Ingatan Pertama | puisi LOUISE GLÜCK

Terjemahan IWAN NURDAYA-DJAFAR
  
 MUSIK SURGAWI
  
 Aku punya seorang sahabat yang masih percaya dengan surga.
 Bukan seorang yang bodoh, namun dengan segala yang ia tahu, ia sebenarnya berbicara
 kepada Tuhan.
 Dia kira seseorang mendengarkan di surga.
 Di muka bumi dia sangat cakap.
 Juga berani, mampu menghadapi ketaknyamanan.
 
 Kami temukan seekor ulat sekarat di dalam kotoran, dengan rakus kawanan semut merangkak di atasnya.
 Aku selalu digerakkan oleh bencana, selalu bersemangat menentang daya hidup
 Tapi juga malu, cepat memejamkan mataku.
 Sedangkan sahabatku bisa menyaksikan, membiarkan peristiwa-peristiwa bermain
 Seturut alam. Untuk kepentinganku dia campur tangan
 Menyikat beberapa semut dari benda yang robek, dan meletakkannya
 Di seberang jalan.
 
 Sahabatku mengatakan aku menutup mataku terhadap Tuhan, yang tidak dijelaskan lagi
 Keenggananku pada realitas. Dia bilang aku seperti anak yang
 Mengubur kepalanya di balik bantal
 Agar tidak melihat, anak yang berkata pada dirinya sendiri
 Bahwa cahaya menyebabkan kesedihan--
 Sahabatku seperti sang ibu. Sabar, mendesakku
 Untuk membangunkan seorang dewasa seperti dirinya, seorang pribadi berani--
 
 Di dalam mimpi-mimpiku, sahabatku mencela diriku. Kami berbicara
 Tentang jalan yang sama, kecuali musim dingin sekarang;
 Dia bilang padaku bahwa jika kau cinta dunia kau mendengarkan musik surgawi:
 Cari, dia berkata. Saat kucari, tiada apapun.
 Hanya awan gemawan, salju, sebuah pekerjaan putih di pepohonan
 Seumpama para pengantin melompat ke suatu ketinggian yang indah--
 Waktu itu aku takut terhadapnya; aku melihatnya
 Tertangkap di dalam jaring yang sengaja dilemparkan ke bumi--
 
 
 NINABOBO
  
 Ibuku seorang ahli dalam satu perkara:
 mengirim orang-orang yang ia cintai memasuki dunia lain.
 Anak-anak kecil, bayi-bayi-- ini
 dia buai, sembari berbisik atau bersenandung sayup-sayup. Takbisa kukatakan
 apa yang ia lakukan untuk ayahku;
 apapun itu, aku yakin itu benar.
 
 Itu adalah hal yang sama, sungguh, mengeloni seseorang
 untuk tidur, untuk mati. Ninabobo-ninabobo— mereka semua bilang
 jangan takut, itulah bagaimana mereka menafsirkan
 detak jantung sang ibu.
 Maka yang hidup tumbuh tenang perlahan; hanya
 yang sekarat yang takbisa, yang menolak.
 
 Yang sekarat bagaikan gasing, serupa giroskop--
 mereka  berputar dengan begitu cepat mereka terlihat menjadi tenang.
 Lalu mereka terbang terpisah: di dalam lengan ibuku,
 saudara perempuanku adalah segumpal awan atom, dari partikel-partikel— itu berbeda.
 Kala seorang anak tidur, itu masih utuh
 Ibuku melihat kematian; dia tidak bicara tentang kesatuan jiwa.
 Dia menggendong seorang bayi, seorang  lelaki tua, sebagai perbandingan, kegelapan tumbuh
 padat di sekitar mereka, akhirnya berubah menjadi bumi.
 
 Jiwa itu segalanya seperti materi:
 mengapa jiwa tetap utuh, tetap setia pada satu bentuknya,
 saat ia bisa menjadi bebas?
  
  
 KEBAHAGIAAN
  
 Seorang pria dan seorang wanita berbaring di atas sebuah ranjang putih.
 Saat itu pagi hari. Aku kira
 Mereka segera akan bangun.
 Di atas meja di sisi ranjang ada sebuah jambangan
 bunga lili; cahaya matahari
 kolam di tenggorokan mereka.
 Kulihat si pria menoleh pada si wanita
 seperti mengucapkan namanya
 tapi diam-diam, jauh di dalam mulutnya
 Di langkan jendela,
 sekali, dua kali,
 seekor burung berkicau.
 Dan lalu si wanita bergerak; tubuhnya
 dipenuhi dengan nafasnya.
 Kubuka mataku; kau memandangku.
 Nyaris di atas kamar ini
 matahari meluncur.
 Lihat wajahmu, kau berkata,
 menahan dirimu mendekat padaku
 untuk membuat sebuah cermin.
 Betapa tenang engkau. Dan roda terbakar itu
 melintas dengan lembut di atas kita.
  
  
 INGATAN PERTAMA
  
 Dulu, aku terluka. Aku hidup
 untuk membalas dendamku sendiri
 terhadap ayahku, bukan
 terhadap apa yang ia lakukan--
 untuk apa aku dulu: sejak awal waktu,
 di masa kanak, aku kira
 rasa sakit itu berarti
 Aku tiada dicintai.
 Itu berarti aku dicintai.
  
  
 BUNGA IRIS LIAR
  
 Di penghujung penderitaanku
 ada sebuah pintu.
 
 Dengarkan aku: bahwa yang kausebut kematian
 Aku ingat.
 
 Di atas kepala, berisik, cecabang pina bergeser
 Lalu tidak ada. Matahari lemah
 berkedip di atas permukaan yang kering.
 Taklah menyenangkan untuk bertahan hidup
 serupa kesadaran
 terkubur di tanah hitam.
 
 Kemudian semuanya berakhir: apa yang kautakuti, menjadi
 sebuah jiwa dan tak mampu
 Berbicara, tiba-tiba berakhir, bumi yang kaku
 membungkuk sedikit. Dan apa yang kuambil menjadi
 kawanan burung yang melesat di semak rendah.
 Kau yang tiada mengingat
 bagian dari dunia lain
 Kukatakan padamu aku bisa bicara lagi; apapun
 kembali dari pelupaan kembali
 menemukan sebuah suara:
 dari pusat hidupku muncul
 sebuah air mancur besar, bayangan biru tua
 di atas air laut yang biru.
  
  
 SEBUAH FANTASI
  
 Akan kututurkan sesuatu padamu: saban hari
 orang-orang  sekarat. Dan itu hanya permulaan.
 Saban hari, di rumah-rumah pemakaman, janda-janda baru dilahirkan,
 anak-anak yatim baru. Mereka duduk dengan tangan terlipat,
 berusaha memutuskan mengenai hidup baru ini.
 
 Waktu itu mereka berada di kuburan, beberapa dari mereka
 untuk kali pertama. Mereka takut menangis,
 adakalanya tak menangis. Seseorang membungkuk,
 menuturkan pada mereka apa yang dilakukan selanjutnya, yang bisa berarti
 mengucapkan beberapa patah kata, kadangkala
 melempar kotoran di kuburan yang terbuka.
 
 Dan setelah itu, setiap orang pulang ke rumah,
 yang mendadak penuh tetamu.
 Sang janda duduk di sofa, sangat megah,
 maka orang-orang berbaris untuk menghampirinya,
 adakalanya menggenggam tangannya, kadangkala memeluknya.
 Dia menemukan sesuatu untuk dituturkan kepada semua orang,
 berterimakasih kepada mereka, berterimakasih kepada mereka atas kedatangannya.

 Dalam hatinya, dia ingin mereka pergi.
 Dia ingin kembali ke pemakaman,
 kembali ke kamar sakit, rumah sakit. Dia mafhum
 itu mustahil. Tapi itulah satu-satunya harapannya,
 keinginan untuk menuju ke masa lalu. Dan sedikit saja,
 tak sejauh pernikahan, ciuman pertama. 

Dilahirkan pada 1943, Louise Glück adalah seorang penyair Amerika. Dia lahir di New York City dan besar di Long Island. Ayahnya  membantu menciptakan  X-Acto Knife. Glück tamat pada 1961 dari George W. Hewlett High School, di Hewlett, New York. Dia melanjutkan untuk kuliah di Sarah Lawrence College dan Columbia University. Glück memenangi Pulitzer Prize for Poetry pada 1993 untuk kolekinya The Wild Iris. Glück adalah penerima National Book Critics Circle Award (Triumph of Achilles), the Academy of American Poet’s Prize (Firstborn), dan juga banyak beasiswa Guggenheim. Dia tinggal di Cambridge, Massachusetts, dan sebelumnya seorang Pengajar Senior dalam bahasa Inggris di Williams College di Williamstown, MA. Glück sekarang mengajar di Yale University, tempat dia merupakan the Rosencranz Writer in Residence, dan dalam Program Penulisan Kreatif di Boston University. Dia juga menjadi anggota dari fakultas dari University of Iowa. Glück adalah penulis sebelas buku puisi, termasuk Averno (2006); The Seven Ages (2001); Vita Nova (1999), yang dianugerahi The New Yorker’s Book Award in Poetry; Meadowlands (1996); The Wild Iris (1992), yang menerima the Pulitzer Prize and the Poetry Society of America’s William Carlos Williams Award; Ararat (1990), yang menerima the Library of Congress’s Rebekah Johnson Bobbitt National Prize for Poetry; dan The Triumph of Achilles (1985), yang menerima the National Book Critics Circle Award, the Boston Globe Literary Press Award, dan the Poetry Society of America’s Melville Kane Award. Empat buku pertama memuat puisi-puisi awalnya. Louise Glück juga sudah menerbitkan kumpulan esai, Proofs and Theories: Essays on Poetry (1994), yang memenangi the PEN/Martha Albrand Award for Nonfiction. Sarabande Books diterbitkan di dalam bentuk pamflet kecil sesuatu yang baru, puisi enam bagian, Oktober 2004. Pada 2001 Yale University menganugerahi Louise Glück Bollingen Prize in Poetry, memberikan setiap dua tahunan untuk suatu pencapaian sepanjang hayat di dalam keseniannya. Penghargaan-penghargaan lainnya termasuk the Lannan Literary Award for Poetry, the Sara Teasdale Memorial Prize (Wellesley, 1986), the Massachusetts Institute of Technology Anniversary Medal (2000), dan beasiswa dari the Guggenheim dan Rockefeller foundation dan dari the National Endowment for the Arts. Dia adalah anggota dari Akademi Amerika dan Institute of Arts and Letters, dan pada 1999 terpilih menjadi seorang  Penanggungjawab untuk Academy of American Poets. Pada 2003 dia diangkat sebagai juri baru untuk the Yale Series of Younger Poets dan terus bekerja dalam posisi itu. Glück ditunjuk menjadi the US Poet Laureate dari 2003-2004, menggantikan Billy Collins. Pada 2020 dia menerima Hadiah Nobel untuk Sastra. Komite Nobel Akademi Swedia menyebutkan, penghargaan tersebut diberikan kepada Louise atas karya-karyanya yang indah. “Untuk suara puitisnya, yang tidak salah lagi, dengan keindahan yang tegas mampu membuat keberadaan individu menjadi universal.”

iwan-nurdaya-djafar

Iwan Nurdaya-Djafar adalah penyair, cerpenis, esais, dan penerjemah, tinggal di Bandarlampung. Sekretaris Akademi Lampung ini menulis di sejumlah media massa seperti Horison, Ulumul Quran, Sarinah, Amanah, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Post, dll. Buku-bukunya Seratus Sajak, Bendera (kumpulan cerpen), Hukum dan Susastra, menerjemahkan karya-karya Kahlil Gibran yaitu Sang Nabi, Bagi Sahabatku yang Tertindas, Kematian Sebuah Bangsa, Airmata dan Senyuman. Terjemahan lainnya novel Lelaki dari Timur (Mohsen El-Guindy), Membeli Setangkai Pancing untuk Kakekku (kumpulan cerpen Gao Xinjiang), Agustus 2026: Saat itu Akan Turun Hujan Gerimis (kumpulan cerpen Ray Bradbury), Indonesia di Mata India: Kala Tagore Melawat Nusantara, Nusantara Semasa Raffles, Beliung Patah (kumpulan puisi Fethullah Gullen), Pada Getar Pagi (kumpulan puisi Maya Angelou), Diwan Timur-Barat (kumpulan puisi Johann Woflgang von Goethe), dll.

Gambar utama: Foto oleh SHVETS production dari Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *