KEPALA | puisi Afthon I.H.

  
 Kepala
  
 mengapa sekarang?
 ketika malam memburu sangat lapar,
 dan ‘yang telah’ tinggal arang 
 di tungku perapian.
  
 bakar! bakar! bakar!
 apa yang tersisa di meja perjamuan 
 sekarang?
  
 lelah!
 kau mengetuk-ngetuk kepala,
 meminta selimut dan kasur empuk.
  
 kosong.
  
 Des’ 2020
  
  
 Punggung
  
 punggung.
 tudung teduh
 sengat matahari yang panas;
 mulut-mulut dengki yang ganas.
  
 Des’ 2020
  
  
 Tangan 
  
 dari asal sekepal janji itu memadu dulu,
 kau bertanya lagi tentang jalan masa depan
 dalam genggam:
 “Tuhan telah menggariskan. 
 Ini pertanda bahagia, bukan?”
 tanyamu.
  
 sementara garis-garis itu lama melekat
 jadi kawat pengerat yang menandai
 masa purnamu.
 kian mengerut memarut waktu.
  
 “Kematian adalah akhir. Tuhan telah menggariskan.
 Ini pertanda bahagia, bukan?” tapi tanyamu.
  
 Des’ 2020
  
  
 Mata
  
 masa depan suka menyulutkan kembang api.
 meledak.
 memekakkan. 
 meluluhlatakkan cangkir susu yang kau pun belum 
 sempat sesapi untuk esok pagi.
  
 gelap tak sempat berdongeng.  
 namun sebelum warna-warni berjejal merubungi mata, 
 gelap datang terengah-engah 
 menarikmu ke sebuah lorong yang pekat.                                              
 ditelentangkannya tubuh kecilmu yang lucu
 ke tempat tidur, menyelimutkannya,
 lalu mengecup keningmu yang tampak merah
 mekar wangi mawar.
  
 “Sambutlah terang. Jaga diri baik-baik dan selalu
 hati-hati dengan harapan,” pesannya.
  
 Jan’ 2021
Afthon Ilman Huda

Lahir di Mataram. Menetap di Lombok Barat. Menyelesaikan studi Sosiologi di Universitas Mataram. Kini tengah menekuni sastra. Karyanya masuk dalam Antologi Puisi Menenun Rinai Hujan (2019).

Gambar Utama: Foto oleh Sebastian Sørensen dari Pexels.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *