CandikataPuisiSastra

Mengayuh Huruf-Huruf Dingin | puisi Sultan Musa

MENGAYUH  HURUF-HURUF  DINGIN

Puisiku  terus  bermain,
bersama  huruf-huruf  dingin
seperti  menganyuh  sampan  
kutarik  lurus  sebuah  perjalanan  

Huruf-huruf  dingin  
hanyut  menari  dengan  doa
bergerak  lugas
ke  otakku

Huruf-huruf  dingin
menyelinap  tenang  bersama  damai
berharap  balas
di  kepalaku

Bersama  puisi  segalanya  merekah
bertumbuh  selaras  kisah
perjalanan  menuju  ke  rumah
dan  kutemukan  sisi  doa  
serta  damai  yang  menengadah

Entah,  berapa  jauh  akan  mengayuh  ....!

#2021


DAN  AKU  TETAP  MENULIS  SYAIR

Aku  menulis  syair
bukan  karena  mencintai  syair
tapi  rintihan  kebenaranlah  membawaku  
lewat  syair  hamba  mengucapkan  keyakinan
menggiring  titah  kebenaran
meluluhlantakkan  ketidakadilan
dan  aku  pun  di  dalam  batu  kebijaksanaan
meski  kadang  terperangkap,  menganga  tak  berkutik

dan  syair  melabuhkanku
dipapas  sinar  sunyi  senyap
perlahan  menerangi  keikhlasan
dan  dihadang  ketulusan
.....menghampar  sejauh  melempar  syair  

begitu  adanya  !
pada  sudut  berbeda.....menyatu  dan  tinggal,
terjaga  di  penghujung  sebuah  titik

riuh  oleh  waktu  yang  menyatu
atau  lekuk  sesal  yang  tertinggal
.....dan  aku  tetap  menulis  syair

#2021

SULTAN MUSA berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Tulisannya tersiar di berbagai platform media daring & luring. Karya-karyanya masuk dalam beberapa antologi bersama penyair nasional & internasional. Tercatat pula di buku  “Apa  &  Siapa  Penyair  Indonesia  –  Yayasan  Hari  Puisi  Indonesia”  Jakarta  2017.  Karya  tunggalnya  bertajuk  “TITIK  KOMA”  (2021)  masuk  nominasi  Buku  Puisi  Unggulan  versi  Penghargaan  Sastra  2021  Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur. IG :  @sultanmusa97

Gambar Utama: Foto Jess Bailey Designs dari Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *