MASA TUA DERSAWI | cerita Arianto Adipurwanto

Setiap ia bicara, akan terdengar seperti suara langkah kaki bocah-bocah yang tengah bermain di genangan air dari rongga mulutnya. Kurang lebih, lidahnya yang bergerak-gerak, serupa dayung sampan yang dipukul-pukulkan di atas permukaan air. Dari mulutnya yang lebar, berhamburan percikan-percikan liur ke segala arah.    

            Dersawi terlahir dengan kelebihan air liur. Kelebihan ini didukung oleh mulutnya yang lebar. Kedua ujung bibirnya semakin berjarak apabila amarahnya meninggi. Dan semakin besar amarahnya, ia nyaris melahirkan sungai dari rongga mulutnya.  

            Selama hidupnya, ia tidak pernah merasakan amarah seperti hari ini. Air liur seperti tak henti-hentinya mengalir dari kedua ujung bibirnya. Kedua kakinya bergetar hebat. Lelaki bermata juling, yang mendatangi rumahnya tadi sore itulah sumber kemarahannya.  

            Ketika ia tengah duduk di depan pintu, Maq Polo datang tergesa-gesa. Di tangan kanannya, terayun-ayun parang yang tampak mengilap, bekas batu asah masih jelas terlihat. Matanya yang juling, untuk pertama kalinya tampak seperti mata orang normal, dan dari semua gelagatnya, Dersawi langsung mengetahui kalau ada yang tidak beres. Ibu jari kaki tempat terdapatnya bekas luka, berdenyut-denyut.  

            “Bekas sapi siapa di dekat pohon besar itu?” tanya Maq Polo.

            Dersawi terdiam sebentar. Betisnya yang penuh urat—saling tindih satu dengan yang lain—berkedut-kedut. Ia memandang Maq Polo dengan tatapan tajam, seperti tatapan binatang buas yang akan menelan mangsanya.

            “Tidak ada sapi…sapi siapa-siapa bisa..bisa masuk di kebun ini. Ka..kalau ada, sudah saya bunuh,” jawab Dersawi tergesa-gesa. Air liur selalu membuatnya susah berbicara. Hujan lebat keluar dari mulutnya.

            “Kalau bukan sapi, lalu bekas apa di sana itu, setan mungkin ya,” sindir Maq Polo sambil berjalan mondar-mandir di halaman rumah. Sepasang matanya menatap awas. Ia berhasrat menemukan kesalahan-kesalahan lain, yang dapat ia jadikan alasan untuk menyalahkan Dersawi.  

            “Pasti ada yang datang..yang datang mencuri rumput, tadi..tadi, saya ke sana ndak ada yang hi..hilang.” Kata-kata Dersawi tidak terkendalikan. Lidahnya seperti telah terbenam dalam genangan liurnya, menyulitkannya bergerak. Biasanya, jika sudah memuncak, kata-katanya benar-benar tidak bisa dipahami.

            “Coba pelepah kelapa kering yang berserakan itu dipungut, semakin hari kebun ini kok makin kotor, ya.” Maq Polo mendengus.

            Mendengar kata-kata Maq Polo yang terakhir, Dersawi langsung berdiri. Pelan-pelan ia berjalan ke dekat Maq Polo dan melihat pelepah kelapa kering yang dimaksud. Langkahnya tersendat-sendat, seperti orang pincang yang berjalan di lumpur.

            “Ba, barrru sa..saja dia jatuh itu, tadi pas saya ke sana ndak..ndak ada..ada apa-apa.”

            “Ndak usah dijaga sudah kebun ini sekarang, biar dia begini saja. Kamu urus saja air liurmu yang banyak itu.” Lalu Maq Polo berjalan pelan-pelan ke jebak. Di sana, ia berhenti sebentar, berpura-pura melihat keadaan sekeliling, padahal ia ingin menunggu kata-kata dari Dersawi. Tetapi Dersawi, di belakangnya, tidak berhasil mengucapkan apa pun.

            Ia telah sering dihina gara-gara liurnya, tapi ketika hinaan itu keluar dari mulut orang yang selama ini selalu memperlakukan dia dengan sopan, ia merasa seperti disiram bara api. “Saya makan matamu sekarang,” katanya dalam hati. Geram.

            Selama ia bergulat dengan kemurkaannya, Maq Polo telah pergi.

            Sejak ia muda, Dersawi telah dipercayai untuk menjaga kebun oleh keluarga Maq Polo. Karena ia lelaki kuat dan rajin bekerja. Kebun yang tadinya kosong melompong, ia tanami dengan berbagai jenis tanaman.

            Laos berjejer dari ujung satu ke ujung yang lain. Pisang di mana-mana. Kelapa karena rajin dirawat berbuah banyak dibandingkan sebelumnya. Satu lagi yang paling tampak berubah di kebun ini, rumput hijau tebal terhampar di setiap inci kebun.

            Maq Polo begitu puas melihat keberhasilan kebun miliknya. Tak henti-hentinya ia memuji Dersawi. Tetapi hari ini; puluhan tahun kemudian, ketika Dersawi telah berusia tua dan tidak lagi sanggup bekerja dengan baik, ia datang menyampaikan kekecewaannya. Ia merasa Dersawi sangat malas. Kebun yang dulunya selalu menghasilkan banyak keuntungan, kini hampir tidak memberikan apa-apa. Karenanya, ia berpikir harus mencari pekerja lain, dan mengusir Dersawi.  

***

            Ketika tubuhnya mulai sedikit tenang, sebelum malam benar-benar datang dan sebelum ia pergi meninggalkan kebun yang telah ia garap selama puluhan tahun, ia berdiri, mengambil parang, mengasahnya sampai benar-benar lancip, lantas berjalan ke kebun. Mula-mula ia menuju dekat pohon besar yang dimaksud oleh Maq Polo.

            Rumput tebal telah carut-marut. Bekas potongan berserakan di mana-mana. Dari ujung bekas potongan, ia dengan cepat mengetahui bahwa itu adalah bekas tebasan. Sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda gigi sapi, atau bekas orang mencuri. Akhirnya ia tahu kalau Maq Polo memang berniat mengusirnya. Mengetahui ini, amarahnya semakin meluap-luap. Dengan parang yang mengilap, sekuat tenaga, ia membabat habis rumput-rumput itu, sampai tercipta potongan-potongan kecil, yang berhamburan sebentar lalu jatuh bertumpuk-tumpuk di tempatnya. Dua rempung pisang yang tidak jauh dari tempatnya, dengan beringas, ia tumpas habis.

            Keringat membasahi sekujur tubuhnya setelah selesai melibas hasil jerih payahnya. Potongan-potongan rumput masih menempel di parang, lengan, dan juga rambutnya. Letih, ia berjalan terantuk-antuk ke rumahnya.

            Sampai di rumah, ia letakkan parang di berugak. Sehelai rumput yang menempel di parang, menarik perhatiannya. Dengan telunjuk dan ibu jari kanannya, ia raih potongan rumput itu, memandangnya dalam waktu yang sangat lama. Sebersit ingatan menyelinap di benaknya. Pelan namun pasti.

            Ia teringat saat menanam pisang dan cangkul mengenai ibu jari kakinya. Sekarang semua yang ia tanam telah ia binasakan. Pada saat yang bersamaan, terputar lagi hinaan Maq Polo, laki-laki yang sebenarnya tidak lebih kuat darinya. Tubuh Maq Polo ringkih dan sakit-sakitan. Tetapi karena dia adalah pemilik tanah, ia bisa melakukan apa pun semaunya. Kegeraman kini sempurna menguasai Dersawi.

            Parang yang tadi ia geletakkan sekarang seperti bisa berbicara. Tidak bisa mengendalikan diri, Dersawi meraih parang itu dan kemudian dengan satu gerakan, ia menetak keras tiang berugak. Tiang dari batang pinang itu terluka sedikit, kemudian tetakan bertubi-tubi langsung meruntuhkannya.

            Cara berugak ini ambruk, terjengkang, dengan salah satu tiang telah patah, entah dengan alasan apa terlihat seperti anjing yang sedang kencing di matanya. Kegeraman dalam dirinya pun semakin bertambah. Dengan kedua tangannya, ia memegang erat gagang parang, lalu menghantamkannya di atap daun kelapa, sampai hancuran pelepah kelapa berhamburan ke berbagai arah.

            Setelah berugaknya benar-benar ambruk, ia berdiri, melihat dengan tatapan nyalang. Bibirnya yang basah kuyup terbuka lebar dan bergetar. Keringat mengalir terus dari sekujur tubuhnya.

            Setelah puas menatap rereruntuhan berugak di depannya, lalu ia palingkan pandangan ke arah rumah gubuk tempat ia menyimpan segala keperluan hidupnya, dan tempat ia tidur setiap malam. Rumah bertabir daun kelapa ini, terlihat sangat mudah untuk diruntuhkan. Kali ini, bukan dengan parang, tetapi dengan satu cara yang tebersit baru saja di kepalanya. Dari buntalan kain di pusarnya, ia keluarkan dompet kain dan ia keluarkan pemantik dari situ.

            Seolah alam ingin turut serta melancarkan niatnya, satu kali gerakan, ujung kapas pemantik besi di tangan kanannya langsung menyala. Pelan-pelan ia membakar ujung bawah dinding rumah itu. Hal yang sama ia lakukan di beberapa bagian lain. Baru teringat akan sesuatu, ia berlari ke dalam, dan keluar membawa beberapa lembar pakaian, tiga piring besi yang telah pesuk di beberapa bagian, satu gelas dan sendok. Dengan semua kekayaan yang ia miliki, ia melangkah terbungkuk-bungkuk keluar jebak.Seiring dengan langkahnya menjauhi rumah, api semakin membesar.  

            Ia berjalan dengan tenang, karena telah bisa membalas dendam pada orang yang telah menjahatinya.*

Catatan: jebak = gerbang.

Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, NTB.

Gambar Utama: “The Flame” oleh Anthony Rao di Unsplash.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *