LELAKI DI ANTARA RERIMBUN POHON | cerita Rahmi Rahmayati

Seorang lelaki di hampir penghujung usianya, selalu merenung dan terkadang menyesali dirinya atas keputusan yang diambil di masa lalunya. Dia selalu menceritakan kesedihan dan penyesalannya pada bunga-bunga dan pohon yang rimbun tatkala bening embun pagi jatuh di antara wangi melati. Benih pohon dan bunga-bunga yang ia tanam serta wangi melati yang ditanam ibu dan istrinya di sebuah pekarangan rumah yang seumur hidupnya ingin ia tempati.

“Kita jual rumah ini dan nanti kita dan anak-anak tinggal di sebuah desa di Cianjur. Nanti kita juga mencari penghidupan di sana,” ungkapnya suatu hari pada istrinya. Dan hal ini didengar oleh anak-anaknya.

“Menjual rumah ini? Tinggal di desa? Kita bisa bekerja apa di sana?” respons istrinya.

“Kita bertani. Kita mengolah sawah di sana.” balas suaminya.

“Bertani? Mengolah sawah? Apa kau bisa bertani dan apa aku juga mampu bertani di sana? Sedangkan kita terbiasa hidup di kota dan kondisimu saat ini yang sering sakit tidak mungkin kuat untuk bertani! Segala sesuatu pikirkan secara matang, Kang!” jawaban istrinya dengan intonasi suara yang tinggi, yang tidak hanya didengar oleh anak-anaknya, tetapi juga para pelanggan bakso yang sedang membeli bakso jualan ia dan istrinya.

Ia dan istrinya membuka warung bakso di rumahnya setelah sebelumnya pernah berjualan berbagai macam makanan. Bahkan, sebelumnya, istrinya pernah usaha jual beli pakaian, kerudung, mukena, dan berbagai kerajinan yang dibuat oleh istri dan dibantu anak-anaknya. Anak-anaknya selalu membantu dia dan istrinya karena mereka sepertinya memahami kondisi perekonomian orang tua mereka agar mereka bisa bersekolah dan kuliah.

Dia memiliki lima orang anak yang masih harus disekolahkannya, tetapi nasib seperti tidak berpihak padanya. Usaha yang dia bangun selama bertahun-tahun dan telah menghasilkan banyak keuntungan, seperti rumah, sawah, dan kehidupan yang layak untuk anak dan istrinya tiba-tiba harus kembali lagi pada titik nol. Hal ini karena ia jatuh sakit, yang kemudian biaya yang harus ia keluarkan, harus merelakan sawah dan hartanya untuk berobat. Adapun  harta yang tersisa baginya adalah rumah dengan pekarangan yang penuh dengan rimbun pohon beserta anak-anak dan istrinya.

Untuk melepaskan kepenatan pikirannya, dia selalu bercerita pada bunga-bunga dan rerimbun pohon yang ditanamnya sejak dulu. Dia selalu merasa bahwa bunga-bunga dan pohon-pohon yang rimbun itu adalah teman-teman yang selalu setia menemaninya di kala bahagia dan duka. Dia menyampaikan cerita pada bunga-bunga dan rerimbun pohon di halaman rumahnya tentang kenangannya saat meninggalkan pekerjaannya dulu di sebuah desa sebagai guru pegawai negeri.

Dia bercerita bahwa teman-teman seangkatannya di sekolah guru telah menjadi orang-orang yang berhasil karena penuh kesabaran menjalani takdir mereka sebagai guru pegawai negeri. Berbeda hal dengannya, kehidupan yang susah telah mengubahnya untuk melawan takdir sebagai guru pegawai negeri.

Dulu, sekitar tahun 1958, dia diangkat menjadi guru pegawai negeri di salah satu sekolah di Kabupaten Cianjur, tepatnya Desa Cikidangbayabang. Jarak sekolah tersebut jauh dari tempat tinggalnya. Dia tinggal dengan ayah dan ibu tiri serta lima saudara tirinya. Gaji yang dia dapatkan habis untuk ongkos naik kendaraan untuk berangkat mengajar ke sekolah setiap hari. Dia tidak bisa menabung dan tidak bisa membantu atau tepatnya membahagiakan ibunya di desa kelahirannya dan juga ayahnya yang tinggal dengannya saat itu. Bahkan, dia masih harus menggantungkan hidupnya pada ayah dan ibu tirinya kala itu. Selain itu, saat itu kondisi desa yang ditinggalinya dalam keadaan tidak aman karena banyaknya gerombolan (pemberontakan DI/TII) yang terjadi di sana.

Akhirnya, pada sekitar tahun 1960-an, dia memutuskan untuk meninggalkan takdirnya sebagai guru di sana dan ikut pamannya  ke Kota Bandung dan bekerja sebagai seorang juru foto (fotografer) di studio foto milik pamannya. Kala itu belum banyak orang memiliki studio foto dan tidak begitu banyak yang menekuni profesi juru foto. Keputusannya melepaskan pekerjaan sebagai guru pegawai negeri membuat ibunya sangat marah dan kecewa. Hal ini karena ibunya mengetahui persis pengorbanan yang dilakukan dirinya dan anaknya ketika sekolah di SGB (Sekolah Guru B) selama empat tahun, salah satunya hampir setiap subuh dia harus mengejar kereta api karena dia harus pergi untuk bersekolah SGB.

Ingatan dan kenangannya lalu mengembara pada tahun 1985, ketika dia menceritakan keinginan pada ibu, istri, dan temannya untuk kembali menjadi seorang guru. Lalu temannya menyarankan agar dia kembali mengurus berkas persyaratan untuk mengaktifkan kembali menjadi guru pegawai negeri. Dengan semangat, dia mengurus semua berkas persyaratan dengan penuh harap. Akan tetapi, harapannya harus pupus ketika dia mendapati kenyataan bahwa data nama dia sebagai guru pegawai negeri masih tercatat aktif, namun sudah diisi orang lain yang tentu saja bukan sang pemilik nama yang sebenarnya.

Tanpa disadarinya, lalu penyesalannya muncul ketika dia teringat telah meninggalkan pekerjaan yang sekarang ia inginkan. Namun, pada akhirnya dia segera menyadari bahwa ini sudah menjadi jalan hidupnya. Selain itu, dia tidak akan bertemu istrinya dan memiliki lima orang anak serta rumah dan pekarangannya yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran dan pepohonan rimbun kalau dia dulu tetap bertahan di sana.

“Kang! Kang! Dari tadi dipanggil beberapa kali kok diam saja. Malah melamun.”

Ucapan istrinya menyadarkannya dari lamunan.

“Sudahlah, Kang, masalah rumah tidak usah dipikirkan. Masalah jual rumah harus dipikirkan baik-baik. Bagaimana kalau setelah kita jual rumah ini dan pindah ke desa, ternyata kita tidak betah di sana? Lagian belum tentu kehidupan di desa lebih baik daripada di sini. Lihatlah Ceu Esih, tetangga kita yang menjual rumahnya dan pindah ke desa ternyata belum satu tahun, mereka ingin pindah lagi ke sini! Selain itu, mereka kesulitan untuk mendapatkan rumahnya kembali di sini karena harga rumah di desa sangat murah, sedangkan di kota tentu saja mahal.”

Sambil menerawang, dia menyimak ucapan istrinya dan dia berpikir bahwa perkataan istrinya ada benarnya. Selain itu, meskipun dia berusaha keras untuk menjual rumah mereka, dia tetap akan kalah oleh kegigihan istrinya mempertahankan rumah itu. Bahkan, dalam hal dukungan, dia akan kalah karena anak-anaknya sudah berpihak pada ibu mereka. Tentu saja keberpihakan mereka karena selain takut, mereka diprovokasi oleh ibunya.

Pernah suatu waktu, pagi-pagi sekali dia menempelkan tulisan “Rumah ini dijual, Tanpa perantara” di kaca jendela rumahnya. Lalu, siangnya tulisan tersebut sudah ada yang mencabut. Tidak lama setelah itu, dia menempelkannya lagi dan sorenya tulisan itu sudah tidak menempel lagi di kaca jendela rumah. Begitu pun esok harinya dan hari-hari berikutnya sampai dia tahu bahwa yang mencabut tempelan tulisan tersebut adalah anak-anaknya yang sudah dicekoki ibunya.

Akhirnya, rumah yang sudah dia bangun dari hasil keringatnya masih tetap ditempati oleh dia dan keluarganya. Kata hatinya sebenarnya tidak berniat untuk menjual rumah tersebut. Namun, keadaanlah yang membuat dia mengingkari kata hatinya.

Setiap pagi, sebelum matahari mengintipnya, dia selalu berada di antara rerimbun pohon, bunga-bunga yang bermekaran, wangi melati, dan embun pagi. Dia selalu merasa berada di antara sahabatnya jika ia berada di sana. Lalu, dia bercerita lagi kepada pohon-pohon yang menjulang tinggi dan bunga-bunga yang bermekaran bahwa waktunya mungkin tidak akan lama lagi untuk dia menempati rumah dengan semua pekarangan yang sangat ia cintai.

Selain itu, dia merasa bahwa waktunya tidak akan lama lagi untuk bersama-sama dengan orang-orang yang dicintainya. Dia sudah tidak lagi mengkhawatirkan masa depannya karena dia sudah sangat begitu khawatir dengan masa depan anak-anaknya. Dia selalu takut kalau suatu saat anak-anaknya berhenti sekolah dan kuliah karena tidak ada biaya. Dia juga sangat cemas kalau dia sudah tiada, anak-anaknya tidak akan bisa sekolah dan kuliah meskipun ketika dia masih ada, anak-anaknya masih sulit dalam mendapatkan biaya sekolah/kuliah.

Kekhawatirannya terhadap masa depan anak-anaknya bermula dari sebuah mimpi di suatu malam. Dia bermimpi menyusuri jalan yang penuh dengan pepohonan yang menjulang tinggi bersama salah seorang anak perempuannya. Kemudian, orang-orang di kejauhan melambaikan tangan padanya, semakin jauh ia berjalan, semakin jauh orang-orang yang melambaikan tangannya. Paginya, dia menceritakan mimpinya kepada istrinya.

Setelah itu, hampir setiap hari selama 40 hari sebelum Tuhan menjemputnya, dia selalu berpesan pada istrinya kalau waktunya sudah tiba bagi dia dijemput oleh Sang Pemilik Hidup, anak-anaknya tidak boleh berhenti berkuliah dan bersekolah, anak-anaknya harus tetap bersekolah dan berkuliah. Bahkan, dia memutuskan untuk menolak saran dokter agar dirawat di rumah sakit karena dia merasa bahwa ketika saatnya sudah tiba menghadap Sang Khaliq, tidak ada lagi yang mampu menghalanginya ataupun menahannya, termasuk dokter dan obat-obatan yang sudah hampir delapan tahun terakhir ini menjadi sandaran atas segala sakitnya.

Setelah dia mendapat firasat tentang kematian dalam mimpi dan keyakinannya, tidak ada yang bisa dilakukan selain menabur dan menanam benih-benih mimpi dan harapannya pada bunga-bunga dan rerimbun pohon di halaman rumahnya. Dia berharap anak-anaknya akan memetik benih mimpi dan harapannya pada suatu saat nanti. Dan dia berharap pekarangan rumahnya tetap rimbun agar anak-anak dan cucunya dapat melihat dan mendengar mimpi dan doa-doanya kelak. Hampir setiap pagi, dia menasbihkan doa-doa, mimpi-mimpi, dan harapan-harapannya di antara rerimbun pohon, wangi melati, dan embun pagi. Mungkin hanya rerimbun pohon dan bunga-bunga yang bermekaran serta embun pagi yang selalu menjadi saksi atas doa-doa, harapan-harapan, dan mimpi-mimpi terdalamnya.

Istri dan anak-anaknya merasa aneh dengan sikapnya akhir-akhir ini yang selalu berpesan tentang waktunya yang tak akan lama lagi, tentang sekolah dan kuliah anak-anaknya yang harus dilanjutkan apabila dia telah tiada, kebiasaannya setiap pagi yang selalu tepekur di kursi depan halaman rumah di antara rerimbun pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Bahkan setiap Selasa malam, dia selalu berjalan mengitari rumahnya sambil berpikir dan berdoa dengan begitu cemas hingga suatu malam istrinya menegurnya agar dia segera masuk rumah karena khawatir dengan angin malam yang tidak sehat, sedangkan dia dalam kondisi tidak sehat.

Di suatu Selasa pagi, setelah dia sarapan, dia menonton pertandingan sepak bola kesukaannya. Saat itu istrinya dan anak laki-lakinya sedang pergi ke pasar. Anak-anaknya yang lain sedang membereskan rumah karena sedang libur kuliah dan sekolah, kecuali si bungsu, dia sedang menangis tersedu-sedu karena sebelumnya bertengkar dengan ibunya gara-gara keinginan sederhananya tidak dipenuhi: dia ingin membeli sepatu baru untuk sekolah karena sepatunya sudah bolong-bolong dan membuat kakinya sakit ketika dipakai berjalan cukup jauh ke sekolahnya. Di tengah suara tangisan dan keramaian pertandingan sepak bola di televisi, tiba-tiba dia terjatuh lunglai dari kursi yang didudukinya. Seketika anak-anaknya menjerit dan memohon pertolongan pada tetangga sekitarnya dan pada saat itu istrinya baru datang dari pasar.

Dia digotong dan ditidurkan di tempat tidurnya dalam keadaan tak sadarkan diri. Istrinya meminta tetangganya untuk dipanggilkan mantri atau dokter yang tinggal tidak begitu jauh dari rumahnya. Orang-orang terdekatnya berdatangan ke rumahnya dan tidak lama dia tersadar, tetapi dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Teman-teman, saudara-saudaranya, dan tetangga sekitar memohon maaf padanya begitu pun mereka memaafkannya. Dia memandangi satu per satu yang datang dan melihat keadaannya: ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, tetangganya, dan teman-temannya sambil menitikkan air matanya.

Sambil menunggu dokter, salah seorang temannya menyentuh kakinya dan mengatakan bahwa kakinya sangat dingin. Lalu temannya berbisik pada yang lain bahwa kemungkinan waktunya tidak akan lama lagi. Setelah dokter datang dan memeriksanya, dokter menyarankan untuk segera membawanya ke rumah sakit meskipun dia menolaknya.

Ketika menunggu bantuan mobil yang akan membawanya ke rumah sakit, anak bungsunya yang tadi pagi menangisi keinginan sederhananya yang tidak terkabulkan, saat ini mengganti sarung bantalnya beberapa kali karena basah oleh keringatnya. Dia memandangi anak bungsunya dan menangis seolah mengatakan, “Maafkan Bapakmu, Nak… untuk membelikanmu sepatu yang layak untuk sekolahmu saja tak mampu…”.  Anak bungsunya ikut menangis dan merasa menyesal seolah mengatakan, “Maafkan aku, Bapak, atas keinginan anakmu yang tidak mengerti akan keadaan…”. Kelak anak bungsunya akan menyadari kehadirannya karena dia mampu membaui keringat bapaknya. Tidak lama kemudian, bantuan mobil datang untuk membawanya ke rumah sakit. Istri dan anak laki-laki satu-satunya menemaninya pergi ke rumah sakit.

Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, dia memandangi wajah istrinya yang sudah hampir 25 tahun setia mendampinginya, baik dalam keadaan senang maupun susah selama hampir delapan tahun lebih. Istrinya yang tidak hanya cantik, tetapi setia, gigih, dan tabah. Istrinya selalu gigih dalam memperjuangkan masa depan keluarganya. Istrinya merelakan dirinya untuk menjadi tulang punggung keluarga setelah dia sakit, bekerja keras dengan penuh semangat dan mengandalkan kemampuan yang dimilikinya: mencoba berbagai usaha dari usaha pakaian dan kerajinan yang dijahit dan dibuatnya hingga makanan.

Selain itu, istrinya begitu tabah dan kuat dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, termasuk ketika dia jatuh sakit serta usaha dan hartanya yang tidak lagi seperti dulu. Bahkan, istrinya bersabar dengan sakitnya yang bertahun-tahun. Suatu malam, dia pernah berpesan pada istrinya bahwa kalau dia sudah tiada, dia ikhlas dan merelakan kalau istrinya menikah lagi dengan laki-laki yang bisa membuatnya lebih bahagia dari dirinya.

Kemudian, dia beralih memandangi anak laki-laki satu-satunya yang kelak mungkin akan menjadi pengganti dia dan istrinya sebagai tulang punggung keluarga setelah sepeninggalnya. Dia memandangi anak laki-lakinya itu yang tidak pernah mengeluh dengan keadaan yang membuatnya tidak seperti kebanyakan anak laki-laki lain. Anak lelakinya itu tidak gengsi untuk membantu ibunya ke pasar, untuk mengangkut barang-barang yang diperlukan untuk keperluan berdagang atau membantu orang tuanya melayani para pembeli bakso di rumahnya. Bahkan, di antara waktu luangnya, dia sibuk berorganisasi dan menjadi guru ngaji di madrasah dekat rumahnya. Ketika anak laki-laki lain yang seusianya sibuk dengan gaya hidup dan masalah perempuan, anak lelakinya lebih memilih berbeda dengan anak lelaki lain pada umumnya.

Mobil yang membawanya akhirnya sampai pada tujuan akhir, yaitu sebuah tempat yang sudah tidak asing lagi selama hampir delapan tahun ini. Dia sering bolak-balik dan pulang pergi ke tempat ini. Dia merasa hampir sudah mengenal orang-orang di sini seperti para dokter, perawat, dan pegawai lainnya.

Sesampainya di sana, dia diangkut ke sebuah brankar pasien dan dimasukkan ke ruang UGD. Dia merasa seperti berada di antara dua dunia, di antara mimpi dan kenyataan, dan di antara kehidupan dan kematian. Sesekali dia seperti berada di sebuah tempat dengan orang-orang yang begitu asing. Pada saat yang lain dia merasa matanya terbuka dan melihat satu per satu orang yang dikenalnya yang memandanginya dengan penuh rasa kasih sayang, iba, prihatin, bahkan ada yang tak bisa menyembunyikan kesedihannya seperti ibu, istri, dan anak-anaknya, kecuali si bungsu yang belum dia lihat.

Anak-anaknya bergantian hari untuk menjenguknya di rumah sakit dan istrinya bilang bahwa si bungsu akan menjenguknya Jumat pagi. Istrinya mengatakan bahwa dia sudah hampir 2 hari dirawat di tempat ini. Berkali-kali istrinya menuntun suaminya untuk salat sambil berbaring di antara selang infus dan tabung oksigen. Hampir setiap berapa jam istri dan anaknya membacakan Al-Quran di sampingnya. Selain itu, istrinya juga menuntunnya untuk selalu berdoa dan mengucapkan kalimat syahadat, kalimat tahlil, dan surat-surat yang akan membuatnya tenang dengan harapan menjadi hamba Tuhan yang husnul khatimah. Dia mencoba melafalkan doa-doa tersebut dengan gerakan bibirnya yang terbata-bata di sela-sela di antara batas kesadarannya.

Dia merasa bahwa waktunya sudah sangat sempit untuk bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sebenarnya dia masih menunggu anak bungsunya yang akan datang menjenguknya Jumat pagi besok, tetapi sepertinya kematiannya tidak bisa menunggunya. Dan dia pun hanya bisa membayangkan wajah anak bungsunya itu dan mendoakannya seperti kepada anak-anaknya yang lain yang sudah dia lihat pada hari-hari terakhirnya.

Dia juga membayangkan rumah beserta bunga-bunga dan pepohonan yang rimbun di halaman rumahnya. Dia merasa berada di sana seperti halnya bunga-bunga dan pepohonan yang akan gugur lalu meluruh menjadi benih-benih yang kelak akan tumbuh menjadi bunga-bunga yang bermekaran dan pepohonan yang rimbun. Dia berpesan pada mereka agar tetap tumbuh dan mekar sehingga mereka bisa menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya kelak. Perlahan-lahan ada sesuatu yang menarik ruhnya keluar dari tubuh yang hampir 56 tahun ini bersamanya, berawal dari kakinya, tangan dan tubuhnya, lalu mata dan kepalanya. Semuanya hening.

*

Dua puluh satu tahun kemudian, bunga-bunga dan pepohonan itu telah menyaksikan anak-anaknya telah berhasil menyelesaikan sekolah dan kuliahnya. Tiga anaknya menjadi guru sekolah seperti halnya dirinya dulu, satu anaknya memiliki usaha, dan si bungsu menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri. Tiga dari lima anaknya menjadi pegawai negeri: dua orang guru dan satu orang dosen.

Beberapa orang merasa heran dan bertanya-tanya bagaimana bisa seorang ibu yang tidak ditinggalkan uang pensiun dan warisan selain sebuah rumah dan pekarangan mampu membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.  Di antara mereka juga bertanya-tanya bagaimana dalam satu keluarga, tiga orang di antaranya bisa menjadi pegawai negeri. Beberapa orang kaya di sekitar rumahnya, yang selalu melakukan berbagai cara dengan jalan apa pun atas kekayaannya, berpikir keras dan mencari jawaban sendiri dengan menyimpulkan bahwa ketiga anak tersebut pasti menyogok seperti dirinya ketika diangkat menjadi pegawai negeri.

Bunga-bunga dan rerimbun pohon di halaman rumah itu telah melihat setiap waktunya dan setiap harinya bagaimana sebuah ketulusan dan kejujuran yang ditanam akan menumbuhkan bunga-bunga wangi yang bermekaran dan pepohonan yang rimbun. Seperti halnya mereka menyaksikan bahwa anak-anak dari lelaki itu – yang menanamnya bertahun-tahun lalu dan menjadi sahabat dan teman berbagi – telah menjalani kehidupan sesuai dengan doa-doa, harapan, dan mimpi-mimpi bapaknya. Anak-anak itu telah berhasil karena kemurahan hati dan kasih sayang Sang Pemilik Hidup, juga karena doa-doa dan kerja keras orang tuanya serta diri mereka sendiri. Anak-anak itu bisa berhasil meraih mimpinya dengan jalan dan cara yang telah Tuhan tunjukkan. Tuhan seolah telah mengganti satu keinginan tertunda yang pernah ditinggalkan lelaki itu dengan tiga keinginan yang saat ini akhirnya terkabulkan.***  

Bandung-Surabaya, 2019-2020  

Rahmi-rahmayati
Rahmi Rahmayati

Lahir di Bandung, saat ini tinggal di Jambangan, Surabaya, serta mengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya. Puisi-puisinya pernah dipublikasikan di surat kabar Pikiran Rakyat, Galamedia, dan beberapa antologi puisi bersama dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unesa yang berjudul Elegi Buat Emak, antologi puisi bersama dosen FBS Unesa yang berjudul Mestinya Kupegang Erat Kedua Tangan Itu, dan antologi puisi dan cerpen bersama Hiski yang berjudul Nyanyian dari Hutan, Pantai, dan Taman Kota.

Gambar Utama: Foto oleh Manfred Legasto Francisco dari Pexels.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *