GEDE TARMADA: Merawat Dongeng, Menyusui Literasi

Berbicara tentang literasi dan cara membangunnya di Indonesia terasa melelahkan bagi Gede Tarmada. Menurutnya, sekarang bukan saatnya mengeluh, tetapi harus melakukan aksi yang tepat supaya literasi tidak sekadar jadi wacana.

“Literasi sesungguhnya sudah harus dibiasakan diajarkan di sekolah rendah, kelas 1-3 SD,” ujar Gede Tarmada. Lahir di Denpasar, 8 September 1968, Gede Tarmada menikah dengan Ni Luh Putu Dwipayanti dan dikaruniai dua putra, Gede Tarmanda Aditya Pratama dan Made Tarayana Amada Putra.

Tumbuh bersama adik-adiknya di Teater Kukuruyuk yang diasuh ayahnya, Made Taro — pakar sekaligus tokoh permainan tradisional dan penulis dongeng mumpuni di Bali – Gede Tarmada memilih menjadi pendongeng profesional. Ia mengajak publik dan anak-anak mencintai literasi melalui dongeng.

MACA coba mengintip kegiatan dan pemikiran sang pendongeng.

Bagaimana rasanya menjadi anak Made Taro?

Saya merasa sangat bersyukur menjadi anak dari Made Taro. Anak dari seorang ayah yang jujur, rendah hati dan penuh dedikasi. Sebagai si sulung dalam keluarga, saya ditekankan untuk selalu menjadi contoh yang baik bagi adik-adik. (Gede Tarmada memiliki tiga adik, Made Tarmeda, Nyoman Tardama, dan Ketut Tarmadi.)

Apa pengalaman masa kecilmu yang tidak terlupakan?

Semua anak Made Taro “wajib” terlibat di Teater Kukuruyuk (sekarang Sanggar Kukuruyuk). Dan kebetulan juga semuanya tertarik agar bisa ikut maplalianan (bermain) dengan teman-teman lain di sanggar.

Ada sesuatu yang tak terlupakan bagi anak-anak Made Taro, yaitu kalau ada yang bolos latihan – mungkin karena terlalu asyik bermain hingga lupa waktu – sepulang dari melatih sanggar di Museum Bali, Ayah pasti akan menghukum kami dengan hukuman makaplak (dipukul) beberapa kali di paha. Itu konsekuensi seorang anak yang tidak disiplin.

Bagaimana keadaan Sanggar Kukuruyuk sekarang?

Astungkara, hingga saat ini Sanggar Kukuruyuk masih tetap bertahan. Bahkan sekarang sudah ada lima kelompok/cabang di lima sekolah. Saya sendiri melatih di empat cabang.

Bagaimana sosok Made Taro di matamu?

Made Taro adalah sosok pejuang sejati yang tekun, berdedikasi tinggi, dan sangat mencintai pekerjaannya dalam melestarikan permainan dan lagu rakyat serta tradisi lisan Bali.

Ia juga sosok ayah yang penyayang, sabar, jujur, disiplin dan bijaksana.

Apakah Made Taro memberi pengaruh pada peranmu sendiri sebagai ayah?

Tentu saja. Sikap jujur, sederhana, rendah hati, disiplin, adalah sikap positif dari Made Taro yang saya coba tekankan pada anak-anak. Selain itu, memperlakukan anak-anak sebagai teman dalam berdialog dan berdiskusi, serta memberi mereka kebebasan dalam berpikir, berpendapat serta menentukan pilihan sendiri adalah beberapa hal yang saya dapatkan di masa lalu yang juga saya coba berikan kepada anak-anak saya.

Bagaimana ceritanya kamu bisa jatuh cinta pada dongeng?

Sebetulnya saya mulai mendongeng justru setelah saya punya anak. Tepatnya pada tahun 2004, ketika anak sulung saya berumur lima tahun. Waktu itu, saya seolah terpanggil untuk mendongeng untuknya, sebab dulu saya juga mendapatkan hal yang sama ketika seumuran dengannya. Seperti saling balas-membalas.

Sejak saat itu, saya mulai mencintai dongeng, rajin membaca buku-buku dongeng untuk mendapatkan dongeng-dongeng baru. Saya juga mulai giat belajar mendongeng, dan Made Taro adalah mentor saya yang pertama. Pada tahun 2013, saya mulai menjadi pendongeng profesional dan sering bertandem dengan Made Taro hingga saat ini.

Apa sesungguhnya kekuatan dongeng untuk anak-anak?

Sejak zaman dahulu kala hingga saat ini, dongeng menjadi salah satu media efektif dalam menyampaikan pesan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Apalagi bagi anak-anak, dongeng itu bagaikan kekuatan sihir yang mampu merasuki jiwa anak-anak.

Seperti kita ketahui, anak-anak itu kaya imajinasi. Karena itu, dongeng-dongeng yang penuh imajinasi akan sangat menarik bagi anak-anak – apakah itu dongeng-dongeng tentang hewan-hewan (fabel), tentang peri-peri dsb. Bagi anak-anak, cerita seekor kucing pandai bermain gitar lebih menarik daripada cerita seekor kucing jago menangkap tikus. Dari dongeng-dongeng yang menarik itulah kita bisa menyelipkan pesan-pesan yang kita inginkan.

Bagaimana perhatian pemerintah untuk “penguatan” dongeng-dongeng yang mengandung muatan lokal agar bisa sampai ke dunia pendidikan kita, terutama di Bali?

Menurut saya, dukungan pemerintah sudah ada, tapi belum optimal. Mungkin masih ada pihak-pihak tertentu yang masih menganggap dongeng itu sebagai sesuatu yang tak penting, khususnya di dunia pendidikan. Mereka itu masih menganggap dongeng itu hanya untuk mengajarkan anak-anak berkhayal dan bermimpi.

Sedihnya, mereka justru menjejali anak-anak dengan mata pelajaran tertentu yang hanya mengeksploitasi otak kiri anak-anak saja. Padahal seharusnya yang dibutuhkan adalah keseimbangan penggunaan kedua sisi otak. Mendengarkan dongeng adalah salah satu aktivitas yang menyeimbangkan pemakaian kedua sisi otak itu.

Bukan bermaksud membanding-bandingkan, di negara maju seperti Australia, Amerika, dan beberapa negara Eropa lainnya, para siswa diwajibkan mendengarkan dongeng pada jam-jam tertentu di perpustakaan. Di sana, pegawai atau guru perpustakaan rata-rata pintar mendongeng. Itu sangat berbeda dengan kondisi kita di Indonesia, khususnya di Bali.

Bagaimana kemampuan guru dalam mendongeng?

Mengenai kemampuan guru mendongeng, saya masih ingat ketika masih duduk di sekolah dasar dulu. Saya selalu mendapat cerita sejarah atau dongeng dari guru saya sebelum atau sesudah pelajaran. Guru-guru pada masa itu rata-rata pandai bercerita. Entahlah sekarang, saya tidak tahu apakah juga sama seperti dulu.

Idealnya, seorang guru mestinya juga punya kemampuan mendongeng untuk sekedar bisa me-refresh otak anak-anak didiknya yang sudah lelah dijejali pelajaran, walau hanya mendongeng beberapa menit saja. Pada sisi ini, pemerintah seharusnya hadir untuk bisa merangsang dan membangkitkan minat dan bakat guru mendongeng.

Lomba Masatua Bali untuk tingkat siswa memang sudah sering dilaksanakan pemerintah dalam upaya pelestarian tradisi masatua (bercerita/mendongeng) dan bahasa Bali. Namun hal itu perlu ditingkatkan lagi pelaksanaannya. Apalagi kita ingin mencetak banyak tukang-tukang satua atau pendongeng andal di masa depan.

Ada saran untuk meningkatkan kecintaan pada dongeng?

Saat ini kita mungkin sudah merasa kehilangan satu atau dua generasi tukang satua atau pendongeng setelah generasi kakek-nenek dan ayah-ibu kita. Oleh sebab itu, dipandang perlu adanya upaya-upaya pengembangan dan peningkatan kembali budaya mendongeng untuk orang dewasa atau orang tua. Sebab, yang sangat membutuhkan dongeng itu anak-anak, dan yang mendongeng itu sebaiknya orang tua mereka sendiri.

Upaya-upaya ini bisa dilakukan, baik dari pihak pemerintah dengan lembaga-lembaga formalnya maupun pihak masyarakat/swasta. Misalnya, ada program menggalakkan lomba mendongeng dan menulis dongeng tingkat guru; lomba mendongeng bapak-ibu tingkat banjar; lomba mendongeng karyawan di instansi perusahaan dll. Selanjutnya, jika kita ingin pendongeng-pendongeng itu bisa “go international”, lomba mendongeng dengan bahasa Inggris menjadi sesuatu yang perlu ditingkatkan.

Ada gambaran tentang kegiatan mendongeng di negeri lain?

Di negara-negara maju di luar negeri, kegiatan mendongeng (storytelling) menjadi aktivitas penting yang mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat dan pemerintah setempat dalam rangka character building suatu bangsa. Banyak pendongeng (storyteller) dibutuhkan untuk mendongeng di mana-mana, dan mereka pun dihargai cukup tinggi. Mereka bukan saja diminta mendongeng di sekolah-sekolah dan universitas-universitas, tetapi juga di instansi-instansi pemerintah, bahkan di perusahaan-perusahaan swasta dalam rangka peningkatan produktivitas kerja para karyawannya. Pendongeng adalah profesi yang dihargai dan dihormati.

Punya pengalaman pribadi yang bisa dibagi?

Dari pengalaman saya mendongeng bersama ayah di beberapa festival mendongeng internasional di luar negeri, saya merasa kita masih sangat jauh tertinggal, khususnya di Bali. Festival dongeng di sana benar-benar diorganisir secara profesional, bahkan ada yang didukung oleh beberapa universitas. Sebab, di sana, dongeng itu bukan saja sebagai buah karya lisan manusia yang mentradisi yang dinikmati oleh khalayak umum, tetapi juga menjadi objek kajian dari multidisiplin ilmu.

Hebatnya lagi, masyarakat di sana rela antri beli tiket untuk menonton pertunjukan dongeng dari berbagai negara itu. Itulah salah satu bukti bahwa masyarakat di sana sangat apresiatif terhadap dongeng.

Saya berharap dan punya mimpi, mungkinkah suatu saat nanti di Bali akan ada sebuah festival dongeng internasional yang bergengsi yang dihadiri pendongeng-pendongeng ternama dunia? Mungkin saja, jika ada dukungan dari berbagai pihak.

Punya pengalaman khusus dalam mendongeng untuk anak?

Menurut pengalaman, semakin tua umur pendengar dongeng itu, semakin mudah bagi saya untuk menceritakan dan mengelaborasi dongeng itu. Tapi tidak bagi anak-anak kelompok umur balita (TK/PAUD). Di kelompok ini, saya pernah beberapa kali gagal karena anak balita itu sulit dikendalikan dan cepat bosan. Pengalaman buruk itu menjadi pelajaran berharga bagi saya untuk terus belajar dan mengevaluasi diri. Selanjutnya, ketika saya mendongeng di kelompok ini lagi, saya pun akhirnya mentransformasikan diri saya menjadi anak balita yang suka menyanyi dan bermain bersama sambil bercerita dengan narasi singkat, mudah dan sederhana.

Apa kiat-kiat agar anak-anak tahan mendengarkan dongeng?

Terlepas dari perlunya teknik dan keterampilan yang baik dalam mendongeng, ada beberapa tips untuk membuat anak-anak betah mendengarkan dongeng, yaitu: Sebelum mulai bercerita, mainkan sesuatu yang menarik/unik (alat musik, boneka, mainan, dll.) yang menarik perhatian anak-anak.

Ajak anak-anak mendengarkan dongeng dengan saksama dengan memberi rangsangan berupa hadiah tertentu bagi anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut isi cerita dongeng tersebut nantinya.

Buatlah narasi atau alur cerita yang membuat pendengar penasaran dengan kelanjutan cerita dongeng tersebut.

Libatkan anak-anak dalam tokoh atau adegan tertentu dalam cerita, seperti: menjadi pohon, menjadi ombak, menjadi harimau dll.; ajak anak-anak menyanyi, menari, berteriak bersama, dsb.

Durasi mendongeng sebaiknya tidak terlalu panjang. Menurut pengalaman, biasanya antara 10-20 menit. Jika terlalu lama, anak-anak dikhawatirkan bisa bosan, walaupun cerita dongeng belum berakhir. Tetapi ini tidak mutlak, sebab pendongeng yang pintar itu selalu bisa membuat dongengnya enak untuk didengarkan walaupun cukup lama.

Apa sesungguhnya yang ingin kamu sampaikan dengan mendongeng?

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, tradisi lisan mendongeng adalah salah satu media efektif dalam menyampaikan suatu pesan kepada pendengarnya. Pada umumnya, setiap dongeng mengandung pesan-pesan moral yang berkaitan dengan suatu kepercayaan, way of life, ataupun nilai-nilai sosial yang berlaku pada masyarakat tersebut. Seperti di Bali, misalnya, dongeng “Men Sugih lan Men Tiwas”  adalah sebuah contoh dongeng yang mengajarkan nilai-nilai bahwa sikap sombong, arogan, dan serakah pasti akan berakibat buruk atau terkena hukum karmapala pada pelakunya. Dalam mendongeng tentu saja saya akan memilih dongeng-dongeng yang sarat nilai, seperti: jujur, berani, disiplin, setia kawan, kerja keras, cinta kasih, toleransi, rendah hati, adil, dan lain-lain.

Alat apa saja yang biasanya kamu gunakan untuk mendongeng?

Setiap pendongeng memiliki ciri khas masing-masing. Sebagai orang Bali, kami mencoba mengangkat alat musik etnik Bali sebagai ciri khas, seperti cungklik, kendang/ketipung, dan suling, sebagai alat bantu mengiringi kami mendongeng. Terkadang kami juga memakai alat bunyi-bunyian mainan tradisional lainnya yang bersuara seperti kodok, burung, jangkrik dll. bila diperlukan untuk menceritakan dongeng tertentu. Semua alat ini sangat membantu, bukan saja untuk menciptakan suasana tertentu, tetapi juga untuk menarik perhatian para penonton.

Sebagai pendongeng, kamu juga berkolaborasi dengan ayah sendiri. Bagaimana rasanya?

Pada awalnya, saya merasa kesulitan ketika berkolaborasi dengan Ayah. Mungkin karena perasaan rendah diri ataupun segan terhadap mentor sekaligus ayah saya sendiri. Namun seiring dengan perjalanan waktu, perasaan itu hilang dengan sendirinya. Bahkan akhirnya kami merasa sudah saling mengisi, saling menguatkan dan menyatu satu sama lain.

Terkadang, jika kami harus tampil terpisah, terasa ada sesuatu yang kurang dalam penampilan kami. Dongeng adalah “barang lama” yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Namun demikian, dongeng itu harus senantiasa disampaikan dengan cara-cara yang menarik dan up to date.

Bagaimana peran orang tua dalam melestarikan dongeng?

Secara konvensional, para orang tua mesti lebih rajin meluangkan waktunya untuk mendongeng di hadapan anak-anak, rajin meminjamkan atau membelikan buku-buku dongeng untuk anak-anak mereka, bahkan juga sekali-sekali mengajak anak-anak mereka menonton jika ada pertunjukan dongeng. Ingatlah selalu pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”. Jika kita tidak mengenalkan dongeng sejak dini kepada anak-anak kita, maka anak-anak kita itu tak akan mencintai dongeng.

Selain itu, secara psikologis, aktivitas mendongeng itu adalah sebuah bentuk interaksi jiwa antara ayah-ibu kepada anaknya. Bagi seorang anak, yang dinikmatinya itu bukan hanya imajinasi-imajinasi dari cerita itu, tetapi juga suara ayah-ibu yang dirasakan sangat indah oleh anak itu sendiri.

Bagaimana merawat dongeng di era kemajuan teknologi saat ini?

Berkaitan dengan perkembangan teknologi di masa modern sekarang ini, di mana seseorang bisa memperoleh sesuatu dengan mudah hanya dengan sekali klik saja, maka dongeng pun mestinya diperoleh anak-anak seperti itu juga. Karena itu, anak-anak kita juga perlu dibantu dan dibimbing untuk mendapatkan cerita-cerita dongeng melalui aplikasi-aplikasi tertentu ataupun melalui media-media sosial seperti Youtube, Instagram, Facebook, Podcast dll.

Kesimpulannya, dongeng akan tetap hidup selama peradaban manusia masih ada. Hanya bentuk-bentuk penampilannya saja yang berubah dari satu masa ke masa yang lain. Dan itu perlu inovasi yang cerdas. Tugas kita semua mendokumentasi dongeng-dongeng Indonesia melalui peralatan teknologi yang lebih canggih.

Apa harapanmu untuk dunia mendongeng di Bali?

Ada sesuatu yang menyenangkan saya akhir-akhir ini, yaitu mulai bermunculan pendongeng-pendongeng muda bertalenta. Mudah-mudahan ini menjadi pertanda baik bangkitnya budaya mendongeng di Bali. Mari bersama kita berikan apresiasi dan juga ikut merawat potensi-potensi pendongeng andal masa depan kita ini! Semoga akan segera tercipta tatanan masyarakat yang antusias dan apresiatif terhadap dongeng di Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.