merasa tak sanggup membesarkan anak kami semata wayang.”

“Maaf, Han, aku tidak tahu… kita kan sudah lama nggak ketemu.”

“Nggak apa-apa, Wan. Ya, pekerjaan ini sudah cukup lama kulakukan. Sudah lima tahun, Wan. Hanya dengan sedikit keterampilan desain dan sedikit hafal doa-doa, maka inilah yang aku kerjakan. Ini terjadi ketika aku sedang terpuruk. Kerjaku hanya keluar-masuk rumah, lalu pergi ke masjid. Di situ aku mengamati banyak orang, sampai terpikir ide ini. Sampai akhirnya ada juga orang lain menawari kerja sama dengan melakukan ini.

Di kota-kota besar banyak sekali orang yang masih mau beramal. Tak ada yang curiga. Toh, dari tulisan yang terpampang di beberapa kotak yang kubuat ini, ada juga yayasan sungguhan. Ya, ada yayasan sungguhan yang memesan aku membuatkan ini… karena mereka tak mengerti caranya mendapatkan biaya untuk menjalankan kegiatannya. Lama-lama aku juga mengenal kelompok anak-anak yang siap kusuruh untuk melakukannnya…. Jangan salah… aku nggak serakah kok, Wan… Aku juga pernah memberikan sedekah kepada yayasan atau orang-orang yang berhak….”

Aku terdiam, lalu memandang barang-barang yang tadi diperlihatkan Burhan kepadaku. Burhan sahabatku kuliah arsitek, teman satu kosku, kampus beda hanya satu kos saja. Tak pernah kubayangkan Burhan yang sepertinya dulu kulihat begitu cemerlang kuliahnya, dikejar-kejar banyak teman perempuan… Burhan yang bahkan lulus lebih cepat dari teman-temannya… Burhan yang….

Samar-samar di kepalaku teringat celetuk pelawak kondang almarhum Benyamin Sueb yang filmnya baru saja kulihat tadi pagi sebelum pergi ke kantor, “Cari duit di kota gampang. Orang kota kaye kaye tapi gampang ditipu….”

“Kamu senang melakukannya?”

“Dulu tidak, tapi aku puas. Puas karena akhirnya aku berhasil hidup tak tergantung lagi kepada orang lain… dan sekarang aku pun berguna buat banyak orang. Akhirnya aku membuka lapangan pekerjaan untuk banyak orang, Wan!” jawab Burhan.

***

Semenjak pertemuan itu, aku tak pernah bertemu Burhan. Tapi, pernah suatu hari aku mendadak ingin mengunjungi rumah kontrakannya, tetangganya bilang dia sudah pindah. Nomor ponselnya juga tidak aktif. Aku tak tahu apakah Burhan sengaja menghilang dari aku, dengan tidak memberitahukan alamat barunya, atau dia memang harus pergi.  

Sejak pertemuan dengan Burhan, aku jadi malas memberikan uang receh kepada pengemis dan peminta-minta, juga ke kotak amal. Pertemuan tempo hari dengan Burhan itu buatku seperti semacam pembuka tabir bahwa ada masih banyak masalah sosial yang sulit dipecahkan. Sulit kupercaya, Burhan, satu-satunya orang yang kukenal, adalah bagian dari itu! Tapi setelah kupikir-pikir, aneh juga Burhan tampak percaya sekali kepadaku bahwa aku tak akan bercerita kepada siapa pun mengenai pekerjaannya.

Padahal bisa saja aku ngoceh ke banyak orang, lalu membawa polisi ke rumahnya. Tapi itu tak juga kulakukan, bukan karena aku sayang kepada Burhan, sebagai sobat lama. Aku berpikir, tentu saja ada banyak Burhan-Burhan lain juga melakukan hal serupa.

Jadi, untuk apa juga? Mungkin aku tak boleh diam saja, tapi apa untungnya? Bukankah ini sama saja aku mencelakakan Burhan? Bukankah ini sama saja aku merampas pekerjaannya? Bukankah ini seperti aku merenggut pekerjaan yang sudah ditekuni Burhan bertahun-tahun? Aduh, sial. Aku tak tega. Jangan. Tapi….

Bukankah… bukankah… bukankah… demikian yang terus menari-nari dalam kepalaku, sampai akhirnya aku memilih bersikap masa bodoh saja. Dan, ketika aku sudah tak peduli, sampai aku akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Burhan sepulang dari kantor, Burhan menghilang, tak ketahuan rimbanya.

Apalagi di sini sempat ada wisata perjalanan ke daerah kumuh, yang disukai turis-turis asing. Sekarang wisata tersebut sudah ditutup karena keuntungan yang dijanjikan pengelola akan dibagi kepada warga penghuni tersebut tak kunjung terlaksana.

***

Berbulan kemudian, aku mulai berpikir, ah, sudahlah, mungkin pekerjaannya butuh tempat lebih lebar agar semakin berkembang…. Atau dia sudah mendapatkan pekerjaan baru? Atau Burhan menikah lagi? Pokoknya aku berharap Burhan baik-baik saja. Dan biasanya, selama ini, jika aku berpikir begitu – seperti halnya pertemuan dengan teman-teman lainnya – pasti suatu saat akan bertemu Burhan kembali, entah itu kebetulan seperti pertemuan di stasiun KRL atau pun hanya di sosial media.

“Wan, apa kamu sudah baca berita hari ini?” tanya Frisca, istriku, sambil menyeruput kopi. Sore ini kami sengaja melepas penat setelah pulang kantor di salah satu kedai kopi yang baru dibuka di BSD.

“Berita apaan…? Sepertinya nggak ada yang menarik…. Biasa ajalah….”

Kalo nggak salah, kamu punya teman namanya Burhan? Burhanuddin? Waktu kos di Jogja?”

“Iya, kenapa?”

“Ini Wan…. Alamatnya di Jalan Sawo, kan? Yang waktu itu kamu cerita ketemu di stasiun, lalu kamu mampir ke rumahnya naik taksi?”

“Terus?”

Frisca menyodorkan ponselnya kepadaku.

“Coba baca sampai detail, Wan, sampai selesai! Penting!” kata Frisca.

Ada serangkaian judul-judul berita online di situ, “Densus Sita 400 Kotak Amal dari Penangkapan Teroris di…. Polda Selidiki 400 Kotak Amal Diduga untuk Pembiayaan Kelompok Radikal…. Ini Penampakan Kotak Amal yang Disebar Teroris…. Polisi Ungkap 20.000 Kotak Amal Yayasan Amien.…”

Dengan cepat aku membacanya sampai mataku terhenti pada satu kalimat, “Dicari salah satu tersangka Burhanuddin yang beralamat di Jl. Sawo Manila berasal dari Yayasan Amien, menyebarkan kotak amal tersebar di berbagai daerah, antara lain….”

Aku terdiam. Cappuccino yang baru kuminum mendadak terasa hambar. Tenggorokanku tercekat. Apalagi di situ jelas terpampang foto Burhan, yang dalam berita itu sedang mengenakan sorban….

Astagfirullah, sudah sejauh ini rupanya…,” desisku.

Pamulang, Agustus 2021

Donny Anggoro a.k.a DoRo pernah bergiat sebagai penyunting naskah, penulis, dan penerjemah lepas di berbagai media cetak/daring  1999-2011.  2012 penyunting di Lembaga Bhinneka Nusantara, Surabaya. 2016 penerjemah di The Borneo Institute, Palangkaraya. 2015 mendapat sponsor dari Galeri Indonesia Kaya sebagai penulis naskah lakon musikal “Gumam Gugat Gigit” produksi kelompok teater Gong Tiga. Ulasan filmnya untuk media Rumah Film masuk dalam buku “Tilas Kritik” penerbit Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, 2019. Bukunya yang sudah terbit “Membaca Indorock, Mendengarkan Nostalgia” (Pelangi Sastra Malang, 2021). Sejak 2011 mengelola toko buku dan musik online “Bakoel Didiet/Roundabout Music” di Jakarta.

Gambar utama: Foto cottonbro dari Pexels.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.