Menemukan Nama Kecil | esai AS KURNIA

Melihat perkembangan seni rupa nontradisional di Ubud seiring datangnya perupa pendatang yang membawa latar belakang pendidikan desain grafis, interior maupun video – yang di masa saya maupun senior saya bisa dikatakan tidak ada atau jika ada tidak semasif sekarang – saya ingin membaca kembali seni rupa modern dan kontemporer di Ubud saat ini. Seni rupa Ubud kini makin beragam. Kelak saya akan meriset lebih jauh. Di tulisan ini, saya hanya ingin memberi pemaparan sekilas.

Jika mengamati desain-desain logo di toko-toko kecil yang bertebaran di sepanjang jalan di Ubud, kualitasnya jauh berbeda dibanding desain-desain lama yang tersisa di beberapa perusahaan atau institusi lama. Motifnya pun sangat variatif dan unsur tradisi nampak di dalamnya. Namun jangan mencoba menyarankan pengusaha untuk mengubah logo lama perusahaannya. Dengan tegas mereka akan menolak dengan alasan bahwa logo tersebut telah menyimpan banyak narasi, yaitu sejarah dan spirit perjalanan perusahaan yang tentu penuh dinamika.

Datangnya perupa-perupa asing di era kontemporer juga memberi dinamika atau warna seperti halnya seniman-seniman asing dulu seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet dan Arie Smit. Interaksi dan komunikasi terbentuk di pergaulan sehari-hari, di komunitas atau peristiwa kesenian. Beberapa karya street art seniman asing bisa dijumpai di beberapa lokasi. Salah satu seniman street art yang menebarkan karyanya di jalanan adalah Sautel Cago, seniman multimedia berpendidikan di Beaux Arts de Paris. Dia meninggalkan jejaknya di dinding di seluruh dunia, terutama Vietnam, Jawa dan Bali.

Ragam Tato dan Digitalisasi

Tidak seperti tahun 90-an, studio tato kini bertebaran di Ubud. Motif desainnya juga beragam. Tribalisme rupanya menjadi pilihan menarik bagi para seniman tato belakangan ini. Kesadaran memasukkan unsur etnik tumbuh di tengah geliat seni rupa kontemporer. Pengerjaan desainnya juga tidak cuma manual, tapi sudah menggunakan perangkat digital. Agung Babbau atau sering dipanggil Bolang adalah salah satu seniman tato yang menggarap desain ornamentalnya dengan teknologi digital.

Era digital benar-benar dirayakan oleh para generasi milenial. Beta Imacullata, di antaranya. Di samping membuat gambar di buku kecil dengan menggunakan pen drawing, dia juga menggambar di layar tablet dengan menggunakan pen stilus dan beragam tool dari aplikasi sketchbook, sementara Ben Wicaksono menggarap lukisan digital dengan teknik (efek visual) 3D. Karya-karya Ben sudah merambah dunia NFT. Kehadirannya di Ubud tentu akan memberi dampak (besar atau kecil)  pada khazanah seni lukis di Ubud dan sekitarnya. Perkembangan ke depan tentu akan menarik untuk diamati.

Pelukis yang berlatar belakang seni grafis lainnya adalah Billy Rismawan. Dia lulusan desain grafis Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya. Karyanya cenderung minisize dengan media pen dan tinta di kertas. Temanya seputar kehidupan sosial, terkait kondisi diri, psikis dan pergolakan pikiran. Visual karyanya dibangun dengan idiom yang kartunal, simbolis, terkesan surealistis. Ada sosok spirit doll yang selalu hadir di karya-karyanya.

Pameran SarengSami digagas untuk mengadopsi seniman-seniman yang belum atau jarang dapat kesempatan berpameran yang disebabkan beragam faktor, tentunya. Seperti Vannya, misalnya, pelukis dari Jakarta yang sekarang tinggal di Ubud. Menurut pengakuannya, lulusan pendidikan desain grafis di Nanyang Technological University Singapura ini belum pernah berpameran di Indonesia, padahal karya-karyanya sangat menarik. Masih banyak perupa lain yang dalam kesempatan ini belum bisa diikutkan disebabkan keterbatasan ruang.

Pameran SarengSami di Museum ARMA, Ubud, 19 Maret – 19 April 2022

Sareng Sami atau Kebersamaan

Seni, di samping selalu dikaitkan dengan ‘budhi’, adalah refleksi pribadi dan jiwa sang seniman. Di ranah wacana, dia adalah ungkapan pikiran. Ada pesan yang disampaikan. Entah itu pesan pribadi si seniman atau pesan publik yang diwakilinya. Dalam hal ini, seni sebagai media komunikasi, batin maupun pikiran. Pagelaran seni adalah sebuah forum komunikasi antara seniman dan publik dengan media pengantar berupa karya audio maupun visual. Di sinilah seniman sebagai makhluk sosial bersosialisasi. Ada sebuah nilai ideal di sana.

Tujuan digelarnya pameran adalah memberdayakan potensi para seniman sehingga menemukan bentuk ideal masing-masing. Kedua, membuka networking untuk melangkah lebih jauh dan meluas di pergaulan publik seni rupa. Ketiga, mengembangkan toleransi yang dilandasi spirit kebersamaan antarmanusia di lintas global sebagaimana dicitrakan oleh Ubud yang, setelah melalui proses panjang, secara tak disengaja membentuk dirinya menjadi kampung internasional. Manusia-manusia lintas bangsa ada di dalamnya, saling berinteraksi di berbagai aktivitas sosial dan budaya. Bicara seni global, sepatutnya kita mesti menyimak pergaulan globalnya.

Karya-karya seniman SarengSami sangat beragam. Dari bentuk representatif yang proporsional hingga non-proporsional seperti lazim dijumpai pada genre naivism atau outsider art. Citra itu terwakili pada karya Bambang Wiwoho dan Handy Saputra. Bentuk abstraksi yang merepresentasikan garis, ruang dan warna, bisa dijumpai pada lukisan Dewa Merta Nusa, Edy Able dan Valentine Markova. Beberapa karya mencoba bertutur tentang permasalahan sosial sehari-hari seperti nampak pada karya Syukur Setyo Budi dan Ulu Fjolkunnigr. Ada pula yang mengangkat ikon dan kisah mitologi atau legenda. Lukisan-lukisan tersebut nampak terkesan surealistis.

Bentuk wanita dalam karya Vannya mengingatkan pada figur-figur di cerita mitologi atau pada serial komik fantasi Frank Frazetta dan Boris Vallejo. Tentu Vannya tidak semata-mata mengadaptasi figur-figur tersebut. Ini lebih pada simbol kekacauan semesta alam. Akasha atau either sebagai ruang bagi semesta, yang di sini digambarkan sebagai Sang Rahim, memiliki kuasa dalam menghancurkan dan memperbarui kembali demi keseimbangan kosmologi. Dan ketika kekuasaan itu diwariskan kepada manusia, dia bisa menghancurkan anak-anaknya dan rahim ibunya sendiri.

vannya
“Akash”, Raphaela Vannya, 59,4 x 42 cm, ink and drawing pen on paper, 2020

Kristina Kukushkina mengekspresikan perasaannya melalui beragam ekspresi dan bentuk wajah. Rupa-rupa perempuan di karyanya tentu mewakili dirinya. Melalui ekspresi wajah dan mata, kita akan dapat  menyelami perasaan  seseorang,  demikian  ungkapnya.

Karya  foto  Windujati  yang  berlatar belakang hitam pekat seperti ingin memberi peran lebih kepada cahaya. Pendapat bahwa warna adalah cahaya yang menimpa pada benda sepertinya menguatkan pembacaan karya tersebut. Windujati mendramatisasi kontras atau gelap-terang dan meninggalkan tegangan di kepala kita. 

Karya seni digital dan ‘instalasi bunyi’ dari Wiwanto Purnawan yang mengkritisi gejala konsumerisme spiritual melengkapi keragaman ini.

Saya tidak punya data pasti, tapi perkiraan saya, sedikitnya ada ratusan perupa di Bali. Terbanyak di Ubud, meski ada penurunan jumlah perupa tradisional karena generasi muda lebih memilih menekuni seni rupa modern. Dari sekian ratusan perupa, yang memiliki networking atau koneksi dengan institusi seni, entah itu art space, galeri, museum, art manager, kurator, perkiraannya tak lebih dari 5%.  Banyak perupa yang tak berkesempatan pamer karya di sebuah ruang atau institusi seni, padahal karya mereka tidak bisa cuma dilihat dengan sebelah mata, bahkan harus dilihat pula dengan menggunakan hati.

Sudah selayaknya institusi seni, bahkan lembaga pemerintah terkait, sesekali men-support mereka, memberinya panggung. Tidak melihat nama-nama besar untuk sementara. Melihat nama-nama kecil terkadang kita menemukan kemurnian, kejujuran di sana.

Bedulu, 13 Januari 2022

poster-sarengsami
as-kurnia

AS Kurnia, perupa, tinggal di Ubud

Gambar Utama: “Untel-Untelan”, Anton Setiawan, 80 x 100 cm, acrylic on canvas, 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *