JANJI

oleh ALBERT WIRYA

Pada hari wisuda, ayah sedang menyetir mobil setelah menjemput aku dan ibu yang telah lama ditinggalkannya, ketika dari bagasi belakang kudengar suara menyentak-nyentak. Ayah menjelaskan, “Itu anjingmu yang kabur dulu.” Seketika aku tahu bahwa hari ini menyimpan lebih banyak rahasia ketimbang yang telah kupersiapkan. Lalu, ketika kudengar dari belakang seseorang yang bukan ibu mengerang, mobil ayah mengambil belokan yang salah untuk sampai ke kampus.

Peristiwa membingungkan ini mungkin tidak akan terlaksana kalau, dua bulan yang lalu, aku mengabaikan telepon masuk dari nomor yang tak dikenal.

“Masih sehat, kau?” tanya suara yang sekalipun telah lama tidak didengar tetap familier.

“Aku dan ibu sehat. Ayah?”

“Sudahan basa-basinya. Kudengar kau kuliah di Jakarta, sudah selesai?”

Aku menjelaskan bahwa aku sudah hampir selesai. Terpisah sekian lama, aku lupa bahwa ia tidak suka jenis jawaban semacam ini sebab baginya kata-kata harus tegas dan bermakna tunggal.

Sudah mengerjakan tugas? Sudah atau belum.

Baru pulang kerja, kau sodori aku dengan masalah? Lanjut cerita atau tidak.

Ibumu cari mati atau bagaimana, pagi-pagi tidak masak? Mau mati atau masih ingin hidup.

Terpaksa, aku menjelaskan bahwa meskipun semua nilaiku sudah keluar, aku tidak akan resmi lulus kalau belum wisuda.

“Ayah janji akan datang,” katanya. Aku tidak bisa menolak. Kalau pertanyaan saja baginya cuma punya segelintir jawaban, apa kabarnya pernyataan?

Kupikir sekalian saja memanfaatkannya. Aku menyampaikan bahwa aku terancam tidak bisa ikut karena belum bayar biaya pendaftaran (pendaftaran gratis) dan beli toga (seniorku meminjamkan). Ketika ia bertanya berapa, kusebutkan nominal yang terlalu mengada-ada. Sayangnya, ia percaya. Siapa pun yang memberikannya infomasi bahwa aku sedang berkuliah—terkutuklah keturunannya—pastilah orang yang memahami kesulitan finansialku, dan orang yang memahami kesulitan finansialku pastilah seorang dari paman-pamanku yang pernah kumintai uang—dengan demikian yang barusan kukutuk adalah sanakku sendiri.

Aku sendiri tidak begitu antusias untuk mengikuti wisuda. Sekalipun ini kali pertama dan kemungkinan besar terakhir, wisuda tidak menjadi penanda waktu di hidupku. Sejak semester enam, aku bekerja di sebuah kedai phở di foodcourt sebuah mal. Setiap tiga kali seminggu, aku mengecek persediaan makanan, memasukkan kode-kode barang ke mesin kasir, menghitung uang, dan mencuci seragam. Apa gunanya perayaan kalau pada akhirnya semuanya tetap berulang?

Yang tersulit dari pekerjaan ini adalah mempertahankan keramah-tamahan. Di awal kerja, aku biasa melafalkan, “Xiiin-Chaao,” ucapan halo dalam bahasa Vietnam sambil tersenyum lebar, berharap orang-orang yang lewat berhenti. Kupikir cara ini akan mengantarkanku menjadi ‘Pegawai Teladan’, satu-satunya pencapaian di bilik sembilan meter persegi ini.

Kalau aku terpilih, aku membayangkan bermacam-macam skenario. Salah satunya menempatkan aku sebagai kasir, sementara seorang laki-laki berjas sebagai pelanggan. Ia tertegun melihat diriku yang mendua, di hadapannya dan di pigura, sehingga ia mengajakku lari dari kedai itu, pergi ke sebuah restoran di mana semuanya bersih, berjarak dan perlahan. Namun, ketika makanan datang, ia pergi sebab efek kehadiran ganda sudah menghilang: apa yang ditawarkan di pigura terbukti berbeda dengan apa yang ia temukan.

Mimpi ini tidak pernah terealisasi. Meski kecil dan belum terkenal, kedai ini selalu punya pegawai yang lebih telaten. Pada saat itu aku sedang berada di usia ketika segalanya tampak mencurigakan. Kegagalanku menjadi pegawai teladan seakan berkesinambungan dengan peristiwa-peristiwa buruk lain dalam hidupku: keluarga berantakan, tidak punya teman, mengulang banyak mata kuliah. Aku membutuhkan seseorang untuk disalahkan.

Seandainya ayah tidak bernazar menemukan bajak laut, aku mungkin bisa menjadi pegawai teladan.

Lantas aku memberontak. Aku memberikan ganjalan pada wadah pelempar sedotan, aku sengaja membiarkan tumpahan saus mengering di meja pengambilan pesanan. Yang ini favoritku: bejana teh dingin kuisi penuh-penuh agar orang yang menuang harus menumpahkan minuman itu ke tangan, baju, atau jam tangan mereka.

Pada suatu sif malam, teknik ini memakan korban seorang ibu bertubuh pendek dan berkacamata besar. Ia menumpahkan sejengkal teh ke baju batiknya dan lantai. Namun ia lebih mempedulikan benda yang kedua. Ia menaruh beberapa tisu di atas lantai, mengelapnya ke kiri dan kanan, lalu membuang gumpalannya ke tempat sampah. Cara itu, sekalipun ia lakukan berulang kali, tetap tidak bisa mengangkat air sepenuhnya dari lantai.

Ketika sifku berakhir dan aku sedang menurunkan jeruji penutup kedai, seseorang berkata,

“Lu sengaja, kan?”

Aku menoleh dan melihat seseorang pria mengenakan celemek hijau. Suaranya yang intimidatif tidak sepadan dengan perawakannya yang kurus dan agak bongkok. Ketika mendekat, ia menguarkan bau minyak goreng.

“Hah?”

“Lu sengaja nyetel teko itu supaya isinya tumpah.”

“Enggak,” tampikku. “Dia yang numpahin sendiri.”

“Ibu itu nanya ke gua di mana alat pel. Kayaknya dia enggak enak sama petugas kebersihan.”

Aku menelan ludah. “Lalu lu bilang apa?”

Baru saat itu aku melihat name tag-nya, bertuliskan Raddi. Dia berkata, “Gua bilang: alah orang kaya, bikin susah aja, lap tuh pakai kemeja lu yang mahal!”

Raddi tertawa terbahak-bahak. Aku mencoba untuk mengonfirmasi apakah betul hal itu yang terjadi, tetapi ia terus tertawa hingga, mau tidak mau, aku ikutan. Cara pertemuan macam ini mestinya memperingatkanku bahwa orang yang kutemui malam itu—selain pria yang sadar bahwa kalaupun ketimpangan kelas tidak bisa diperbaiki setidaknya itu bisa ditertawakan—adalah juga seorang pembual. Namun, kesamaan nasib membuat kami nyaman satu sama lain. Kenyamanan inilah yang membangun suatu kesempatan untuk merencanakan sebuah pemufakatan yang sukar berhasil.

Sewaktu aku berumur tujuh tahun, ayah mengajakku ke pasar malam. Karena perjalanannya cukup jauh, sesampainya di sana aku mengantuk. Aku naik ke komedi putar lalu mengaku kecapaian. Ayah memakiku kurang ajar. Ia membelikan stik gulali dan memerintahkanku untuk kembali bermain setelah memakannya.

Dari kecil, aku tahu bahwa ia tidak pernah main-main dengan kebahagiaanku. Tidak seorang pun—termasuk aku—boleh mengusiknya.

Karenanya, apapun yang kuucapkan di mobil itu tidak akan berarti banyak. Ia tetap akan menekan sein ke kiri dan berhenti di setapak jalan, lima puluh meter dari toko yang menjual daun pintu.

Saat raung mesin mobil berhenti, suara di belakang makin jelas terdengar. Bukan cuma erangan, tapi gedoran yang makin membesar pada dinding-dinding mobil.

“Anjing itu tidak pernah hilang,” katanya tiba-tiba. “Ia kubawa pergi karena bisa membedakan bau manusia biasa dan bajak laut.”

“Kupikir dia kabur karena kita tidak memberinya makan cukup.”

“Kau anak tidak tahu diuntung,” ia menggeram, “Dia anjing paling setia, paling berani, paling berguna…”

Ia bisa terus melantunkan pujian-pujian superlatif seandainya suaranya tidak tiba-tiba hilang dicekam kesedihan. Padahal dulu ia yang selalu melempar sandal ke arah anjing itu dan mencampur makanannya dengan kerikil.

“Yang berlalu, biarlah berlalu,” gumam ibu.

Ibu selalu mencari perdamaian di depan ayah. Kadang, aku membencinya karena hal ini, dan kadang, aku membenci diriku yang membenci dirinya. Perdamaian adalah caranya mengatasi kekasaran ayah setelah aku lahir. Sebelumnya, ia selalu membuat impas perlakuan ayah dengan meludah pada supnya, memasukkan semut rangrang ke celana dalamnya, dan mendorongnya hingga jatuh dari ranjang. Setelah aku lahir, kalkulasinya berantakan. Ia tidak tahu bagaimana kekerasan menyasar dua pihak dibalas impas seri ke satu orang.

“Dulu saja ia gagal menemukan bangkai tikus,” kataku. “Ia pura-pura menggonggong karena menuruti kemauanmu.”

“Sudah lama kutinggal, kau jadi melunjak begini? Dengar ya, dia bukan anjing yang bodoh.”

“Dia anjing yang bodoh! Juga penuh kutu.”

“Dan kau pun bodoh! Bodoh! Bodoh! Kalau kau pintar sedikit, aku pasti mengajakmu mencari bajak laut dan kita tidak perlu ke wisudamu yang bodoh, bodoh, bodoh ini!”

“Sudahlah, sudahlah!” sela ibu.

“Mana buktinya kalau anjing itu berguna?”

“Kau tidak dengar apa itu di belakang? Itu bajak lautnya!”

“Jangan diungkit lagi, ya? Diungkit lagi, jangan.”

Aku bukannya cemburu, tetapi aku curiga bagaimana ayah, dalam petualangannya, jatuh hati pada sesuatu yang bukan dirinya. Si bajak laut, setelah ia mau belajar sedikit bahasa Indonesia, mengonfirmasi hal itu. Ia bilang, anjing itu mati pada suatu hari dan ayah membuatkan sebuah rakit dengan patahan peti telur dan spanduk ikan lele untuk mengiringi kepergiannya dibawa gelombang laut. Itu hari paling sedih baginya sampai-sampai ia lupa dengan aktivitas rutinnya mengayunkan gagang pacul ke tubuh si bajak laut.

Satu hal lain yang kuingat dari anjing itu adalah kalung hijau yang selalu melekat di lehernya. Kalau ayah betul membawanya ke tengah lautan, besar kemungkinan ia masih menyimpan kalung anjing itu.

Aku bertaruh lebih kalap lagi: kalung itu ada di laci mobil depan mukaku. Aku membayangkan bentuknya dan menekan pembuka laci itu. Di detik berikutnya, aku tidak tahu apakah aku benar menemukan kalung itu atau imajinasiku menyarukan benda apapun menjadi apa yang kucari: aku merasa menemukannya. Aku tidak bisa memastikan ini karena ayah segera merebut benda itu dan menyembunyikannya di samping pinggangnya.

Meskipun pendingin udara menyala, lehernya dibasahi oleh keringat. Pada saat itu, bayanganku tentangnya telah terkhianati semua. Ia kini sudah menua, penuh dengan kehidupan, dan lemah. Aku nyaris jijik. Ia pun tampaknya memahami pandanganku karena kemudian ia membuka pintu mobil dan berjalan cepat ke belakang. Sekejap saja ia tidak bisa lagi dibedakan dengan orang-orang lain yang lalu-lalang.

Selama lima menit, mobil sunyi. Kami sama-sama tahu salah satu dari kami harus bertindak—si bajak laut tidak masuk hitungan. Ibu lagi-lagi mengalah. Mungkin ia yang paling kuat di keluarga kami. Ia berkata, “Aku akan pergi mencarinya.”

Aku sadar bahwa itu akan jadi pencarian yang panjang karena ia mengenakan sepatu hak tinggi. Namun, aku tidak mencegahnya.

Sendirian di mobil, suara dari bagasi datang lagi. Aku tidak terganggu dengan berisiknya, tapi orang-orang lain di luar bisa mempertanyakan apa yang ada di dalam. Tidak lucu apabila aku dituduh menculik seseorang yang tak kukenal.

Aku pindah ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Mobil itu kubawa sampai ke parkiran sebuah mal kecil di sebelah kampusku. Parkiran itu terkenal sepi sehingga para mahasiswa biasa datang sore-sore untuk menggedor-gedorkan tubuh mereka ke atas tubuh orang lain. Untungnya, hari ini semua datang wisuda.

Aku membuka bagasi mobil dan menemukan seorang pria yang tersumpal mulutnya dan terikat kaki serta tangannya. Menyadari bahwa yang membuka pintu bagasi bukan ayahku, ekspresinya melunak. Yang pertama kali kubebaskan adalah lidahnya.

Kemudian ia berkata sesuatu yang sekonyong-konyong mengembalikan diriku ke penghabisan umur tiga belas tahun ketika ibu berkata bahwa mulai sekarang semuanya akan membaik, seolah-olah ayah pergi membawa serta kesulitan ekonomi, bencana alam, dan diskriminasi terhadap perempuan—singkatnya, diriku yang masih percaya takdir. Bajak laut itu berkata, “Xin Chao.”

Seminggu setelah ayahku mengumbar janji untuk menemaniku wisuda, giliran Raddi yang menghubungiku. Yang terjadi sebaliknya: aku kenal nomor yang datang, tapi ketika kujawab, ia terdengar seperti orang lain.

“Tolong datang dan bawa uang. Berapa pun yang kau punya.”

Pada saat itu hubungan kami sedang dalam tahap yang tidak mungkin lebih baik. Kami mengambil waktu kerja yang tak terlalu berjauhan sehingga setelahnya ada waktu untuk meninggalkan mal menuju ke pusat jajanan kaki lima, mengobrol terlalu lama sehingga pembicaraan harus dituntaskan di tempat lain. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak datang ke alamat yang ia diktekan.

Ketika aku mengetuk rumah yang ia maksud, seorang pria membuka pintu. Ia bertanya, “Kau bawa uangnya?”

Aku berusaha untuk melihat ke dalam, tapi tertutup oleh tubuhnya yang memiliki proporsionalitas tak wajar. Paha raksasanya bersanding dengan pinggul yang ramping, otot lengan yang berbuntal-buntal kontras dengan lehernya yang ceking. Orang-orang menghindarinya mungkin bukan karena takut, tapi tersinggung, karena merasa bahwa bukan begitu tubuh manusia seharusnya diperlakukan.

“Tidak sebelum kulihat dia baik-baik saja,” balasku.

Pria itu menyahut ke dalam, “Kalian dengar apa katanya? ‘Tidak sebelum kulihat dia baik-baik saja.’” Lalu terdengar tawa orang-orang, termasuk Raddi. Pria itu menyahut lagi, “Dia pikir ini film gangster.”

Ketika aku masuk, aku melihat Raddi betul ada, hanya bisa setengah tersenyum karena bibir bagian kirinya bengkak. Rambutnya acak-acakan dan keteknya basah. Di luar itu, ia sehat. Malah di tangannya ada gelas kopi yang punya logo yang sama dengan wadah yang dipegang empat orang lain di dalam ruangan. Aku menyerahkan kantung berisi uang ke Raddi yang langsung menyerahkan semuanya ke seorang perempuan di pojok ruangan. Ia menghitung dan menyebutkan dengan benar nominalnya. Katanya: “Yang berikutnya jangan sampai telat!”

“Tapi prediksi saya masih terpasang, kan? Jadi bisa saja—”

“Kalau tepat, Raddi,” potong perempuan itu. “Kau sudah lama memasang taruhan itu. Mungkin saatnya berubah pikiran. Konsultasikan dengan pacarmu, siapa tahu dia lebih ahli soal ini.”

Aku ingin memprotes sebab kami belum menyepakati apapun tentang kebersamaan kami. Tetapi Raddi buru-buru mengajakku keluar, setelah terlebih dahulu menyalami setiap orang di sana.

“Jangan khawatir, aku akan mengembalikan uangmu,” ujar Raddi.

Aku lebih mengkhawatirkan nyawanya. Kalau hari ini mereka bisa membuatnya bonyok sebelah, apa jadinya kalau mereka tidak lagi setengah-setengah?

Masalah yang menggelayutinya pastilah berhubungan dengan judi. Ia telah kehilangan banyak uang dari kebiasaannya ini, tapi ia bersikeras bahwa tidak ada yang salah darinya. Ia pernah berfirman, “Judi adalah cara kita naik kelas. Dibandingkan kapitalisme, judi jelas lebih adil.”

Ketika kembali ke kosannya, ia bercerita bahwa akhir-akhir ini polisi sedang gencar-gencarnya menyidak judi online. Judi poker, bola, dan togel yang biasa Raddi mainkan habis dilibas. Seorang teman akhirnya berjanji akan memberikan sebuah tautan apabila Raddi bersumpah untuk tidak menyebarkannya. Raddi setuju. Ia menerima tautan, tapi ketika membukanya, ia malah terhubung ke channel Youtube sebuah program sinetron lokal.

Saat Raddi protes, temannya menjelaskan bahwa itu situs yang tepat. Orang-orang bertaruh tentang jalannya cerita di setiap episode sinetron yang konsisten naik tayang lima kali seminggu, jam empat sampai lima sore.

Ada tiga alasan mengapa sinetron itu dipilih. Pertama, sinetron itu terkenal sehingga tidak ada risiko stop produksi. Kedua, orang yang mengatur perjudian ini—Madam X, si perempuan yang salah berasumsi tentang hubunganku dengan Raddi—adalah konco dekat si penulis skenario sehingga ia bisa menyuapnya agar tidak membocorkan alur cerita kepada siapa pun. Terakhir, sinetron itu jelek sistematis. Didesak oleh televisi dan enumerator rating, alur ceritanya terpaksa setia pada jalur keklisean. Seperti judi bola, para peserta bisa berdalih bahwa untuk menang tidak cukup keberuntungan, diperlukan juga kemahiran membaca situasi, mengamati pola penceritaan, memperhatikan intertektualitas tayangan.

Namun, alur cerita yang terus-menerus mudah ditebak akan membosankan penonton. Setiap penulis skenario perlu berimprovisasi sesekali. Itulah sebabnya skenarionya kusebut jelek sistematis karena si pencerita—entah benda apa yang pernah menebas kepalanya pada suatu waktu—punya kreativitas liar yang terkadang tak terbendung. Pada saat cerita menukik tidak masuk akal inilah, seseorang bisa memenangkan momen puncak taruhan.

Pada umumnya, orang-orang akan menaruh uang di taruhan-taruhan kecil yang diperbaharui setiap episode baru, semacam: berapa kalikah si penjahat kena gaplokan di episode ini, akankah si gadis memercayai fitnah bahwa si protagonis main patgulipat dengan janda sebelah rumah. Di samping taruhan-taruhan ini, peserta juga bisa berspekulasi bahwa di episode mendatang akan keluar potongan cerita yang tak dinyana. Apabila benar, orang ini akan memborong habis semua uang yang dipasang pada episode itu.

Momen puncak taruhan ini berhasil dimenangkan oleh seorang pemain yang menerka bahwa si jagoan laki-laki dan musuhnya adalah bayi kembar siam yang akibat perpisahan sejak kecil berakhir saling membenci (episode 233). Namun tidak pernah ada yang cukup jenius untuk memprediksi bahwa di episode 345, ibu dari sang gadis perebutan beroleh kesaktian membaca pikiran sehabis ditabrak mikrolet dan koma berminggu-minggu.

Raddi pasti bertaruh momen puncak taruhan ini. Sebagai pemegang piutang atasnya, aku merasa berhak mengetahui apa yang ia pertaruhkan. Ia tidak mau menjawab.

“Kamu akan tertawa,” ia berdalih.

Ia malah mengalihkan pembicaraan dengan tekadnya untuk mengembalikan uangku. Selama taruhan puncaknya masih terpasang dan belum masuk ke batas kadaluarsa 25 episode, ia masih bisa merebut semua uang yang dimainkan sejak episode pertama ia memasang taruhan itu. Apabila ia memasang taruhan itu di episode 400 dan prediksinya baru keluar di episode 424, ia akan meraup semua uang yang dipertaruhkan semua peserta selama 24 episode. Dengan demikian, semakin lama bertahan semakin berganda untung yang ia dapatkan. Namun, untuk itu, ia perlu uang.

Raddi bertanya, “Bapakmu tajir, kan?”

Aku tidak tahu. Setahun yang lalu kudengar kabar dari mana-mana bahwa ia telah mendarat sebelum akhirnya betul-betul mendengar suaranya.

“Buktinya ia transfer uang berapa pun yang kamu minta.”

Aku terdiam lagi.

“Bantu aku untuk mendapatkan uang darinya.”

“Dia tidak akan mau.”

“Coba dulu.”

“Kenapa bukan kamu saja yang minta?” Aku menawarkan: “Kamu bisa menemuinya di wisudaku.”

Kupikir cuma ada satu opsi yang tersirat dari perkataanku, opsi yang akan menggenapi pernyataan Madam X. Raddi memperkenalkan dirinya secara baik-baik, memakai pakaian rapi dan menyalami kedua orang tuaku, sehingga sedikit demi sedikit kepercayaan ayahku untuknya tumbuh. Sampai kemudian Raddi menawarkan opsi kedua.

Seharusnya aku berbohong saja, bilang bahwa aku berharap ia memilih opsi pertama. Kalau itu yang terjadi, aku tahu dia akan mengiyakan sekalipun mungkin terluka ketika tahu kebenarannya. Pada akhirnya, ini perkara memilih siapa yang akan terluka.

Kupikir tidak ada gunanya maju ke tempat duduk wisudawan. Nama-nama sudah telanjur dipanggil dan acara memasuki waktu penghabisan dengan para junior bernyanyi lagu-lagu bertema pengorbanan. Selain itu, di sebelahku ada si bajak laut yang berambut kucel dan mengenakan jaket hitam lusuh dan mengekor kemana pun aku pergi.

Ia memang sempat berlari ke tepi gedung parkir ketika kubebaskan. Tapi begitu melihat di bawah bukanlah metropolis yang ia kenal, ia kembali. Langsung lesap begitu saja impianku bahwa dia akan menerjang dan memuntir leherku. Apakah betul ini orang yang diceritakan oleh ayahku sebagai pria berbahaya, yang ke arahnya acungan senjata tidak boleh lepas?

Ayahku dulu cuma pemilik warung makan di pesisir Singkawang yang ketika sore hari selalu berkumpul dengan teman-temannya untuk mendengarkan gosip terbaru tentang orang-orang kampung. Tentang si A yang berselingkuh dengan istri B atau si Y yang memboyong suami dari agama berbeda.

Pada suatu hari, ia mendapat kabar bahwa satu komplek sero para nelayan, yang memberikan suplai ikan alu-alu dan tenggiri nyaris tanpa batas, rusak hanya dalam waktu semalam. Para pemodal menuduh oknum nakal yang menangkap ikan dengan bom. Barangkali mereka salah melempar dan meledakkan pagar-pagar bambu seluas seratusan meter persegi itu.

Ayahku hanya mengangguk-angguk tanpa sekali pun memprediksi bahwa pada malamnya, ia akan punya penafsiran berbeda. Ketika membenahi jeriken minyak di belakang warungnya, ia mendengar suara dari arah laut. Ia mengikuti arah suara itu dan memergoki seseorang yang sedang berdiri di samping sampan kecil. Ayahku menyapanya, tapi, alih-alih membalas, orang itu malah berseru-seru panik dengan bahasa yang tidak ayah pahami. Dari kejauhan, seseorang berlari ke arah sampan, menghempaskan galon berisi air dan setandan pisang ke dalamnya. Kedua orang itu buru-buru mengayuh. Ayahku melihat mereka menuju ke kegelapan yang setelah retinanya terbiasa mulai membentuk rupa sebuah kapal besar. Sebelum matahari menyingsing, pikiran Ayah sudah terang.

“Bajak laut! Bajak laut asing.”

“Kan bisa saja maling kampung sebelah,” tantang pendengarnya.

“Pasti bajak laut. Kusapa dia tidak jawab, kok.”

“Tidak ada pencuri, mau asing atau pribumi, yang mau beramah-tamah.”

Mereka terbahak-bahak, bukan hanya pada saat ayahku pertama kali berteori, tetapi juga seterusnya. Apalagi ia menambah-nambahkan deskripsi senapan yang nyaris tercabut dari pinggang si pencuri pisang kalau temannya tidak mengingatkan untuk segera kabur.

Seminggu setelahnya, ketika ayah keluar menghampiri kelompok teman-temannya, orang-orang mendadak menjadi pendiam dan pengamat cuaca. Tahulah ayah bahwa kini ia yang menjadi topik pembicaraan. Untuk membersihkan namanya di daratan, ia pun pergi mengarungi laut.

Kupikir ia gagal, atau setidak-tidaknya ditipu. Pria yang ditawannya ini terlalu lugu. Matanya menatap takjub kepada semua hal. Ke pakaian para wisudawan, ke papan-papan bunga yang dipersembahkan untuk para doktor, ke balon-balon yang bertumpahan di akhir acara.

Para hadirin menghambur keluar. Beberapa masih bergantian naik ke atas panggung dan berfoto dengan bendera kampus. Perhatian si bajak laut menjadi terpecah oleh pergerakan tidak harmonis ini. Ini kesempatanku untuk lepas darinya. Aku berdiri dan buru-buru berjalan keluar. Tapi begitu menengok ke belakang, aku melihatnya mengejarku. Mukanya seperti orang yang tersesat dan baru kehilangan junjungan. Hanya karena aku melepaskan ikatannya dan bisa sedikit bahasa Vietnam, ia menyamakanku dengan juru selamat.

Apakah para nabi sebenarnya juga tidak ingin jadi nabi kalau pengikutnya tidak salah paham?

Aku tidak membencinya, tetapi aku harus sendirian ketika bertemu Raddi dan memberitahukan perkembangan situasi terbaru. Tentang ayahku yang kabur (lagi) dan ibuku yang pergi mencarinya. Aku tidak bisa memberitahukannya lewat telepon karena ia menyuruhku untuk tidak pernah lagi menghubunginya sehingga, kalau ada apa-apa, kami berdua tidak akan disangka telah saling kenal sebelumnya.

Tidak lama setelah keluar aula, aku menemukan sorot mata Raddi. Aku menoleh kepadanya, lalu ke arah si bajak laut. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Untuk sesaat, dengan bodohnya aku berharap bahwa Raddi mengerti apa yang terjadi.

Raddi mendekat, sedangkan aku tidak bisa menjauh karena terhalang kerumunan. Ia membuka tas punggungnya dan meraih dua hal: pisau dan topeng. Aku tidak tahu seberapa cepat segala kemudian terjadi. Pada hakikatnya, peristiwa itu cuma berlangsung sekejap, tetapi karena berulang kali digladiresikkan, kejadian itu terasa begitu lama datang, seperti janji seorang politisi kepada korban penggusuran. Ketika membuka mata, seseorang bertopeng sedang menempelkan pisau di leherku.

“Uang atau nyawa anakmu!”

Ia telah merancang susunan permintaannya menjadi tiga lapis. Pertama, ia akan meminta dompet ayahku dan mengecek isinya. Kalau uangnya kurang, ia akan meminta kunci mobilnya. Kalau mobilnya bukan tipe yang mudah ditadah, ia akan menculikku dan meminta tebusan.

Upayanya lapis pertama sudah gagal karena si bajak laut tidak memiliki dompet. Lapis kedua, tidak perlu dilakukan karena aku yang memegang kunci mobilnya. Lapis ketiga pun tidak mungkin kesampaian karena pria itu, sekalipun benar dia dulu pelaku perusakan dan penjarahan sero para nelayan Singkawang, tidak akan mengerti cara menebusku.

“Pilih nyawa atau uang!”

Si bajak hanya memandang lurus kepadaku tanpa berkedip.

“Cepat! Lu mau nyawa anak lu melayang?”

Orang-orang di sekeliling kami heboh—oh, begitu sulitnyakah melupakan sejenak kegembiraan mereka untuk sadar bahwa di sekeliling masih ada orang-orang yang kesusahan?—dan Raddi pun menjadi resah.

“Jangan ada yang gerak! Gua bunuh cewek ini nanti.”

Yang tidak Raddi atau aku perhitungkan adalah bagaimana si bajak laut telah terbiasa berdiam diri. Ia sudah disekap seharian di bagasi mobil, dan barangkali sudah diikat berhari-hari oleh ayah, sehingga ada banyak waktu baginya untuk mengeksplorasi gerakan dalam situasi yang terbatas. Ia mampu bergerak begitu pelan dan galib sehingga orang-orang di sekelilingnya menyangka bahwa dari tadi ia diam.

Ketika Raddi menyadari hal ini, si bajak laut sudah terlampau dekat. Ia mendebik siku lengan kanan Raddi sehingga cengkeramannya padaku melemah. Lalu si bajak laut menarik lenganku dan menghempaskan tubuhnya sendiri, menggantikan posisiku di tawanan Raddi. Pisau terlepas. Orang-orang di sekeliling lantas bahu-membahu memastikan Raddi tidak kuat berdiri lagi. Satpam membawa apa yang tersisa darinya ke kantor polisi.

(Aku menjenguk Raddi sekali. Polisi yang menangani kasusnya tidak terlalu cerdas untuk menebak bahwa penawanan singkat dan gampangan itu sebenarnya terencana. Aku memberikannya makanan dari kedai di mana Raddi bekerja. Ia hanya mengangguk. Pada saat itu kami sama-sama mengerti bahwa semuanya telah berakhir. Ketika keluar, aku bertemu dengan Madam X yang khawatir Raddi akan berkicau tentang usaha perjudiannya. Setelah kusogok dengan segelas kopi instan, ia mau menceritakan apa yang Raddi pertaruhkan. “Ia bertaruh bahwa si bajingan—penjahat utama dalam sinetron itu—sebenarnya adalah orang yang paling perhatian dengan si pemeran utama perempuan. Pada episode mendatang, si gadis akan menyadari hal ini dan kawin lari dengannya.” Dia tertawa, sedangkan aku terdiam. Aku hanya kecewa, kupikir ia bertaruh pada hal yang lebih mustahil.)

Aku menarik si bajak laut untuk menjauh dari kekacauan wisuda dan kembali ke parkiran. Di lift, sembari mengecek riasanku, aku mengucapkan terima kasih dalam bahasanya yang ia balas dengan anggukan. Sejujurnya, aku juga tidak tahu ucapan itu untuk apa.

Ketika aku menyalakan mesin dan berpikir tentang tujuan perjalanan, si bajak laut mengeluarkan sesuatu dari jaketnya: setangkai bunga mawar merah gepeng yang terbungkus plastik mika. Ia menyerahkannya kepadaku.

Aku memegang dengan hati-hati tangkai bunga itu sebelum kutaruh di dashboard. Sambil memasang sabuk pengaman, aku berkata kepadanya:

“Aku akan membawamu pulang ke kampung halamanmu.”

Lagi-lagi, aku membuat janji yang sulit ditepati. Namun, setidaknya aku belajar bahwa ada beberapa janji yang lebih berkuasa dari pengucapnya. Ketika si perapal menyerah dan ingkar, janji ini terus hidup, berjalan-jalan, dan menunggu datangnya orang lain yang di penghujung lidahnya sudah terbentuk tekad bulat untuk menaklukkan sesuatu yang lebih besar darinya.

albert-wirya
ALBERT WIRYA

Seorang peneliti sosial-humaniora berdomisili di Jakarta. Selalu berjanji lalu ingkar lagi untuk menulis rutin di blog pribadinya pelurukosong.wordpress.com.

Gambar Utama: Foto oleh Markus Spiske di Unsplash.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *