GARY HADAMEON MENGUBAH KETERBATASAN MENJADI KEBEBASAN

Banyak orang bilang, seni adalah keindahan. Namun seni sesungguhnya bukan sekadar keindahan. Ia lebih dari itu. Dalam seni tak hanya ada keindahan, tetapi juga imajinasi. Dan imajinasi selalu mengibarkan bendera pembebasan. Pembebasan dari segala kungkungan, dari semua keterbatasan. Tak terkecuali keterbatasan fisik dan mental manusia. Seni, pada hakikatnya, ialah ia yang membebaskan.

Dengan kapasitasnya untuk membebaskan, seni tidak hanya lahir dari tangan seniman: kaum profesional yang secara sosial dan kultural diakui sebagai pencipta karya seni. Berkesenian bukan hanya hak istimewa kaum seniman. Jika kebebasan merupakan hak asasi manusia, dan kebebasan ada dalam seni, maka setiap manusia berhak berkesenian. Yang bukan seniman profesional pun berhak menciptakan karya seni.

Karya seni yang lahir dari bukan seniman profesional belum tentu tidak berharga. Sejarah seni rupa mencatat itu tebal-tebal. Dalam khazanah seni rupa dunia, kita mengenal apa yang disebut “Art Brut” (seni mentah; seni kasar) atau “Outsider Art” (seni kaum luaran). Itulah seni yang diciptakan oleh kaum bukan seniman, orang-orang yang berada di luar lingkaran kesenian yang mapan, termasuk mereka yang disisihkan atau dikucilkan oleh masyarakat.

Seniman besar Prancis, Jean Dubuffet (1901-1985), menciptakan istilah “art brut” dan memperjuangkan seni pinggiran ini hingga akhirnya diakui dunia. Tentang art brut, Dubuffet pernah berkata: “Karya yang tercipta dari kesendirian dan dorongan kreatif yang murni dan autentik – yang tidak terganggu kekhawatiran akan persaingan, pengakuan dan promosi sosial – lebih berharga daripada buatan kaum profesional.”

Dalam arti tertentu, karya lukis Gary Hadameon dapat digolongkan sebagai art brut. Seperti para kreator art brut di seluruh dunia, Gary belajar melukis sendiri. Bahkan dapat dikatakan, Gary belajar dari dirinya sendiri. Ia hampir tak mengenal teknik lukis maupun pengetahuan seni rupa sebagaimana yang dipelajari oleh seniman akademis dan banyak seniman autodidak. Bukan karena ia tak mau belajar. Dirundung problem kesehatan semenjak lahir, Gary tak mungkin menempuh jalur berkesenian yang lazim dan lempeng.

Gary adalah sulung dari dua bersaudara, putra pasangan Ferry dan Wulan. Sekitar tiga tahun yang lalu, pemuda berusia awal dua puluhan ini seperti menemukan panggilan jiwanya. Ia mulai melukis. Secara serius dan antusias. Tidak hanya aktif, tapi juga produktif. Bagai datang dari sungai bawah tanah yang sekian lama terkubur di kedalaman jiwanya, karya-karya lukis bercorak abstrak menyembur deras dari tangannya. Puluhan lukisan terbaru Gary mengisi ruang pameran tunggal Asta Rupa di Seminyak Village, Seminyak, Bali, 3 Oktober – 3 Desember. Tahun kemarin, Gary juga menggelar puluhan lukisannya yang lain dalam pameran tunggal di Yogyakarta.

Dalam melukis, Gary tampak tidak ingin mengejar keindahan, apalagi keindahan formal-komposisional. Besar kemungkinan, konsep tentang keindahan tidaklah bermakna baginya. Mungkin Gary bahkan tak peduli apakah lukisannya indah atau tidak. Ketimbang keindahan, kebebasanlah yang agaknya dicari Gary dengan melukis. Kebebasan dari keterbatasan dirinya. Kebebasan untuk mengungkapkan dirinya. Sepenuh-penuhnya. Sejujur-jujurnya.

Dengan melukis, imajinasi Gary terbebaskan. Gairah, impian, hasrat, kecemasan, ketakutan, asa dan doa – segala yang terpendam dalam dirinya – terungkapkan secara total. Demikianlah yang kita rasakan ketika menyaksikan lukisan-lukisan Gary. Ada kesan kuat lukisan-lukisan itu dikerjakan secara spontan, mengikuti dorongan intuisi yang bergerak menanggapi situasi di dalam maupun di luar dirinya.

Dalam kanvas-kanvas Gary, ada embusan tenaga yang meluap-luap bahkan meledak-ledak, namun tidak jarang pula kita tangkap irama ritmis dan suasana meditatif. Seni lukis Gary seperti mencari keseimbangan antara gejolak dan diam, keriuhan dan kesunyian. Lukisannya seperti mengisyaratkan jarak yang terbentang antara “dunia ramai” di luar diri dan “dunia sunyi” di dalam diri, dan upaya keras Gary untuk menjembatani dua dunia itu.     

Gary Hadameon

Karya Gary mengungkapkan dua dunia: dunia internal dan dunia eksternal. Namun ia tidak menggambarkan dua dunia itu, melainkan mengucapkannya, dalam bahasa rupa yang paling bebas, tak terkungkung aturan kebahasaan. Maka Gary menemukan kebebasan. Dan itulah kebebasan yang sekaligus menebus segala keterbatasan Gary. Dunia kreatif telah membebaskan Gary dari keterbatasan dirinya di dunia nyata.

Tak heran, Gary selalu merayakan dan begitu menikmati kebebasan yang ditemukannya dalam melukis. Ketika melukis, ia tidak pernah mau dicampuri oleh siapa pun. Hanya ia yang berkuasa menentukan tema, warna, metode lukis dan sebagainya. Secara mutlak. Tak seorang pun boleh ikut masuk, apalagi mengatur-atur.

Selagi lukisannya belum selesai, Gary takkan memberi tahu orang lain tentang apa yang dilukisnya. Ia hanya bergerak melukis, terus menimpakan cat pada kanvas, menjelajahi kebebasan yang diulurkan oleh dunia imajinasi kreatif, hingga pada suatu titik ketika ia merasa lukisannya sudah “sempurna”. Gary hanya akan mengakhiri proses melukisnya ketika dunia baru di kanvasnya sudah sepenuhnya diterima oleh jiwanya. Sudah sepenuhnya mengatakan apa yang ingin ia katakan. Tidak lebih dan tidak kurang. Setelah itu, barulah Gary akan berbagi dengan orang lain mengenai lukisannya.

Dalam konteks seni lukis, dapat dikatakan bahwa keterbatasan Gary sesungguhnya justru memungkinkan dirinya untuk merengkuh kebebasan sebesar-besarnya. Kebebasan Gary bahkan lebih besar daripada pelukis lain yang memiliki lebih banyak kelebihan dan keleluasaan dibanding dia. Lebih daripada orang yang belajar secara khusus untuk menjadi pelukis, di dalam atau pun di luar akademi, Gary bisa melukis dengan cara sebebas-bebasnya. Ia tidak dibebani teknik lukis. Tidak dihantui konsep estetika. Tidak disandera perhitungan artistik, pengetahuan dan sejarah seni. Keterbatasan tidak menghalangi, sebaliknya malah membebaskan Gary.

Gary melukis seturut kata hatinya, tanpa peduli apakah hasilnya memenuhi standar atau aturan main yang ditetapkan siapa pun. Di satu sisi, orang mungkin menyebutnya naif. Namun, dalam kasus Gary, kenaifan itu identik dengan kejujuran. Gary hanya bisa melukis secara jujur, secara apa adanya, tidak bisa secara lain. Dan kejujuran itulah yang memungkinkan Gary untuk bebas mengungkapkan apa saja dalam lukisan. Dengan kata lain, kejujuran mengantarkan Gary ke kebebasan. 

Bagi Gary, melukis adalah ruang dan waktu privat tempat ia menari dengan kebebasannya. Tempat ia bebas menciptakan dunia sebagaimana yang dikehendakinya. Melukis adalah momen pembebasan ketika Gary terbebas dari keterbatasan dan seakan dapat berkata lantang, seperti penyair William Ernest Henley (1849-1903) dalam puisi “Invictus”: “Akulah penguasa nasibku, akulah nakhoda jiwaku” (I am the master of my fate, I am the captain of my soul).

Di tengah segala tampilan megah dan wacana canggih seni rupa zaman sekarang, Gary dan karyanya mengingatkan kembali bahwa seni adalah daya yang membebaskan. Bahwa seni mestinya menjadi kekuatan yang mampu mengemansipasi dan mentransformasi kenyataan. Dan karena itu, seni tidak hanya berharga, tetapi juga bermakna.

Gary Hadameon bersama orang tuanya (nomor 1, 2, dan 3 dari kanan) di pembukaan pameran “Asta Rupa”

ARIF BAGUS PRASETYO

Penulis, penerjemah, dan kurator seni rupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *