Melihat Dunia dari Balik Jendela Kamar | puisi-puisi Fajar Satriyo

Melihat Dunia dari Balik Jendela Kamar


Langit menampakkan guratan-guratan wajahnya yang murung, angin tak dapat bersitahan, mengetuk-ngetuk jendela kamar, membangunkanku dari tidur panjang, aku segera meluncur melihat dunia dari balik jendela kamar; dingin masih berebut nyala cahaya di lampu jalan itu,

tanda-tanda jalan menunjukkan arah yang kabur - menuju tempat yang dulu pernah ada - dalam ingatanku, pohon-pohon cemara mendengus karena cuaca kini begitu dingin, sepi terasa sampai, ketika tidak ada siapapun diantara dunia yang kini ngeblur dari balik kaca jendela. Tidak ada dirimu di situ. Tidak ada.

Kutempelkan wajahku ke jendela, dalam benakku nampak diorama semasa kita kanak-kanak; engkau duduk di bangku panjang jalan itu, bertamasya bersama dengan musim dingin, saling bercakap kabar dengan cericit burung, hingga terkadang kita merapatkan wajah saling memandang, di antara keramaian-keramaian kota yang seperti pelancong di dunia kita. 

Kini, kurapatkan wajahku ke kaca jendela, mengeja dirimu dalam batin, seolah begitu saja aku menyajikan pertemuan. Dari balik jendela kamarku nampak dunia yang samar.



Pukul Empat Pagi


Pukul empat pagi, engkau harus segera menanggalkan adonan kue kacang, yang telah dipesan oleh seorang pelancong dari negeri seberang, ada sisa-sisa mimpi yang terbawa oleh matamu, secangkir kopi tidak akan dapat menundukkan rasa kantuk, mereka telah bergentayangan menghantui pikiran, meski dirimu telah terjaga,

Pukul empat pagi, tak akan kubiarkan bau aroma kue menyerbak, sebelum hari ini engkau menuntaskan mimpi yang tengah bersandar di kursi, tidurlah segera, ada dunia yang telah selesai dicipta hanya dalam sepersekian detik di sana - Ada pula aku yang suntuk menyambut kedatanganmu.



Sakuramochi


Maret telah tanggal, nun perempuan sedang menggaris bayangannya dengan krayon pastel, satu tiket perjalanan musim semi telah dipesan, kenangan segera menyeruak bagai bau mochi yang dihidangkan bulan lalu,

hujan berkelebat mengguyur ingatannya yang tergerai, segera perempuan itu menutup lembaran sejarah Tokugawa, bunga Sakura dan sesosok pria yang kerap merunut jejak bayangannya, 

tubuhnya kini rintik dari setiap rasa sakit yang disembunyikan dari rinai hujan, kesenduan mencoba melenyapkan Maret yang tertanggal di kalender HP-nya, meski ia telah mencoba menggeser semuanya sejauh mungkin, 

meski derit jantungnya menyangkal -- hubungan tetap kekal.



Dan Kematian Semakin Dekat


Kemarin, esok dan nanti tengah beranjak dari hidupku yang sedang belajar merangkak, mereka telah mengemas berkeping ingatan; perayaan kelahiran, ciuman ibu, mimpi basah kekasih, bau rokok kretek ayah dan satu tiket kematian,

dunia tidak abadi bukan? Suara itu lantang diucapkan oleh pasien di ruang tunggu sebelum beranjak, diriku masih belajar merangkak di jalanan kosong, selayaknya lorong ruang tunggu kehampaan,

sepi yang cukup kukenal sedang memegang kerah bajuku, jam masih berdetak seperti biasanya, sementara aku harus segera merangkak dari sabtu ke minggu, lantas tak kudapati tanggal di hari minggu 

pada lembaran kalender jantungku, segera saja aku tergesa-gesa memberikan selembar tiket yang semestinya akan tiba.
fajar-satriyo

Fajar Satriyo lahir di Banyuwangi. Aktif berteater di Teater Gapus Surabaya dan saat ini sedang menempuh program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Beberapa karyanya terbit dalam buku antologi, salah satunya Wabah dan Cerita-cerita Lainnya (2020). Fajar dapat disapa di Instagram @fajar.satriyo

Gambar utama: Foto Anni Roenkae dari Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.