NUITS ÉLECTRIQUES: Ketika Kota Diterangi Cahaya Lampu

oleh Jafar Suryomenggolo

Bagi kita yang hidup di kota, terang lampu listrik di malam hari adalah sebuah keharusan dan keniscayaan. Terang lampu listrik umum diterima menjadi tanda khas kehidupan dunia kota yang berbeda dari kehidupan desa. Bahkan juga, menjadi simbol peradaban manusia: manusia berhasil mengalahkan kegelapan malam.

Namun, terang lampu listrik juga memaksa manusia menjadi bekerja lebih, demi dirinya sendiri. Aktivitas manusia menjadi lebih panjang, buruh bekerja lembur, dan manusia tidur semakin larut. Semua ini membawa perubahan sosial, politik, dan ekonomi dalam kehidupan manusia modern. 

Pameran “Nuits électriques” (Malam Listrik) di Prancis mengangkat persoalan dan dilema tersebut, dengan tema utama “Bagaimana persepsi manusia akan malam mengalami perubahan akibat ditemukannya lampu listrik ?”. 

Pameran ini menampilkan lebih dari 170 karya seni berupa lukisan, sketsa, ukiran patung, dan video, dari 70 orang seniman dari berbagai kebangsaan, yang merupakan koleksi dari sejumlah museum di Eropa. Karya-karya yang ditampilkan berasal terutama yang dihasilkan sepanjang masa 1850-an hingga 1915.

Lampu listrik pertama kali ditemukan pada 1807, dan sejak 1816 dipasang di kota Paris guna menerangi jalanan di malam hari. Tahun-tahun berikutnya, lampu listrik menyusul di banyak kota lainnya di Eropa. 

Pameran Seni di Kota Pelabuhan

Pameran “Nuits électriques” diselenggarakan di Musée d’art moderne André Malraux (MuMa / Museum Seni Modern André Malraux) di Le Havre, kota pelabuhan di ujung utara Prancis. Dengan dua jam kereta cepat dari Paris, kota ini menjadi salah satu tujuan wisata musim panas, terutama bagi mereka yang hobi berjemur di pantai dan mengagumi keindahan laut.

Awalnya, pameran ini direncanakan berlangsung pada 3 April – 20 September 2020. Namun karena penutupan akibat wabah Covid-19, pameran diundur, berlangsung pada 3 Juli – 1 November 2020. Ini bertepatan dengan masa liburan musim panas di Prancis.

Lewat pameran akbar ini, pemerintah daerah Le Havre berupaya menarik kunjungan wisatawan dalam negeri untuk menikmati pantai dan sekaligus memperdalam khazanah budaya. Setelah usainya masa penutupan akibat wabah Covid-19, Pemerintah Prancis memang menganjurkan penduduk untuk berwisata di dalam negeri selama liburan musim panas ini. Tujuannya untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kluster baru penyebaran virus, dan sekaligus menggerakkan kembali perekonomian dalam negeri yang sempat lumpuh. 

Seperti banyak museum lainnya di Prancis, MuMa mengikuti petunjuk umum pembukaan sarana umum usai penutupan akibat pandemi. Misalnya, pengunjung wajib mengenakan masker selama berada di dalam museum dan menjaga jarak antarpengunjung. Juga, MuMa hanya menerima pengunjung yang telah melakukan reservasi daring sebelumnya, guna membatasi jumlah pengunjung yang berada di dalam museum.

Kota yang Tidak Pernah Tidur

Akibat terang lampu listrik, kota Paris menjadi kota yang tidak pernah tidur. Hal ini tergambar jelas dalam banyak lukisan yang dihasilkan selama pertengahan abad ke-19. Masa ini juga berkelindan dengan munculnya aliran seni lukis Impresionisme sehingga tak heran banyak karya lukisan tentang terangnya malam hari mengikuti gaya aliran Impresionisme. 

lukisan
Lukisan “Féérie nocturne” (Sihir Malam) karya Maxime Maufra (1900) yang menggambarkan terang kota Paris di malam hari. Lukisan ini menjadi gambar utama poster pameran.

Pameran “Nuits électriques” tidak semata-mata mengangkat terang malam hari di kota Paris, tetapi juga di kota-kota lain di Eropa: Berlin, Barcelona, Amsterdam, Stockholm, dan lainnya. Tidak lagi diterangi oleh cahaya bulan seperti dalam lukisan-lukisan sebelumnya, kini malam lebih gemerlap dalam terang lampu listrik. Terang lampu listrik telah mengubah kehidupan masyarakat Eropa pada masa itu.  

lukisan
Lukisan “Erste elektrische Straßenbeleuchtung” karya Carl Saltzmann (1884) yang menggambarkan lampu jalanan pertama di kota Berlin (Jerman).

“Kupu-Kupu Malam”

Pameran juga menampilkan berbagai sisi kehidupan manusia di malam hari dalam terang lampu listrik. Hal yang menonjol terutama adalah mereka yang bekerja di dunia hiburan, khususnya perempuan pekerja seks komersial.

lukisan
Lukisan “Le papillon de nuit” karya Leon Kaufmann (sekitar 1898-1899) dengan fokus utama kehidupan perempuan pekerja seks, yang digambarkan seperti kupu-kupu malam atau ngengat mengitari terang lampu listrik di kota.

Dunia kehidupan malam dan dunia hiburan memang saling tumpang-tindih. Lukisan-lukisan karya Henri de Toulouse Lautrec (1864-1901) menggambarkan dengan jelas ketertautan maraknya kehidupan sosial di kota Paris saat malam hari. Di balik gemerlapnya terang lampu listrik, ada banyak perempuan pekerja seks yang berupaya merebut perhatian lelaki hidung belang. Kehidupan pribadi mereka belum tentu segemerlap terangnya lampu listrik.

Satu karya yang memikat adalah lukisan “La ville” (Kota) karya Jacob Steinhardt (1887-1968). Lukisan ini menggambarkan kehidupan malam yang serba gemerlap, tetapi juga penuh ketidakpastian; keramaian sosial yang tak henti, tetapi juga kesepian jiwa manusia yang terperosok di dalam gelapnya jurang malam hari.     

ilustrasi
Karya video tentang kehidupan malam. Pengunjung dibatasi untuk 4 orang di dalam ruangan ini.

Bagaimana di Asia?

Pameran “Nuits électriques” memang hanya menampilkan karya seni dari Eropa. Dalam pameran ini, tidak ada karya seni yang menggambarkan kehidupan sosial masyarakat dalam terang lampu listrik di Asia, ataupun yang dihasilkan oleh seniman Asia.

Persoalan dan dilema kehidupan sosial akibat terang lampu listrik di malam hari boleh jadi tidak mengenal perbedaan antara Eropa (Barat) dan Asia (Timur). Sebab, bagaimanapun, kehidupan manusia itu sama adanya. Pertanyaan tentang “Bagaimana persepsi manusia akan malam mengalami perubahan akibat ditemukannya lampu listrik ?” adalah tema yang selalu terbuka dan, tentunya, bisa dikontekstualisasikan dalam situasi Indonesia. 

Bagi kita di Indonesia, mungkin kita bisa memulai membahas tema tersebut dengan melihat kembali beberapa lukisan karya seniman Indonesia, seperti misalnya lukisan “Jalan Thamrin” dan “Pasar Malam” karya Affandi, dan lukisan “Ada Orkes” karya S. Sudjojono. Terang lampu listrik bukan hanya sarana penerangan belaka, tetapi juga telah menjadi sarana pengubah kehidupan masyarakat di malam hari.

jafar_suryomenggolo
JAFAR SURYOMENGGOLO

bermukim di Paris, Prancis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.