CandikataPuisiSastraSeni

NAPOMBARU | Puisi-puisi Tjahjono Widijanto

SAAT MENGHITUNG TULANG RUSUK

entah siapa menyuruhku menghitung kembali  tulang rusukku, tetap saja hilang satu
berjuta yang lain juga mencari tak ketemu-temu sebelum pada senja yang mendekati gelap ia datang sendiri mengetuk pintu pelan-pelan

“apa kabarmu? lama tak jumpa akhirnya rambutmu memutih juga seperti kabut yang cuma sesekali sambang di dini hari”

aku menjawabnya dalam keisengan anak remaja mengingat cinta pertamanya
“cipir daun ketela, kau tak mampir hatiku jadi nelangsa!”

aku tak tahu mengapa gigir bukit ini begitu bersedia menyediakan altarnya untuk kebisuan yang kering, menyimpan  rendevous dalam urut-urutan waktu bergerak mengambang dalam musim yang tak pernah ditumbuhi gerimis

kenduri ini dimulai lagi, orang-orang kembali menghitung tulang-tulang rusuknya. 
tetap saja hilang satu, mencari dalam lipatan baju, saku celana, jaket atau kaos kaki yang cuma sesekali dicuci.

021


DI RUANG TUNGGU PELABUHAN

Di lorong ini, panas matahari melenggang gemerlap
jalanan beringsut meninggalkan kita pada  cuaca yang gemetar dan liar
rindu membawa ujudku menjadi lempung hanyut ke pusat senja
dalam kering cuaca angin menampar kegaduhan menjelma 
kesunyian yang ganjil dan notasi musik yang lapar

Ada yang ingin dilafalkan angin pada gemerlap lampu
kemarau yang sungsang mengalirkan badai
di hatiku lautan pasang dengan seribu perahu
layar-layarnya dicabik-cabik tajam taufan
melemparkannya pada kasar cadas karang

Di ruang tunggu ini cuaca menggelayut kepala
memutar kembali episode-episode yang kini tinggal jejak
cuilannya melekat di ujung sol sepatu, begitu rengat dan tua
udara mendadak berubah warna menjadi ungu
dalam temaram lampu malaikat-malaikat menari
begitu kecil dan lugu seperti mata anakku

Di ruang tunggu menunggu jemputan, kuketuk kabut
berkemas menerabas hutan yang ditanam dan terbakar di jakun sendiri 
berharap mata tidak rabun dalam halimun
kemarau pun menjadi semakin kerontang
badai dan taufan menggumpal dalam jantung

2020/021


PERJALANAN KE BEO

tak ada yang mengabadikan perjalanan ini
selain gugusan lintang, seleret bulan, hutan bakau yang runduk
bersanding lancip kelapa yang menjulur langit
sesekali bayang bayang pancang salib di tepian jalan
aspal jalan melingkar-lingkar membisu dalam gigil yang sepi
orang-orang keluar rumah berjemur bulan ngobrol di tepian
berbicara tentang laut, pantai dan ikan tuna

nelayan-nelayan yang baru pulang melaut
mengusung ikan dalam pika juga kisah gelombang
di sini bahasa laut begitu bahagia dan selalu tertawa
meski bau garam terasa juga keras dan asin
seperti keras dan asinnya keringat  air mata nelayan
berdendang riang tentang taufan dan gelombang
perahu-perahu yang karam pecah menghantam karang

di jalanan-jalanan sepi ini, antara pohonan bakau dan bau pantai
begitu tabah riwayat nelayan menghitung cermat purnama
menakar seberapa deras gelombang akan membadai
seberapa tebal halimun  mematahkan kompas juru mudi
bergumul seperti sepasang kekasih yang merindu
tak sejengkal berpisah meski palung laut begitu dalam
dingin dan kejam, seperti tangan maut yang menjulur

di sepanjang jalan dan bayang bayang bakau yang rimbuk
selalu kudengar geremang mantram-matram cinta
akan laut yang tak pernah tua untuk dipuja dan dicinta 

Beo, 017/020


ULAR BATU DI PULUTAN

bertapalah di sini di Pulutan
menunggui pertemuan buih dan karang
melumut bersama laut dan ganggang-ganggang
menanti kora-kora nelayan merambat di pantai
menancapkan jangkar dan tabik selamat datang

di Pulutan matahari begitu kuning
sisikmu kasar dalam cahaya pasir pantai
teronggok di antara cuilan-cuilan karang
angin yang mengajari menghirup asin laut
membiarkanmu melacak route-route yang pernah disinggahi
sementara atlas telah terlanjur menjamur
musim mendendangkan ninabobo yang sempurna untukmu
membiarkanmu jadi pelamun di laut yang selalu ranum

setelah kabut datang engkaulah petualang gagal
musyafir sekaligus atoana pemburu yang buta
membelah pulau demi pulau
bersama angin laut dan angin daratan
lalu kandas oleh rayuan perjamuan 
dongeng-dongeng yang hangat di puncak Piapi
terdampar oleh kutukan jadi puang katoan
riwayat yang runtuh angslup dalam laut
perlahan-lahan kau beku bersama waktu
 
Pulutan, 05017
*) atooana:  ular atau naga raksasa
puang katoan:batu berbentuk kepala ular


NAPOMBARU

jam-jam malam begitu jahanam
dalam sekejap dunia runtuh di ujung sondappa
seperti bayang-bayang ompung laut yang berkelebat
di tengah desing angin dan laut pasang

di bawah langit laut melarung abu
di kubur tanah bersama dedaunan layu
aku mengabadi dalam seruling nyanyi sunyi
rindu kekasih, rindu pala, rindu purnama

dalam kuburku legenda tumbuh 
arwah-arwah terbang mencari laut
menyaksikan kapal-kapal yang terdampar
sampan-sampan takkan pernah menepi
kekasih tak lagi menunggu di ujung jalan 

perlahan mimpi kembali sambang
dalam gugusan karang yang layar
serupa kapal tanpa nahkoda dan kelasi
utara-selatan sejiwa bertemu jadi batas nagari
--"wassu Tinonda sara Napombaru!"

Napombaru, 05017
*) Napombaru: legenda terjadinya pulau Napombaru batas wilayah Talaud selatan
sondappa: parang khas Talaud yang digunakan berburu dan perang
tinonda: batas wilayah Talaud paling utara berbatasan Filipina
ompung laut: hantu lautan
 

NUBUAT LAUT

Laut pucat dalam mantel kelabu,
kutebak riak-riak buihnya di nadiku
gelombangnya menyimpan notasi-notasi asing
lamat-lamat di sepanjang antara jantung dan jakun
seekor ikan menggelepar-gelelapar di hulunya
saat seorang menembakkan lutta di lobang karang

Laut abu-abu berlabuh dalam nadi
lembing-lembing taufan menghujamkan hujan
menatahnya pada ceruk-ceruk kasar karang batu
tempat sesekali burung alit menyambanginya
menawarkan  hening missa saat embun menyentuh pagi
kidung-kidung  perih menyeret jejakku
menyeberangi seribu tahun yang hitam
mencoba menatap bulan membenam dalam impian

Laut abu-abu pasang dalam nadi
rangkak-rangka hujan menggali kubur para moyang
dari tengkorak Tatahe hingga Tanjung Berdarah
dalam derap taufan dan bulan yang pingsan
meninggalkan gemuruh geloranya sendiri
mentakzim sunyi pada tahun-tahun membatu
bersama bisikan-bisikan yang semakin sayup
sebelum melarut dalam senyap halimun
sebelum seribu rindu kujelmakan jadi puisi.
 
Tinonda, 052017


KUNCEN

tak mudah kau bayangkan setumpuk batu menganga menceritakan dirinya sendiri. menelusuri tepi-tepi sunyi bercabang-cabang menuju arus asing yang tak pernah diam menggigil. setiap kali lafalku terputus berkelebat bayangan menjumpaiku dalam riwayat tak tamat-tamat
“kau mesti tetap di sini, menemaniku menulis kembali kisah yang tak kenal musim!”

udara yang atis tergelincir dalam lorong-lorong asing yang bising dalam hening, dan lumut yang meranggas di batu-batu akan membantu membawamu tamasya ke negeri leluhur 
batu nisan tempat para satriya bercambuk api di tanah-tanah keramat
tak ada yang dapat lolos dari sihir ini, ciuman waktu telah menjadi candu
menyeret pentakziah sepi yang malang menaburkan japa mantra juga bunga-bunga
sampai terik penghabisan tentang kenangan akan keindahan kematian yang mungil

waktu yang tergelincir di antara desir hening dan bising
tak sanggup memberi bahasa pada bumi
hanya menjelma kompas liar menuju rindu yang gelisah
pada hari-hari yang makin keramat
menghapus jejak-jejak darah dari setiap yang kalah

Ngawi, 2014


SISA DAGING DI TULANG RUSUK

ada yang menitipkan tubuh di sini lanskap cuaca yang tak lengkap, samar-samar hanya sebuah suwir-suwir kecil dengan warna merangsang memaksa jakunmu untuk sesekali bergetar.
dunia apa lagi yang akan kau berikan padaku setelah percintaan tak selesai ini?
seperti kisah-kisah besar yang tak tuntas, hanya  ada sedikit jeda di balik tanda tanya
dalam khayal kau mencoba menangkapnya, membentangkannya di ranjang
menelisiknya seperti sebuah peta yang diciptakan untuk diraba
di dalamnya terdapat  jalan setapak kadang kelokan kecil,
selalu ada ujung yang berakhir pada cecabang
simpang-simpang jalan yang rumpil dari cuilan masa lalu, gempil oleh waktu
menyimpan alamat yang meski tak lengkap namun bisa kau bayangkan 
sebuah tempat romantis tempat sepasang remaja belajar mengobral kata-kata gombal
lalu selesai setelah kecup pertama meninggalkan lanskap tak pernah tuntas

Ngawi, 2017/020


BAYANG-BAYANG

tak ada yang meminta aku menari mengikutimu kujilat kau dalam tilasmu paling lamat sekalipun seperti gerimis yang tajam menggores pasir lalu mengering dalam hitungan detik
tak ada lagi rupa tapi jejak tetap lamat terbaca. aku menggeliat dalam bola matamu, membiarkan udara bergumam dan gerimis yang jatuh mendentangkan lagu gelisah yang lahir dari cakrawala yang jauh. detik-detik jam mulai merahasiakan luka gigitannya. segala kata-katamu bagai api yang bertaring dan aku termangu dalam rimbun senyap yang berjarak. kubayangkan sejumput kisah akan melumut di tengah udara malam yang mendadak kering.

bersama malam yang makin kelam bulan perlahan ambyar di jantungku mengalirkan seribu sungai membandang ingatan-ingatan kecut melintas-lintas seperti kilat pecut merajam menyamaki, “siapa yang sanggup merampungkan percakapan ini?’ 

ada yang hilang di sini, sunyi gagal membentuk kata-kata dan sajak menjadi sarat bunyi pedih bersama waktu yang meronta-ronta dan mimpi perih terbang bersamanya, melambai dengan mata malaikat tua sementara belum sempat dipikirkan bagaimana menulis epitaf sebelum melepas tabik terakhir


Ngawi, 2017/021


SERBUK KOPI DI MEJA KERJA

berapa lama kau habiskan waktu untuk sampai di sini?
seribu jukung yang karam dan perlahan dilupakan
membayangkan sebuah daftar riwayat terbentang
serupa atlas-atlas yang terbakar 
bersama hikayat perkasa para nahkoda
wajah pucat para kelasi yang kuyup oleh taufan
sebelum kembali kering terbaring menghitam
tercecer di meja kerja dan sedikit di sudut bibir 

aku terseret dalam kelam ceruk ceruk lembahmu 
di sini adakah jalan pulang bagi para petualang 
yang telah suntuk menggelar pertemuan dari kutub ke kutub
pada aroma hitammu yang meliuk-liuk aku takluk
terperangkap lancip sunyi menyelinap di kelopak mata
seribu jejak mengapung di udara dan rimbun kata-kata ambyar jadi mantra

Ngawi, 2019/021
wid
TJAHJONO WIDIJANTO

Penyair Nasional dan Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini lahir di Ngawi, 18 April 1969. Menulis puisi, esai, dan sesekali cerpen di berbagai media nasional. Buku-bukunya a.l: Eksotika Sastra: Kumpulan Esai Telaah Sastra (2017), Metafora Waktu: Kumpulan Esai Budaya (2017), Dari Zaman Kapujanggan Hingga Kapitalisme: Segugusan Esai dan Telaah Sastra (2011), Penakwil Sunyi di Jalan-jalan Api (2018), Wangsit Langit (2015), Janturan (Juni, 2011), Cakil (2014), Menulis Sastra Siapa Takut? (2014), Dari Zaman Citra ke Metafiksi, Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ (Kepustakaan Populer Gramedia dan Dewan Kesenian Jakarta, 2010), Compassion & Solidarity A Bilingual Anthology of Indonesian Writing (UWRF 2009), dll. Diundang dalam berbagai acara sastra, a.l:, Cakrawala Sastra Indonesia (Dewan Kesenian Jakarta, 2004),memberikan ceramah sastra di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan  (Juni, 2009), Festival Sastra Internasional Ubud Writters and Readers Festival  (2009), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996), dll. Memperoleh Penghargaan Sastra Pendidik dari Badan Pusat Bahasa (2011), Penghargaan Seniman (Sastrawan) Gubernur Jawa Timur (2014) dan Penghargaan Sutasoma (Balai Bahasa Jawa Timur, 2019). Memenangkan berbagai sayembara menulis a.l: Pemenang II Sayembara Kritik Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2004), Pemenang Unggulan Telaah Sastra Nasional Dewan Kesenian Jakarta (2010), Pemenang II Sayembara Pusat Perbukuan Nasional (2008 dan 2009), Pemenang II Sayembara Esai Sastra Korea (2009), dll. Tinggal di Ngawi, Jawa Timur.

 *Gambar Utama: Foto Alex Padurariu di Unsplash.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *