FotografiSeni

FOTOGRAFI ANTIKORUPSI

Karya-karya fotografi ternyata bisa diproduksi untuk propaganda antikorupsi. Melalui karya foto, fotografer dapat mempengaruhi opini publik melalui aksi perlawanan budaya terhadap korupsi. Mereka menyebarkan gagasan dan nilai antikorupsi. Tujuannya tentu saja untuk membangkitkan, memasyarakatkan dan membudayakan sikap antikorupsi.

Pesan antikorupsi disuarakan secara beragam oleh sejumlah fotografer yang berbasis di Denpasar. Mereka adalah Ade Ahimsa, Ayu Sulistyowati, Ida Adi, Ismail Ilmi, Ngurah Satria Darmawangsa, Niki Kurniawan, Rai Astrawan, Rudi Waisnawa, Selamet Melda, Sira Arya Gana ‘Bobby’ dan S.R. Alwi. Cara yang dipilih untuk menyampaikan pesan antikorupsi terentang dari ungkapan yang relatif terang sampai yang terselubung, dari bahasa yang terasa lugas sampai yang sangat bersayap. Namun demikian, semua foto mereka tampak memainkan simbolisme dalam berbagai kadar.

Sebagian besar fotografer menampilkan karya fotografi dengan simbolisme yang relatif sederhana sehingga cukup mudah dipahami maknanya. Niki Kurniawan mengangkat isu megakorupsi mutakhir. Ngurah Darmawangsa dan Rai Astrawan menyoroti pemberitaan tentang korupsi. Ade Ahimsa menonjolkan teks. Sejumlah fotografer memainkan citra yang dekat dengan permasalahan korupsi, yaitu  lembaga antikorupsi (Rudi Waisnawa), uang (Ida Adi, Selamet Melda) dan nota pembayaran (Ayu Sulistyowati).

Meskipun cenderung komunikatif, bukan berarti karya mereka menawarkan makna  tunggal. Contohnya, ada sejumlah tafsir ironis yang dapat diberikan pada penggambaran Rudi tentang hubungan antara KPK, yang dilambangkan sebagai tameng antikorupsi, dan aparat negara. Terdapat lapisan makna lain dari aransemen uang yang mengingatkan pada bentuk alat kelamin dalam karya Ida. Tafsir politis bahkan bisa muncul dari asosiasi antara warna kuning dan koruptor dalam karya Ade.

foto_rudi_waisnawa
Karya Rudi Waisnawa

Di sisi lain, beberapa peserta memilih mengungkapkan ihwal korupsi dengan bahasa lambang yang pekat. Ismail Ilmi, S.R. Alwi dan Sira Arya Gana ‘Bobby’ menyediakan ruang tafsir yang lapang bagi pemirsa untuk memaknai karya mereka. Kebetulan, tiga fotografer ini sama-sama tampak mengedepankan unsur dramatis sebagai kekuatan foto mereka. Ilmi menciptakan adegan dramatis “penggantungan” dari benda-benda remeh. Teatrikalitas menyeruak dari akting dan topeng “pemain” dalam karya Bobby, dan akhirnya memuncak pada segenap unsur pemanggungan – aktor, properti, pencahayaan dsb. – dalam karya Alwi.  

Meskipun bermuatan propaganda, karya-karya fotografi ini menolak untuk bersuara vulgar. Sebagaimana yang diajarkan oleh iklan kontemporer, kevulgaran memang tidak menjamin efektivitas pesan yang dikomunikasikan. Foto-foto karya para fotografer ini menyodorkan sikap kritis terhadap korupsi, tapi tak ingin memaksakan dan memutlakkan kebenarannya sendiri dengan mematikan daya nalar. Sebab, nalar adalah kekuatan penting untuk melawan korupsi.

Karya fotografi antikorupsi ini dapat mengilhami pemirsa agar mendukung gerakan antikorupsi, atau setidaknya lebih peduli terhadap problem kronis korupsi, dan tidak menganggap korupsi sebagai “budaya” yang wajar.

*Gambar utama: Foto karya Niki Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *