Otak Tumpul | puisi-puisi Samsul Hadi

Hasrat Bangsat

Bulan terpenggal.
Kata-kata hilang ditelan kegelapan.
Sebentar-sebentar menakar mimpi,
Jelas dicampakkan dan ditinggalkan pergi.

Sia sia semuanya.
Tak ada yang tersisa.
Curiga;
Hidupnya sesat,
Tersesat oleh hasrat bangsat.

Hatinya lelah mendengar perintah,
Matanya buta melihat gemerlap kehidupan kota.
Tak ada yang bisa mengerti,
Selain puisi dan seteguk intisari.
Sebentar lagi dia akan terbunuh pada kegelapan malam,
Setelah charger hpnya tertinggal di rumah.


Siasat

Hallo... kita telah menjadi pribadi paling menarik.
Tetap Rock n roll biar makin estetik.
Tak lupa campurkan anggur yang dari tadi menunggu giliran untuk diteguk.
Agar hidup lebih tenang dengan sedikit mabuk.

Ingat tanah kelahiran, ingat masa kecil.
Dibuai dan dibesarkan dengan kekerasan, dididik sekeras cadas, besarnya jadi pribadi yang bebas.

O ya! nanti kalau sudah kaya,
jangan lupa dengan cita-cita.
Mengganti merek rokok dari Surya jadi Sampoerna.
Biar makin mantap,
besok belajar rokokan pake Cerutu.
Supaya memiliki kebiasaan yang sama dengan Fidel Castro dan Soekarno.
Gelamor dan sedikit Marxis.
Sadis!

Sedikit nakal sepertinya tidak masalah, asal tetap baik dan paham politik.
Untuk meraih kebebasan, modal harus tetap diperhitungkan.
Jangan sampai salah hitung, bandar tekor kepala buntung.

Jangan lupa ngopi dan budayakan baca buku.
Otak juga butuh nutrisi.
Agar tetap waras di negeri ini.


Kasih Tak Sampai

Aku tersesat di belantara kata.
Menjamu aksara.
Aku merasakan lalu menerka-nerka maksud di dalamnya.
Kemudian berimajinasi.
Sedikit berlebihan.
Kamu yang paling sederhana

Sedang kukisahkan;
Matamu menatapku dalam-dalam.
Dari ketidakmampuan kata-kata untuk menjelaskan perasaan.
Mencari kehangatan.
Mengukur kesetiaan.

Adalah  kamu.
Kasih sayang Tuhan yang kuminta dengan paksa.


Otak Tumpul

Kita sama-sama tumpul dalam kebingungan masing-masing.
Akibat pandemi yang tidak kalah seksi dari novel fiksi.
Kemudian datang sepi,
yang mengutuk dirinya menjadi puisi.

Semua rencana yang sudah dijadwalkan kian hari makin kelimpungan.
Titik terang makin jauh dari harapan.
Tanggal merah.
Mata merah.
Marah-marah.
Bah!

Di persimpangan surga. Ada tanya tak bersuara.
Riuh, menjamu relung hati terdalam.
Apa yang kau cari?
Kita semua hanyalah seonggok tai!

Buku-buku membaca dirinya sendiri.
Komputer tua bernyanyi di halaman.
Tembok tua beralih fungsi,
jadi tempat konser Bob Marley dengan para Rastafarian.
Sudah berapa jauh kau baca bukumu.
Coba ceritakan padaku.
Samsul-Hadi

Samsul Hadi lahir di Labuhan Haji, Lombok Timur pada tanggal 17 Desember 1999. Aktif berkegiatan di Perpustakaan Jalanan Minor yang ada di daerah Lombok Timur. Cita-citanya pengen jadi mahasiswa, tapi belum kesampaian sampai sekarang.

*Gambar utama: Foto Quino Al di Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *