GURU SELAIN-LAINNYA | esai NIRWAN DEWANTO

—Surat untuk Arif Bagus Prasetyo

Ia disebut guru oleh para penyair yang tumbuh melalui halaman puisi yang dirawatnya (aku tak yakin bahwa semua penulis sajak itu mendaku diri murid). Situasi tersebut sungguh tidak biasa, sebab sepanjang riwayat sastra Indonesia tidak ada hubungan guru-murid yang demikian; pada umumnya para penyair kita belajar melalui khazanah bacaan dan pergaulan dengan sesama penulis, bukan terutama melalui perguruan yang diampu seorang guru.

Tapi ia memang sudah menciptakan sesuatu yang tak bisa diciptakan oleh siapa pun di bentangan sastra kita. Yaitu, membangun dan merawat sejenis perguruan tanpa ruang kelas, mula-mula di Yogyakarta dan kemudian di Bali; ya, menjalankan sepanjang setengah abad, dengan cinta dan kegilaan yang tak terukur, “perguruan” yang sebentar lagi akan kusebut “taman siswa puisi” (untuk mengikuti nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara). Sebagaimana terbukti, ia sudah “melahirkan” banyak penyair, banyak sekali.

Tentulah ia seorang penyair juga, sebab ia menulis puisi, tak terlalu banyak jumlahnya. Sajak-sajaknya terbit sejak 1961 antara lain di majalah-majalah sastra-budaya Mimbar Indonesia, Gelanggang dan Basis dan di koran-koran Mahasiswa Indonesia dan Pelopor Yogya. Tapi tak sebuah buku puisi pun diterbitkannya. Ia sungguh tampak tak berminat untuk disebut penyair. Di kemudian hari kita membaca sajak-sajaknya melalui dokumentasi orang lain. Antara lain pada bunga rampai Tonggak (1987) jilid ketiga, yang disunting oleh Linus Suryadi AG, salah seorang muridnya di Yogyakarta (mohon maaf kepada Linus, yang tidak pernah menyebut dirinya murid demikian; selebihnya, dalam tulisan ini, kuharap kau membaca murid sebagai “murid” belaka) dan, akhirnya, di internet.

Namanya kudengar dari jauh sejak aku masih di SMP di Banyuwangi, ketika aku ikut berkumpul-kumpul dengan sejumlah kawan senior yang mengadakan siaran pembacaan puisi sepekan sekali di radio pemerintah daerah kabupaten setempat. Mereka mengirimkan sajak-sajak mereka ke rubrik puisi bernama Persada Studi Klub di Pelopor Yogya, sebuah koran kecil yang terbit setiap Selasa. Rubrik yang dijaga oleh ia, “guru” yang misterius itu.

Persada Studi Klub ialah juga “kelompok” yang didirikannya bersama teman-temannya yang lebih muda, di tahun 1969. Tentu saja Persada bukan organisasi, melainkan gerombolan. Yakni gerombolan “gelandangan” penyair, yang hampir setiap malam bertemu dan memperbincangkan puisi di Jalan Malioboro 175-A, di kantor Pelopor Yogya (tempat yang kini sudah menjelma Jogja Library Center).

umbu-landu-paranggi
Umbu Landu Paranggi. (Arsip Wayan Jengki Sunarta.)

Setiap pekan, aku membaca lembaran Persada tersebut, satu halaman yang berisi sajak-sajak. Pelopor Yogya dijual di lapak sebuah hotel kecil di Banyuwangi, tapi kadang kala aku membaca edisinya yang dikirimkan ke kawan-kawanku bila sajak-sajak mereka dimuat di situ. Satu halaman rubrik bisa berisi 10-20 sajak, oleh para penyair yang sebagian besar tinggal di Pulau Jawa, misalnya Purwokerto, Kudus, Tegal, Kendal, Semarang, Pati, Surakarta, Surabaya, Malang, dan, terutama, Yogyakarta. (Di kemudian hari, Suwarna Pragola, yang juga ikut mendirikan Persada, menyebut lebih dari 1500 nama penyajak yang pernah tersangkut di ruang puisi itu sejak 1969 hingga saat bubarnya pada 1977.)

Nama-nama penyair yang muncul di Persada itu sebagian besar asing buat aku. Hanya sebagian kecil yang aku kenal, mereka yang sudah memuatkan karya-karya di media nasional, misalnya saja Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Yudhistira Ardi Nugraha, Suwarna Pragola. (Suwarna menulis cerita anak-remaja di majalah Kawanku dan “cerita dewasa” di majalah Senang, Linus beberapa kali menerbitkan tinjauan puisi di harian Kompas, dan Yudhis ikut serta dalam Puisi Mbeling di majalah Aktuil. Itu aneka media kubaca sejak aku di kelas empat SD.)

Di rubrik Persada Studi Klub, nama si pengasuh tidak tertera. Tapi semua—para penyair dan bakal penyair—tahu bahwa ialah sang penjaga gawang di situ. Catatannya ialah pemberi semangat: catatan yang dipenuhi metafor dari laga sepakbola—menggiring bola, memperlancar gocekan, membuka serangan, menembus gawang, dan sebagainya.

Menembus gawang, misalnya, ialah isyarat atau perian untuk sampai ke taraf mutu puisi yang lebih tinggi. Bila si anu dikatakannya sudah menembus gawang Sabana, maka arti tersuratnya adalah bahwa puisinya akan atau sudah termuat di seksi Sabana; dan arti tersiratnya, puisinya sudah mencapai kualitas “puisi Indonesia”. Dan tampaknya itu tidak keliru: tak sedikit penyair kelas Sabana bisa memuatkan puisi di Horison dan Budaya Jaya, dua majalah sastra-budaya terpenting di dekade 1970-an. Misalnya saja Linus Suryadi AG, Iman Budhi Santosa, dan Emha Ainun Nadjib.

Namanya yang asing itu memang segera men-yogya, menjawa dan mengindonesia, nama yang begitu merdu didengar dan nyaman diucapkan. Nama pertamanya, yang sesungguhnya adalah gelar kebangsawanan di tanah kelahirannya, Sumba, pun berpisah dari makna aslinya. Dengan itulah ia dipanggil dan “melembaga”. Seakan-akan ia belaka pemilik nama itu di Indonesia kita.

Ia menghembuskan semangat bahwa semua anak muda bisa menulis puisi. Untuk para pemula, di ruang Persada tersedia seksi Pawai. Gembleng-gemblengannya melalui catatannya (yang menyebut nama-nama pengirim sajak berikut kota-kota domisili mereka) akan mengobarkan gairah mereka untuk “naik kelas” ke seksi Kompetisi dan kemudian ke seksi Sabana. Semua anak muda itu berhasrat menjadi penyair Indonesia, bukan sekadar penyair lokal. Mereka mau berdiri di ketinggian yang sudah dihuni oleh Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, atau Subagio Sastrowardoyo. Paling tidak seperti Linus dan Emha, yang bisa termuat di Horison dan koran-koran Jakarta. (Kelak, cara ini ia lanjutkan di rubriknya di Bali Post edisi Minggu, juga dengan penjenjangan yang sedikit lebih panjang: karya-karya para pemula di Pos Pawai, karya-karya puncak di Pos Budaya; dan di antaranya ialah Kompetisi dan Kompetisi Promosi.)

Para penyair itu melihat ia dengan penuh hormat dan kagum. Misalnya Emha Ainun Nadjib, yang sudah terlibat ke dalam Persada Studi Klub sejak kelas dua SMA-nya, mengatakan di jauh kemudian hari, di tahun 1996, bahwa ia, si pengasuh, membawa kaum muda-remaja itu ke situasi di mana “puisi lebih utama dibanding negara, tentara, universitas, atau segala macam kesibukan dan benda-benda yang berseliweran sedahsyat apa pun di sekitar kami.”

Bila ketika itu aku menatap dekat lembar Persada Studi Klub dan si penjaga ruang, sesungguhnya aku hanya seorang anak kampung jauh yang menganggap segala kiprahnya dalam mengobarkan semangat berpuisi di kalangan kaum muda-remaja sebagai jalan yang masuk-akal untuk memasuki sastra Indonesia.

Namun, pada saat yang sama aku berpikir bahwa ada yang lebih luas daripada sekedar sosoknya bersama Persada. Itulah Yogyakarta, lingkungan pergaulan seni-budaya, yang bukan hanya mewadahi ia dan “gerombolan”-nya, tapi juga Affandi, Rendra, Bagong Kussudiardja, Akademi Seni Rupa Indonesia, Gerakan Seni Rupa Baru, dan seterusnya. Menjadi sastrawan dan seniman adalah kurang-lebih men-yogya. Aku ingin menempuh SMA di kota itu, “nyeniman”, tapi keluargaku terlalu miskin untuk mengirim aku bersekolah ke sana.

Bersua dengan ia, kenapa tidak? Baiklah, aku baru menemukan Yogyakarta bertahun-tahun kemudian, dan baru jauh belakangan lagi berjumpa dengan guru para penyair itu di Bali. Selama itu, aku hanya membaca atau menguping aneka cerita tentang ia dari sejumlah murid atau mantan muridnya, misalnya Linus dan Emha. Atau, jauh sangat di kemudian hari, aku juga mendengar itu dari kawan-kawannya di lingkungan Fakultas Sosial Politik UGM (di mana ia mengambil jurusan Sosiatri, kuliah yang tak pernah diselesaikannya), misalnya Zulkifly Lubis, sesama “gelandangan” yang suka bergentayangan di antara Bulaksumur, Malioboro, Seni Sono dan Gampingan (kampus Akademi Seni Rupa Indonesia, ASRI), “rombongan” yang mencakupi nama-nama seperti Ashadi Siregar, Mochtar Pabottingi, Daniel Dhakidae, Parakitri Tahi Simbolon, dan Rusli sang pelukis. Cerita tentang ia selalu mengandung sendat yang tidak biasa.

Misalnya saja bahwa ia tiba-tiba menghilang dari Yogya dengan membawa mesin ketik Linus di tahun 1975; bahwa ia berkirim telegram ke Emha akan segera kembali; bahwa sejumlah muridnya berupaya melanjutkan Persada Studi Klub di Pelopor Yogya namun sia-sia belaka. Ternyata ia pulang-kampung ke Sumba Timur—ada yang bilang itu atas permintaan ayahandanya—dan berkeluarga di sana (baru jauh belakangan aku tahu bahwa ia punya anak tiga orang). Ia tiba-tiba muncul di Bali di sekitar 1979. Dan ia mengerjakan hal yang serupa dengan lembar Persada Studi Klub di harian Bali Post edisi Minggu. Dengan intensitas yang sama, dengan “misteri” yang sama.

Kali ini aku tidak mencoba mencari tahu tentang ia. Pun aku sudah berada di Bandung sejak pertengahan 1980, dan mencari jalan masuk ke dunia sastra Indonesia dengan caraku sendiri. Aku tahu bahwa Bandung, dibandingkan Yogya, lebih kering, dingin dan “intelektual” (kurang-lebih serupa dengan apa yang diperbicangkan di medan seni rupa tentang “mazhab Bandung” dan “mazhab Yogya”). Buat aku ngumpul-ngumpul itu menyenangkan, untuk mengobarkan semangat menulis; namun, untuk mengembangkan diri selaku tukang puisi, jauh lebih penting ialah membaca, belajar sendiri di perpustakaan dan kamar kos (ketahuilah bahwa pergaulan para penyair sedunia, yang sudah mati dan yang masih hidup, sesungguhnya ialah pergaulan karya-karya dalam situasi hening-bening yang mutlak). Lagipula aku tak suka berguru, kecuali benar-benar di ruang kelas, yaitu berkuliah dengan para dosen di Departemen Geologi ITB. Di luar itu, keperluanku adalah melatih diriku berpikir, berpolemik dan menulis esai—dan untuk itulah aku berhimpun dalam Kelompok Sepuluh dan Grup Apresiasi Sastra, dan getol mengikuti berbagai diskusi seni-budaya dan politik.

Tapi “bau” kehadirannya berhembus lagi. Di tahun 1982 aku membaca sajak-sajak Tjok Raka Pemajun di Horison dan koran Sinar Harapan—dan aku merasa itulah semacam kelanjutan sajak-sajak yang muncul di seksi Sabana Pelopor Yogya. “Puisi pengakuan” dengan gaung nyanyi sunyi dan konotasi warna lokal.

Di forum Puisi Indonesia 1987 di Taman Ismail Marzuki, aku bersua dengan sejumlah muridnya, misalnya IDK Raka Kusuma, Adhy Ryadi dan I Made Suantha. Dari merekalah aku mendengar lagi tentang ia dan ruang puisi di Bali Post edisi Minggu. (Tak lama setelah itu, ia memuat sajakku “Main Catur” di Pos Budaya; pastilah ia mengutipnya dari bunga rampai forum puisi tersebut. Namun baru kuketahui perihal ini bertahun-tahun kemudian.)

Lingkungan pergaulan kesenian di Yogyakarta dan Bali yang aku masuki sejak awal 1990-an adalah juga lingkungan yang diisi oleh sejumlah murid dan rekannya, mereka yang tak jarang membawa cerita tentang ia dan “perguruan puisi”-nya yang tak pernah kehilangan api.

Jurnal kebudayaan Kalam yang aku kelola bersama kawan-kawan sepanjang 1994-2006 ada beberapa kali memuat sajak-sajak para penyair Bali, misalnya Warih Wisatsana, Sinduputra, dan Oka Rusmini, mereka yang mengumumkan puisi pertama kali di Bali Post, di ruang yang dirawat oleh lelaki Sumba yang tetap saja penuh teka-teki itu. Lembar sastra Koran Tempo edisi akhir pekan yang aku jaga selama 2002-2016 juga banyak memuat puisi dari Bali hingga generasi terbaru, sebagian besar (kalau bukan semuanya) pernah terasuh di “perguruan”-nya, misalnya saja Wayan Jengki Sunarta, Made Adnyana Ole, IAO Suwati Sideman. Termasuk orang-orang muda yang berpindah dari jauh (dari Pesisir Selatan, Minangkabau, misalnya) ke Bali untuk berguru kepadanya—Raudal Tanjung Banua dan Riki Dhamparan Putra.

Ketika aku makin rajin berkunjung ke Bali sejak 2016, setiap kali teman-teman itu ingin mengajak aku mengunjunginya—namun hanya “ingin”. Bila aku menginap di rumah Jean Couteau di Cekomaria di Denpasar Utara, ia selalu menyebut bahwa guru para penyair itu tinggal di seberang sana, di seberang Tukad Ayung yang mengalir dekat di situ, “kita tinggal melompati sungai itu untuk sampai ke rumahnya.” Barulah pada suatu hari di tahun 2017 aku, bersama Putu Suasta dan Warih Wisatsana, mengetuk pintu rumahnya di kompleks Lembah Pujian untuk pertama kali.

umbu-nirwan-suasta
Dari kanan ke kiri: Umbu Landu Paranggi, Putu Suasta, Nirwan Dewanto. (Foto oleh Warih Wisatsana)

Pada 5 April kemarin aku menerima kabar dari Mira Astra bahwa ia dirawat di hospital Bali Mandara, dan aku tak cukup punya nyali bertanya apa sakitnya sebab aku masih gentar akan perginya sejumlah kawan oleh virus ganas itu. Baru dua jam kemudian aku nekad mencari tahu ke Jean Couteau, yang segera menjawab ya, betul, ulah si virus lagi, tapi “jangan khawatir”, ia “dirawat sebaik-baiknya di bawah pengawasan istri Gubernur Bali.” Pagi ini Putu Suasta mengirim pesan, “Lapor, kamerad. Abang kita sudah pergi tadi pukul 03.55 waktu setempat.” Tidak lama kemudian, menuju siang hari, sejumlah kawan mengunggah berita duka cita itu di Instagram dan menyebut ia, antara lain, “guru batin”, “mahaguru puisi”, “mata air puisi”, “guru yang bersih hati”.

Ketika aku memulai catatan ini, sesungguhnya aku bertanya apa dan bagaimana gerangan sosok guru yang begitu tinggi dijunjung para muridnya itu. Jika aku melihat ke belakang dan mengais-ngais riwayat pendidikan di tengah persekolahan kita yang semakin sulit mendapatkan guru-guru-pendidik (yang pastilah bukan guru-guru yang sekadar melolohi murid-murid dengan bahan ajaran), maka kian jelaslah bagiku bahwa ia adalah seperti guru-guru sekolah Taman Siswa yang terbaik, misalnya saja Mohammad Said Reksohadiprodjo atau Pak Said. Bukan kebetulan ia, guru para penyair itu, adalah pengagum Taman Siswa dan Ki Hadjar Dewantara. “Salah satu kehilangan Indonesia yang terbesar ialah bahwa kita tak punya lagi pendidikan Taman Siswa,” katanya suatu hari kepadaku di sebuah restoran di dekat Sanur.

Konsep “pendidikan dan kebudayaan” yang termasyhur itu memang berasal dari filosofi Taman Siswa. Itulah pendidikan kebudayaan, pendidikan berdasarkan warisan kebudayaan yang hidup di sekitar, pendidikan demi mengembangkan kebudayaan bersama kaum warga. Pendidikan “rasa”, pendidikan keterampilan, pendidikan untuk jadi manusia mandiri, bukan manusia pegawai. Guru-guru Taman Siswa bukan lagi sekadar guru, namun juga pendamping dan sahabat dalam pendewasaan. Sejumlah murid Pak Said di Taman Siswa di Kemayoran, Jakarta, sudah berkiprah nasional di masa sekolah itulah—misalnya Sjuman Djaya, Misbach Jusa Biran, Ajip Rosidi (dan di masa berikutnya, mantan muridnya seperti Benyamin Sueb dan Ateng Suripto, dua pekomedi). Ia tahu akan bakat para remaja itu, ia memberikan dorongan terbaik agar mereka berani berkarya dan muncul ke kancah kesenian Indonesia.

Si guru para penyair bukan hanya mengikuti Ki Hadjar Dewantara dan Pak Said, tapi juga gurunya di SMA Bopkri di Yogyakarta, Bu Lasiyah Soetanto, yang tahu akan bakatnya menulis puisi. Ia pernah menceritakan guru bahasa Inggrisnya yang kelak jadi Menteri itu dengan bangga kepadaku, “guru yang tidak pernah menggurui, dan tahu bagaimana menumbuhkan kebanggaan diri murid-muridnya”.

Tentu saja “taman siswa puisi” yang ia dirikan dan rawat itu berlangsung di jalanan, tanpa jam belajar, tanpa kurikulum, tanpa kelulusan. Ia mengajak para muridnya berjalan dengan tabah, menempuh jalan puisi berujung cakrawala.

Aku kira ia juga mengikuti jalan guru-guru yang lain, yakni mereka yang berkiprah di sanggar-sanggar seni lukis, misalnya Sindudarsono Sudjojono di Seniman Indonesia Muda dan Hendra Gunawan di Pelukis Rakyat, dua sanggar yang berdiri pada akhir 1940-an di Yogyakarta. Mereka bukanlah guru biasa, mereka adalah seniman yang berbagi aspirasi kesenian, yaitu kesenian untuk memperlihatkan jiwa diri sendiri maupun jiwa masyarakat. Tentu, ketika ia memasuki Yogyakarta di tahun 1959, sanggar-sanggar itu sudah surut kiprahnya, namun jejak-jejaknya sangat hidup di lingkungan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), di kalangan dosen-dosen yang mengajarkan lukis-melukis “hingga seniman mati di kanvas”.

Namun, tidak seperti sosok guru pemimpin sanggar itu, ia bekerja tanpa heroisme. Ia juga tidak mengajarkan “teknik”, meskipun ia menunjukkan ukuran yang berlaku di medan penulisan puisi, misalnya dengan penjenjangan Pawai—Kompetisi—Sabana yang sudah kusebut tadi. Jika Hendra dan Sudjojono ialah pemimpin sanggar dan pendobrak kancah seni nasional, ia bukan (setidaknya ia tak punya ambisi ke arah sana). Jika dosen-dosen ASRI menganjurkan corak “kepribadian nasional”, maka ia, guru para penyair itu, tidak. Ia sekadar menunjukkan apa dan bagaimana itu karya yang baik (misalnya dengan memuat—atau memuat lagi—sejumlah sajak para penyair Indonesia dan terjemahan para penyair mancanegara di seksi Sabana atau Pos Budaya).

Sementara itu, masih ada model-guru yang lain di Yogyakarta ketika ia berkiprah di sana. Itulah para pendiri dan pemimpin “bengkel-bengkel seni pertunjukan”—Rendra di Bengkel Teater, Azwar AN di Teater Alam, Bagong Kussudiardja di padepokan tarinya, misalnya. Ia cukup dekat melihat kelompok-kelompok itu, dan kukira ia jengah dengan perbintangan di situ. Para guru-pemimpin itu masing-masing ialah bintang besar yang dikitari oleh bintang-bintang kecil, para anggota yang bisa saja redup sinar kapan saja. Sedangkan ia lebih suka akan sunyi dan mengendap di sudut jauh.

Tapi apa sebenarnya “ilmu penulisan” yang ia jalarkan ke dalam diri murid-muridnya? Apakah aku bisa mendapatkan cerita tentang itu dari ia sendiri ketika kami mengobrol sambil ngopi? Ternyata tidak. Apakah aku bisa menyadap itu dari murid-muridnya? Ternyata tidak juga. Namun, melalui percakapan dengan beberapa di antara mereka di Yogya dan Bali, aku bisa menyimpulkan bahwa ia tidak pernah bicara tentang segi-segi formal puisi. Dengan kata lain, yang ia “ajarkan” bukanlah “ilmu puisi”, melainkan “ilmu kehidupan”. Baiklah, aku coba membanding-bandingkan.

Jika aku boleh sedikit melempangkan perihal, maka aku dapat mengatakan bahwa di “dunia sebelah sana”, ada dua jalan. Jalan yang pertama ialah jalan Eropa, yaitu bahwa seorang penulis dilahirkan, bukan dibuat; katakan saja bahwa ia adalah semacam jenius. Dengan kata lain, seorang calon penulis menempa dirinya sendiri, memperlawankan dirinya dengan kanon sastra dalam bahasanya. Kalaupun ada tempat tempaan, maka itu ialah sirkel kecil, “salon sastra”, tempat para pesastra berdiskusi tentang penulisan dan isu-isu seni-budaya, di mana para “peserta” berlaku setara (memang kadang kala di situ ada penulis senior, yang dianggap bukan sebagai guru, namun sosok yang sudah punya reputasi dan pengalaman). Selebihnya, “ajal dan hidup memang urusan masing-masing.” Aku tahu bahwa banyak penulis Eropa yang mencibiri jalan kedua, yang kurang-lebih adalah jalan Amerika. Itu pabrik, begitulah kurang-lebih kata mereka.

Di Amerika Serikat, bertumbuh kelas-kelas penulisan di berbagai universitas, yaitu sejak Paul Engle membuka Writers’ Workshop di University of Iowa di Iowa City di pertengahan 1960-an. Sesuai dengan namanya, sesungguhnya ini adalah kelas lokakarya yang terstruktur di dalam sistem universitas. Tentu saja ada keluwesan di situ, karena hubungan antara guru (profesor, biasanya penulis ternama) dan murid (calon penulis) bersifat situasional, customized, yaitu bergantung kepada proyek apa yang dikerjakan pihak kedua. Pada dasarnya, setiap murid mengolah sebuah naskah yang harus ia jadikan manuskrip, yang akan “dinilai” untuk kelulusannya. Sesuai dengan bakat dan minatnya, seorang calon mahasiswa memilih apakah ia akan di “jurusan” puisi, fiksi, atau non-fiksi.

Di Amerika Selatan, muncul juga kelas-kelas lokakarya penulisan, meskipun itu jauh lebih longgar, swasta, dan bohemian ketimbang yang di Amerika Serikat. Setidaknya begitulah yang kita baca melalui, misalnya, novel-novel Roberto Bolaño. Ini ada juga miripnya dengan “taman siswa puisi”, meskipun di sana si guru akan jauh lebih formal dan hemat-waktu daripada suhu puisi dari Sumba itu.

Di Indonesia ada juga “guru puisi” yang lain, misalnya Saini KM, yang mengelola rubrik puisi Pertemuan Kecil di harian Pikiran Rakyat (Bandung). Di situ, setiap Selasa, paling tidak sepanjang 1980-an hingga pertengahan 1990-an, ia memuat sajak-sajak para penyair muda, menulis esai-komentar tentang itu seraya membawa sejumlah konsep persajakan—rima, puisi lirik, balada, enjambement, misalnya.

Beberapa tahun terakhir ini Dewan Kesenian Jakarta juga mengadakan lokakarya menulis fiksi yang, menurut sejumlah alumninya, “sangat bermanfaat”. Salah satu “guru” di situ, A.S. Laksana, kini membuka kelas penulisan—kelas dasar dan kelas-kelas lanjutan—fiksi sendiri via “surat menyurat” e-mail. Kelas dasar, misalnya, berlangsung sebulan: setiap hari, “pak guru” Laksana mengirim bahan tertulis yang berisi uraian maupun bahan latihan; ia dan murid-muridnya berdiskusi lewat kelompok whatsapp dan email. Ia mendorong mereka untuk sampai pada khazanah bacaan, “studi perbandingan” dan, terutama, keterampilan yang semestinya. Atau, paling kurang, ia menularkan “seni membaca” yang titi-teliti dan mustahak.

Bila aku bandingkan guru para penyair itu dengan guru-guru yang lain, sesungguhnya aku benar-benar mencari tahu jalan apa saja yang bisa membuat seseorang menjadi penulis, atau, paling tidak, bagaimana latihan tulis-menulis itu penting untuk pendewasaan diri seseorang. Aku ingin tahu apakah, jika ia memang punya metode, itu benar-benar ada, bisa diteruskan, direplikasi atau dikembangkan oleh siapa saja.

Pembandingan di atas semakin membuat aku sampai kepada pendapat bahwa “taman siswa puisi” tersebut ialah “perguruan” yang tiada duanya di bumi manusia kita, perguruan yang bergantung sepenuhnya kepada sosok sang guru. “Perguruan” yang tak mungkin diperpanjang atau digandakan oleh sosok lain, atau ditanam di wilayah lain dengan cara apa juga.

Juga, pembandingan dengan “guru-guru biasa” itu terlihat layak kukerjakan ketika sosok si guru sudah berkembang menjadi semacam fiksi. Misalnya saja, bahwa di Yogya ia selalu membawa murid-muridnya berjalan kaki setiap malam menyusuri Malioboro ke selatan ke arah Keraton dan Jeron Beteng dan sekitarnya hingga subuh tiba; bahwa ia bisa hidup hanya dengan makan (sarapan) sehari sekali di jam yang sama (dan bila jam itu terlewati ia hanya bisa makan di jam yang sama esok harinya); bahwa ia pernah mencintai seorang perempuan-perupa secara platonik belaka hingga bertahun-tahun; bahwa di Bali ia bisa tiba-tiba muncul di pintu kediaman murid-muridnya kapan saja; bahwa ia tidur di atas tumpukan koran yang memenuhi kamar bahkan ranjang tidurnya; bahwa ia selalu berpuasa 24 jam di hari ulang tahun murid-muridnya yang dibayangkannya akan “punya nama”. Bukan kebetulan bahwa aneka cerita itu bersumber pada sejumlah muridnya yang sudah “jadi orang” di berbagai saluran penting. Maka kisah pun membiakkan diri menjadi setengah-dongeng, apalagi di zaman media sosial sekarang. Mereka yang tidak pernah membaca puisi, tiba-tiba seperti punya perhatian terhadap puisi, dan menganggap ia “penyair legendaris”.

Ia yang aku jumpai di Bali ialah sosok jauh dari dongeng. Di luar rumahnya, ia selalu terlihat rapi dan bersih, bahkan sangat necis, sadar dengan setelan dan syal dan topi yang yang dikenakannya, sadar akan segenap warna yang ia pilih; ia tahu bagaimana meramu warna-warna yang gelap dan yang lebih terang. Ia mengatur penampilannya tanpa kegenitan. (Kenecisannya mengingatkan aku kepada pelukis Srihadi Sudarsono; meski dalam hal berpakaian, ia jauh lebih “brutal” dalam mengancang warna dan variasi ketimbang Srihadi. Misalnya, ia bisa meramu jaket serdadu loreng dan syal tenun Sumba.)

umbu-landu-paranggi
Umbu Landu Paranggi. (Arsip Wayan Jengki Sunarta)

Dan ia menyukai makan, dan tak menolak jika dibawa nangkring ke tempat-tempat yang “burjuis”. Ia bersantap dengan tempo yang terjaga dan porsi yang tepat (sup asparagus, soto daging sapi, misalnya). Ia tampak sehat, berat dan bentuk badannya terjaga, wajahnya bersih dan murah senyum. Rambutnya yang halus-lurus menjuntai hingga ke bahu tersisir sangat baik dan “terpegang” dengan rapi oleh topinya, topi yang selalu berbeda setiap saat ia keluar rumah.

Ia adalah kawan bicara yang menyenangkan, dan kami bisa bercakap ke sana ke mari perihal teman-temannya (tentu juga murid-muridnya) yang aku kenal, beberapa segi pengalamannya di Yogya, dan—terutama—joie de vivre. Ada juga kami berbicara tentang sastra, meski ini terutama menyangkut kiprah hidup sejumlah sastrawan yang kami lihat secara ringan-ringan saja. Alkimia di antara kami, dan teman-teman yang terlibat, memang membuat kami tidak memasuki topik yang lebih kritis, penilaian akan sastra dan situasi sosial-politik misalnya. Ada yang bilang bahwa ia dahulu sangat hemat bicara, dan tampaknya itu benar; sejauh yang aku tahu, ia tak pernah tampil di forum mana pun selaku pembicara atau pembahas. Beberapa kawan di Bali berkata bahwa ia jadi jauh lebih periang sejak ia keluar dari opname (oleh sebab infeksi saluran pernapasan dan paru-paru) di hospital Sanglah di tahun 2014. Itu keriangan yang tak pernah kubayangkan di tengah dongengan tentang ia yang mampir ke telingaku. Ada waktunya ia menelepon aku ke Jakarta, “Bung kapan lagi ke Bali? Jangan lupa bawakan aku buku-buku ya.”

Tapi, terkadang aku mendengar sejumlah pernyataannya yang mengejutkan, misalnya, “Kalau saja dulu aku punya tiga Emha, aku bisa mengubah Indonesia lebih cepat.” Atau, yang sudah kusebut tadi, “Salah satu kehilangan Indonesia yang terbesar ialah bahwa kita tak punya lagi pendidikan Taman Siswa.” Suara baritonnya yang sedikit bergetar dan berirama malah membuat aneka pernyataan itu terdengar karikatural.

Jika aku hubungkan pernyataannya yang berbau cibiran itu dengan kiprahnya sejak ia mendirikan Persada Studi Klub di Yogyakarta di tahun 1969 hingga akhir hayatnya di Bali, maka aku ingin mengatakan bahwa aspirasinya dalam membina anak-anak muda-remaja tersebut bukanlah terutama untuk mendorong mereka jadi penyair. Menulis puisi ialah sarana untuk memerdekakan diri, untuk menghayati kehidupan yang otentik, untuk mencari jalan alternatif di luar sekolah. Peran si guru ialah membuat seorang murid menyadari kekuatan dirinya sendiri, yang selama ini terpendam tak terlihat. Berpuisi ialah deschooling, bukan untuk menolak sekolah, tapi untuk menyatakan bahwa pendidikan resmi sangat tidak cukup.

Pada hematku, dengan mengatakan “tiga Emha” sesungguhnya tidaklah ia sekadar menyebut si empunya nama, tapi, lebih daripada itu, ia menyatakan potensi tumbuh setiap muda-remaja yang, bagaikan benih, mampir atau terhempas ke kebun yang dirawatnya, dan itu tentu bukan hanya “Emha”, tapi bisa juga “Linus”, “Warih”, “Frischa” atau siapa pun juga—dan “tiga” bisa terganti oleh bilangan yang jauh lebih besar lagi. Bagi aku, ia bermaksud mengatakan bahwa jalan puisi pada akhirnya ialah jalan untuk menggerakkan penyadaran dan perubahan, dan bahwa jalan itu bisa ditempuh oleh setiap orang. Jika penyimpulanku berlebih-lebihan, maka kenyataannya adalah bahwa sebagian besar muridnya hanya menulis di masa muda, dan kemudian memperkembangkan dirinya dengan mantap di bidang-bidang lain, tak sedikit yang aku kenal kini menonjol sebagai wartawan, pemimpin gerakan, pengelola pusat budaya, pengamat seni rupa, saudagar, pegiat toleransi beragama, peneliti, arsitek, editor, pendidik, dokter, perangsang swadaya masyarakat, dokter hewan, novelis, petani, ahli hukum, dan seterusnya.

Bukan berarti menulis puisi tidak penting. Tapi dengan “taman siswa puisi” yang dirawatnya dengan tabah dan setia itu, ada yang jauh lebih penting daripada sekadar menjadi penyair atau sastrawan. Hanya mereka yang betul-betul setia dan tabah menyelami tenaga kata dan bahasa yang akan bertahan selaku penghasil sastra, dan ini tentulah akan sangat sedikit jumlahnya—“hukum alam” yang akan berlaku baik untuk “taman siswa puisi” maupun sekolah-sekolah penulisan di mana pun di dunia ini, bukan?

Kawanku, penerjemah Charles Bukowski dan pemilik sebuah kedai kopi di Rawamangun, Hamzah Muhammad, mengatakan bahwa jika Subagio Sastrowardoyo mencari sosok pribadi penyair dalam puisi, maka sosok si guru para penyair ialah puisi itu sendiri. Katakan saja puisi kehidupan, atau puisi sebagai lelaku kehidupan. Dalam “perguruan”-nya, puisi ialah alat, bukan dalam pengertian sastra programatis dalam politik kanan atau kiri, tetapi, ya itu tadi, puisi sebagai sarana untuk pemerdekaan dan pendewasaan diri. Puisi ialah sarana untuk pendidikan kebudayaan. Menulis puisi ialah—aku pinjam sebuah frasa dari khazanah Jawa—tapa ngramé, bertapa dalam keramaian, “mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana”—aku kutipkan sebaris-dua dari sebuah sajak si guru.

Ia membuka lahan bernama ruang puisi di Pelopor Yogya dan Bali Post, dan bakat-bakat alam berdatangan ke sana oleh kesabarannya mendampingi mereka. Seperti guru-guru Zen atau Tao, ia tidak memberikan wacana: ia melibatkan mereka ke dalam laku berpuisi. Mereka yang bergaul rapat dengan ia mendapatkan energi yang terbaik: ia mengamati pengirim naskah satu demi satu, dan menyapa mereka langsung dengan berbagai cara, misalnya mengetuk pintu rumah atau tempat kos mereka, menelepon mereka, mengajak ngobrol, bila waktunya tiba. Tidak sering ia menyurung dan menemani mereka menemukan obyek-obyek puitis, dan berkata, kurang-lebih, “Temukan bahasa yang terbaik untuk mengucapkan itu kembali.” Sebaris-dua dari puisinya “dengan mata pena kugali-gali seluruh diriku; dengan helai-helai kertas kututup nganga luka-lukaku” berlaku juga bagi mereka yang ikut dalam “perguruan”-nya: menulis puisi ialah menggali potensi diri yang tersembunyi, menerbitkan puisi ialah terlibat membicarakan patologi sosial.

Itulah sebabnya sajak-sajak dari “taman siswa puisi” itu ialah semacam puisi pengakuan (bukan dalam arti confessional poetry di kancah persajakan Amerika Serikat), yang tidak bisa lain daripada berbentuk puisi lirik. Tetapi itu bisa juga puisi komentar sosial, yang masih lirik juga, tetapi bukan puisi protes atau puisi pamflet. (Di Persada Studi Klub, di kalangan para penyair kelas Sabana, tidak sedikit yang menulis tentang gelandangan dan residu kehidupan kota.) Di situ seorang penyair memalihkan dirinya menjadi si aku dalam sajak, yang memperdengarkan suara lirihnya di hadapan bising dan polusi di sekitar.

Sajak-sajak terbaik para penyair Pelopor Yogya dan Bali Post meneruskan tradisi nyanyi sunyi, tradisi yang dimulai oleh Amir Hamzah, diperkokoh oleh Chairil Anwar, dan diteruskan oleh Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad. Namun sajak-sajak dari “taman siswa puisi” tersebut tidak pernah berkembang menjadi puisi murni sebagaimana diperlihatkan oleh, misalnya, sajak-sajak Sapardi dan Goenawan, di mana percobaan bentuk bisa jadi radikal. Sementara itu pula, ia, sang guru para penyair, tampaknya menanamkan semacam “moral penulisan” bahwa puisi harus meninggi di atas—setidaknya mengambil jarak terhadap—bahasa sehari-hari (itulah sebabnya para penyair itu tidak menulis puisi protes atau puisi mbeling). Puisi tetaplah bahasa yang lain selain-lainnya supaya ia tidak membudak kepada kekuasaan yang memperalat komunikasi massa. Tapi bukanlah maksudku di sini menulis kritik sastra.

Demikianlah “aliran kepenyairan” yang dirawat oleh sang guru, sebagaimana ditulis oleh Sugi Lanus di kemudian hari (yakni di bulan Februari lalu), aliran yang membuat para murid “seakan-akan tidak punya ambisi lain dalam hidup mereka” kecuali “hanya berjuang menulis puisi yang punya daya haru”. (Sungguh, daya haru itulah pendorong kreativitas yang penting, jika bukan yang terpenting, dalam “aliran kepenyairan” teranut, sebagaimana kita dengar dari sejumlah eksponennya. “Apakah anda tidak merasa terharu menyaksikan ibu-ibu pulang dari belanja ke pasar?” begitu kalimat pertama Iman Budhi Santosa dalam pengantar buku puisinya sendiri, Dunia Semata Wayang, 1996.)

Sugi, yang banyak bergaul dengan para murid itu di pertengahan 1990-an di Bali, khususnya di lingkungan Fakultas Sastra Universitas Udayana dan Sanggar Minum Kopi, tentu membuat frasa “aliran kepenyairan” dari “aliran kepercayaan”. Pada hematku, aliran kepenyairan di “taman siswa puisi” ialah menjalankan semacam iman yang lekat ke tanah, menukik ke bawah tanah, bagaikan aliran kepercayaan yang membuncah diam-diam di bawah tekanan agama-agama resmi yang telanjur melembaga dan terserap oleh kekuasaan.

Demikianlah, aliran kepenyairan yang dijalarkan oleh sang guru ialah jawaban terhadap persekolahan kita yang mengabaikan pelbagai bakat alam manusia Indonesia, persekolahan yang sudah “berhasil” menggerus Taman Siswa dan aneka pendidikan alternatif. Dahulu kala, di tahun-tahun perkuliahanku di Bandung, aku dan kawan-kawanku (yang kiri-mengiri) mengagumi konsep deschooling Ivan Illich, namun pada akhirnya aku berpendapat bahwa konsep tersebut mudah “dikaryakan” oleh kaum heroik untuk menjalankan proyek-proyek yang sekadar populis belaka.

Waktu itu kami masih muda dan agak bodoh; kami tidak mampu melihat amalan deschooling yang justru sangat bersifat Nusantara (mohon perhatian bahwa kami tidak memasukkan pesantren dan pendidikan keagamaan, yang buat kami adalah bagian dari kemapanan belaka). Itulah deschooling yang dikerjakan oleh sang guru dengan “taman siswa puisi”-nya; sementara di bidang-bidang lain, itulah juga yang diperbuat oleh, misalnya, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya di Yogyakarta dan Gedong Bagus Oka di Bali.

Seringkali bertanya aku apakah ia, guru para penyair itu, telah berkorban untuk merawat “taman siswa puisi”-nya sejak ia mendirikan Persada Studi Klub di Yogyakarta di tahun 1969 hingga (dengan jeda sepanjang 1976-1978) akhir hayatnya di Bali pada 6 April hari ini. Aku jawab tidak. Orang yang berkorban—merasa diri berkorban—akan sangat menderita dan, pada akhirnya, sangat berpamrih akan penghargaan. Sedangkan ia sangat riang dan mengalir; ia bisa masuk ke lingkungan mana saja dengan luwes, meski kemampuannya untuk menjauhi pusat perhatian sangat luar biasa. Ia sangat menghayati kehidupan kini dan di sini ketika semua orang di bumi mementing-mentingkan kehidupan nanti nun di sana di seberang maut. Ia tidak menggurukan dan mempenyairkan dirinya; ia mengabaikan sama sekali kekaguman orang terhadapnya, termasuk penghargaan seni yang diberikan kepadanya.

Ia berakar dalam-dalam di habitat yang dipilihnya, dua “daerah istimewa” di Indonesia dengan beban warisan budaya yang sangat berat, Yogyakarta dan Bali. Tapi ia memberi kita Bali dan Yogyakarta yang lain selain-lainnya, yang tidak bisa diberikan oleh siapa juga dan lembaga apa juga.

Ia menempuh jalan asketik sebagaimana Diogenes, Ki Ageng Suryomentaram dan Bunda Teresa. Namun, ia mengerjakan apa yang tidak dikerjakan oleh tokoh-tokoh itu: ia menjangkau moderasi sesungguhnya, menjangkau titik tengah sepenuhnya, urip sak madyané, titik yang aku katakan sebagai moderasi radikal (aku majukan oksimoron ini untuk merebut kata “radikal” dari segala bentuk kekerasan dan terorisme), moderasi yang tidak berniat mencatatkan diri sendiri dalam sejarah, moderasi yang tidak mengenal teologi dan teleologi.

Ia, Umbu Landu Paranggi, yang tidak pernah menyebut dirinya guru, adalah nama yang lancar melenyapkan diri di hadapan kebudayaan kontemporer kita yang begitu memuja nama-nama dan penjenamaan.

Jakarta, 6 April 2021  —Nirwan Dewanto

umbu-landu-paranggi
Umbu Landu Paranggi. (Arsip Wayan Jengki Sunarta)

Postscriptum —Mengatakan “perguruan Umbu” sebagai “tiada duanya di bumi manusia kita” memang agak terdengar bermasalah. Sesungguhnya sejak awal aku menekankan bahwa di situ berlangsung hubungan guru-murid yang begitu istimewa, “yang demikian” (jangan abaikan frasa ini), yang membuat si “taman siswa puisi” tak terbandingkan. Tentu saja kita bisa menunjuk aneka “perguruan sastra” yang lain di tanah air, yang jumlahnya tak sedikit pula. Lingkungan pergaulan sastra yang kulakoni dahulu di Banyuwangi (yang sudah kusebut dalam tulisanku), misalnya, adalah juga sejenis “perguruan”, katakan saja “perguruan Hasnan Singodimayan”, untuk menunjuk nama seorang tokoh senior di dalam kesastraan dan kesenian di kabupaten kami, yang kami anggap sebagai mentor. Di daerah-daerah lain, sungguh hal yang serupa berlaku, hingga sekarang.

Melimpahnya bakat alam dalam kesenian “tradisi” maupun kesenian “modern”, serta kultur lisan yang menyertainya, sudah dengan sendirinya, hampir secara alamiah, mendorong adanya berbagai “perguruan” demikian. Di Indonesia, kesenian sebagai pelaksanaan minat dan bakat seseorang, tetaplah tergolong ke dalam “sektor informal” (aku membenci pelajaran Bahasa Indonesia di SMP, dan aku bergabung ke dalam kelompok pegandrung puisi, “perguruan Hasnan” itulah). Situasi ini berlangsung hingga sekarang di berbagai daerah di Indonesia, dan seringkali si guru hanyalah ia yang berusia sedikit lebih tua daripada murid-murid yang sesungguhnya ialah teman-temannya sendiri belaka.

Di kancah sastra nasional kita di masa kemarin, kita bisa menemukan “perguruan H.B. Jassin” (lingkaran para pengarang majalah Kisah), “perguruan Rivai Apin” (lingkaran para penyair muda Lembaga Kebudayaan Rakyat), “perguruan Saini K.M.” (lingkaran para penyair Jawa Barat yang termuat di ruang puisi Pikiran Rakyat), “perguruan Umar Kayam” (lingkaran para sastrawan-seniman Yogyakarta), dan sebagainya. Jadi, sudah jelas bahwa “perguruan Umbu” bukan satu-satunya “perguruan sastra” di Indonesia, apalagi yang pertama. Namun, hubungan guru-murid di berbagai “perguruan” itu, dibandingkan dengan apa yang terjadi di “perguruan Umbu”, sungguh “tidak ada apa-apanya”.

Jika “perguruan Umbu” memang tiada duanya, sesungguhnya aku sedang mengatakan bahwa si guru selalu sanggup mulai dari nol: semua orang, semua benih, bisa singgah di taman puisinya dan ia, si tukang kebun, akan memperhatikan pertumbuhan benih-benih itu dengan saksama, satu demi satu; bahwa ia mendampingi murid-muridnya secara “mempribadi”, menyeberangi berbagai situasi genting, hingga mereka mencapai derajat sebagai “penyair Indonesia”; bahwa ia menghubungkan secara langsung kiprahnya “menggembleng di lapangan” (ia bisa mencari bakat ke pelosok-pelosok Bali, misalnya) dengan kerja keredaksiannya di ruang puisi di Bali Post edisi Minggu (di mana, pada tahun-tahun pertama, ia berbagi tugas dengan Tjok Raka Pemajun); bahwa ia sudah merawat “perguruan”-nya, di Yogyakarta dan Bali, selama setengah abad, dengan pasang naik dan pasang turunnya juga (di Bali Post, masa terbaik kiprahnya ialah pada sembilan tahun pertama, paling tidak demikianlah menurut pengakuannya sendiri).

Di masa Persada Studi Klub, “perguruan Umbu” sudah merangsang tumbuhnya aneka “perguruan” lain yang sejenis di berbagai kota, berbagai sumber yang berkirim puisi ke Pelopor Yogya. Di Bali, setidaknya ada tiga “perguruan” lain yang berkongsi cita-cita dengan “perguruan Umbu”, yaitu “perguruan Frans Nadjira”, “perguruan Gm. Sukawidana” dan “perguruan Sanggar Minum Kopi”: para penyair di kancah-kancah latihan itu memuarakan sajak-sajak mereka di ruang puisi Bali Post edisi Minggu.

Telah kukatakan bahwa Umbu mengikuti jalan para guru yang sudah ada sebelumnya maupun pada masanya—Taman Siswa, sanggar-sanggar seni lukis, bengkel-bengkel seni pertunjukan, dan boleh jadi aneka padepokan kebatinan—dan meramu itu semua dengan sangat baik, menggerakkanya dengan tepat pada lingkup sosial-budaya di zaman Orde Baru dan Orde Reformasi. Jangan lupa pula bahwa ia terilhami oleh pengalamannya sendiri dalam menerbitkan puisi di Mimbar Indonesia, mula-mula di rubrik remaja dan kemudian di rubrik budaya: maka, penjenjangan seperti itulah yang ia perkembangkan di Pelopor Yogya dan Bali Post.

Bila aku mengatakan bahwa “perguruan Umbu” begitu spesial, “tak mungkin diperpanjang atau digandakan oleh sosok lain, atau ditanam di wilayah lain dengan cara apa juga”, tidaklah berarti bahwa aku menganjurkan pelestarian atau pelanjutannya. “Perguruan Umbu” ialah betapa khas miliknya, anak kandung spiritualnya, sesuatu yang—setelah ber-holopis kuntul baris menjembatani pergaulan lisan dengan budaya tulisan, situasi kedaerahan dengan situasi mutakhir sastra Indonesia—semestinya sudah menjadi sejarah. Adapun di masa informatika dan perubahan iklim sekarang, kinerja “perguruan sastra” seyogyanya menjadi lain selain-lainnya.

Dan aku ingin mengatakan sekali lagi bahwa adanya “taman siswa puisi” tersebut tidaklah terutama untuk mencetak para penyair, tetapi untuk memberikan tualang masa muda-remaja bermutu tinggi, untuk memberi peluang jadi-menjadi manusia mandiri yang bisa berkarya di bidang-bidang lain. Aku menduga bahwa tidak sedikit para penyair “perguruan Umbu” yang akan menyangkal pendapatku, mereka yang sangat percaya akan jalan kepenyairan. Tapi, baiklah, mari kita bentangkan statistika. Berapa banyak yang bertahan menulis puisi hingga akhir hayat (dan tentu juga hadir dengan kukuh di medan sastra Indonesia) di antara 1500-an nama yang terlibat di Persada Studi Klub? Hanya Linus Suryadi AG dan Iman Budhi Santosa.

Bila pada bunga rampai Blengbong yang baru saja terbit itu terdapat 58 penyair Pos Budaya Bali Post (tentu, mereka adalah “sari” ratusan nama yang pernah tersangkut di ruang puisi pada harian itu), berapa banyak yang sungguh-sungguh masih menulis dan berapa banyak lagi yang sekadar mengenang bahwa mereka pernah sampai di anak tangga tertinggi “perguruan Umbu”? Baiklah, tapi kenapa pula harus menyair—mempenyairkan diri—seumur hidup? Bukankah Chairil Anwar selesai di usia 27 dan Arthur Rimbaud di umur 19? Bukankah tak sedikit pula “penyair tahun kabisat”, mereka yang berjeda bertahun-tahun sebelum muncul kembali dengan puisi yang cemerlang?

Di titik ini ada dua soal yang harus segera kukemukakan. Soal pertama ialah, jika murid-murid Umbu, seperti ia sendiri, menempuh jalan “puisi sebagai kehidupan” atau “kehidupan ialah puisi”, menjadikan diri sebagai “gelandangan” di tengah mayoritas “orang baik-baik”, maka kita bisa menyadari potensi sebuah “sekte kepenyairan” (untuk mengikuti “aliran kepenyairan” ajuan Sugi Lanus) untuk melancarkan sejenis counterculture terhadap arus utama masyarakat kita yang memuja pertumbuhan ekonomi, kelimpahan material, dan kehidupan akhirat. Masalahnya, counterculture di mana pun, setipis atau setebal apa pun, terutama di pertengahan abad ke-20 hingga kini, khususnya lagi bila datang dari ranah kesenian, sudah terbukti membawakan bukan hanya gaya hidup, tetapi juga pemikiran dan “ideologi”. Sedangkan dalam “sekte kepenyairan” termaksud, kita baru menyaksikan kehadiran para penyair; belum terlihat, atau hanya sangat samar-samar terlihat, adanya kritikus, esais, intelektual, dan sejenisnya.

(Aku sendiri bisa ikut membenamkan diriku ke dalam “sekte kepenyairan” yang mana juga, pun bisa setiap kali memandang itu dengan berjarak, sebab aku percaya akan prinsip bahwa menulis puisi ialah lelaku escape from personality, sebagaimana dikatakan T.S. Eliot dan para pengamal anti-puisi. Namun, ada juga semacam rasa gembira atau takjub dalam diriku ketika melihat begitu banyak bakat alam di tanah airku dalam bidang sastra. Betapa tidak. Banyak sekali benih baru yang mendatangi aneka “perguruan puisi”, dan rupa-rupanya itu disebabkan, antara lain, oleh “gaya hidup” yang dipancarkan para penyair edan-jahanam itu. Adapun kehidupan para penyair itu sendiri ialah semacam fiksi yang “enak dibaca dan perlu” juga, sebagaimana kisah para penyair muda di Meksiko dan Amerika Selatan yang dipaparkan oleh Roberto Bolaño dalam The Savage Detectives dan aneka novel penyertanya.)

Soal kedua adalah, jika penulisan sastra (creative writing, dalam bahasa Inggris) tetap saja merupakan “sektor informal” sepenuhnya (berbeda dengan bidang-bidang seni yang lain, yang sudah punya akademi), maka seyogyanya para suhu sastra, seraya mempertahankan sifat “taman siswa sastra”, menjabarkan keperajinan-ketukangan sastra segamblang-gamblangnya dan menjebloskan murid-muridnya lebih dalam ke pustaka sastra sedunia. Lelaku begini adalah lawan untuk “perguruan puisi” yang terutama bersandar kepada aura si guru, kepada caranya yang tak terjelaskan dalam “iuran” membentuk sidik jari seorang penyair. (Murid-murid Umbu mengetahui apa yang baik dan yang benar terutama melalui penilaiannya yang “esoterik”, juga segala apa yang dimuatnya pada rubrik puisinya.) Intinya, modus “perguruan sastra” yang baru mestilah membenturkan bakat alam dengan intelektualisme (di sini kupinjam itu frasa dari Subagio Sastrowardoyo). Sudah ada sejumlah contoh rintisan menuju modus tersebut, namun baiklah bila perihal ini kita bicarakan dalam kesempatan lain saja.

Tentang “puisi pengakuan” yang menjadi arus utama di “perguruan Umbu”, aku harus mengatakan bahwa sesungguhnyalah ada perbedaan antara masa Pelopor Yogya dan masa Bali Post. Para penyair Persada Studi Klub, termasuk Umbu sendiri, betul-betul mengikuti faset terakhir nyanyi sunyi, yang memang sangat fashionable pada waktu itu (sebutlah, terutama, Duka-Mu Abadi Sapardi Djoko Damono, Pariksit Goenawan Mohamad, Laut Belum Pasang Abdul Hadi W.M.). Umbu kemudian, aku kira, menyadari bahwa murid-muridnya di Yogya terlalu terserap ke dalam model nyanyi sunyi tersebut. (Kita lihat juga bahwa pada akhirnya Linus Suryadi AG mengakhiri tahap nyanyi sunyinya dengan Pengakuan Pariyem, dan Iman Budhi Santosa dengan sajak-sajak “Jawanisme”.)

Penyair-penyair Bali Post masih menulis “puisi pengakuan” atau “puisi daya haru” (jika aku boleh meminjam dari Sugi Lanus) dan masih mengemban nyanyi sunyi juga, tetapi sajak-sajak mereka lebih naratif (atau setengah naratif, atau mengandung bayang-bayang narasi, namun pastilah bukan balada) dan sangat cenderung kepada puisi bebas; sangat jarang kita jumpai bentuk berdisiplin seperti kuatrin, misalnya (maka inilah pula perbedaannya dengan sajak-sajak Persada Studi Klub). Pada sajak-sajak mereka yang terbaik, ornamentasi dan pelanturan sangat kuat; tidak jarang si aku bahkan tenggelam ke dalam tumpukan ulir dan sulur, dan lantang menyeru untuk membebaskan diri daripadanya, untuk kembali ke pokok perenungannya semula. Inilah semacam “surrealisme pribumi” (yang tidak berhubungan dengan surrealisme Prancis, yang menyerang rasionalisme dan cenderung kepada puisi murni), “surrealisme” yang sangat folklorik (mari kita bandingkan: dalam seni lukis kita, ada juga aneka “surrealisme pribumi” yang berlaku sejak Pita Maha hingga Soedibio dan Kartono Yudhokusumo hingga “surrealisme Yogya”).

Dari “perguruan Umbu” di Bali, puisi pendek (di mana momen puitik membebaskan diri sepenuhnya dari narasi untuk menjadi lukisan) pun puisi murni (di mana kata-kata bukan lagi alat pembawa pesan namun organisme tersendiri) sangat jarang kita temukan. Sebab si penyair, demi pengakuannya yang “sejati”, mesti hanyut lebih dulu ke dalam arus “upacara kehidupan” di sekitar yang telanjur diperindah oleh ornamentasi yang tiada batasnya, menyelam ke kedalaman daya haru, sebelum ia membangkitkan lagi “kekayaan” dan “keluasan” itu dalam karyanya, dengan segenap kepribadiannya, dengan segenap keakuan-kepenyairannya.

—Jakarta, 28 Mei 2021

nirwan-dewanto

NIRWAN DEWANTO adalah penyair, esais & kurator. Buku-bukunya adalah, antara lain, Buli-Buli Lima Kaki (puisi), Museum of Pure Desire (puisi dalam terjemahan Inggris), Buku Jingga (prosa), dan Kaki Kata (esai).

One thought on “GURU SELAIN-LAINNYA | esai NIRWAN DEWANTO

  • 29 Mei 2021 pada 23:58
    Permalink

    Esei Pak Nirwan Dewanto ini cukup menarik dan perlu, sebagai pemantik diskusi. O ya, Korrie Layun Rampan jg pernah di Persada Studi Klub (PSK) juga. Sosok penting juga tuh Korrie selain Emha n Linus.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *