EDO WULIA: Film, Budaya Bali, dan Generasi Milenial

Edo Wulia lahir di Semarang pada 1970. Dibesarkan dalam budaya Bali, Edo adalah seniman dengan latar belakang multidisiplin, termasuk seni grafis, desain visual, musik (perkusi), dan sound engineer, dengan pengalaman profesi lebih dari dua puluh tahun. Sekarang ia berprofesi sebagai guru musik.

Edo menjadi relawan di Minikino sejak akhir 2003. Sejak 2016, ia menjabat sebagai direktur festival. Gebrakannya membawa film masuk desa dengan tujuan membangun masyarakat, khususnya di Bali, untuk mencintai film.

Berikut ini wawancara dengan Edo.

Apa yang membuat kamu tertarik dengan film?

Karena gambarnya bisa bergerak.

Bagaimana ceritanya kamu bisa tertarik?

Sebagai generasi yang lahir era 70-an, saya mengalami masa kejayaan Denpasar Theater, Nirwana, Indra, Timur, Sahira, yang belakangan baru saya tahu itu singkatan dari Sarana Hiburan Rakyat. Terus ada Kumbasari, Gajah Mada Theater, Wisnu dan banyak lagi bioskop di luar kota Denpasar masa itu. Saya tahu di Sanur ada. Di Kuta juga malah ada lebih dari satu. Rasanya, hampir setiap pasar kabupaten punya bioskop. Belakangan saya juga dapat informasi, ada layar keliling juga masa itu.

Pengalaman saya nonton di bioskop mulai pada usia sangat dini, karena ayah saya almarhum suka nonton, dan dia penonton semua jenis film. Film Indonesia, silat, Barat, India, semua dilahap. Dan kalau filmnya tidak “terlalu dewasa”, biasanya saya diajak. Masa itu, kami sekeluarga belum punya televisi, jadi pengalaman menonton gambar bergerak hanya melalui film-film yang saya tonton di bioskop. Saya kenal Walt Disney dari orang tua.

Kemudian perkembangan teknologi merayap cepat. Televisi, kemudian home video, dari Betamax, VHS, laser disc, VCD, DVD, sampai kemudian sekarang hanya berupa data digital. Saya melewati semua pengalaman ini. Mungkin sebagian pengalaman hidup saya dipengaruhi film-film yang saya tonton. Kedua, baru saya bisa bilang buku-buku yang saya baca.

Tapi kenapa film?

Saya seniman multidisiplin. Main musik dan mengajar musik untuk penghasilan. Saya juga punya latar pendidikan formal di seni rupa, dan juga di bidang desain visual. Juga kegiatan yang lainnya.

Di semesta film, sebetulnya aktivitas saya cukup spesifik, yaitu penyelenggara festival. Dan lebih spesifik lagi, karena saya bekerja dalam sebuah susunan organisasi. Saya fokusnya di teknis pemutaran film dan secara sekunder terlibat di seleksi juga. Saya urusannya sama pasang kabel, lepas kabel, gulung kabel, pasang proyektor dan semacam itu. Terlepas dari status saya sebagai direktur festival, yang artinya saya juga memikirkan jalannya organisasi.

Dunia film adalah semesta yang luas. Saya bukan pembuat film, tapi ada dalam divisi yang mendistribusikan film. Atau sederhananya, yang saya lakukan bersama teman-teman adalah mencari dan memilih film-film pendek untuk ditayangkan kepada penonton. Sehingga untuk melakukan hal ini, saya harus berhubungan dengan pembuat film, dan juga berhubungan dengan penonton. Pelan-pelan saya juga jadi paham bagaimana mereka membuat film, kemudian saya juga belajar membaca respons dan berbagai karakter penonton.

Kembali ke pertanyaan di atas, sebetulnya saya agak bingung jawabnya. Karena nggak harus, kok. Cuma perlahan-lahan saya semakin paham dengan sistem kerjanya. Jadi, ya lanjutkan saja, dan sampai saat ini juga belum punya alasan kuat untuk meninggalkan tanggung jawab saya di sini. Tapi, saya belum pernah merasa diharuskan. Ini pekerjaan yang menarik.

Perlu dedikasi, itu pasti. Kerjaannya intens, kadang penuh tekanan, tapi pada saatnya, ada kepuasan tersendiri. Di belakang ruangan, saya mendengar penonton tertawa, terdiam, atau melihat mereka meneteskan air mata ketika menonton film yang kami (Minikino) pilihkan untuk mereka. Itu perasaan yang tidak ternilai. Padahal kami cuma tukang putar saja, bukan yang bikin film.

Selain itu, film adalah media yang paling luwes dan bisa melebar ke mana-mana. Satu-satunya media seni yang paling multidisiplin. Semua disiplin ilmu bisa terpakai di semesta film. Semua orang, kalau ingin terlibat, bisa terlibat. Ketika mengadakan layar tancap di Desa Pedawa di Buleleng, sampai tukang bakso dan tukang lotre jalanan pun kecipratan keceriaan yang terjadi. Film selalu menciptakan kebersamaan yang menghubungkan berbagai hal yang berbeda, mulai dari proses awalnya sampai akhir.

Bagaimana ceritanya ada Minikino?

Dari awalnya, pada tahun 2002, Minikino dirancang dan diinisiasi oleh Tintin Wulia, Kiki Muchtar dan Judith Guritno sebagai sebuah organisasi film pendek. Dan tentu saja internasional, karena masa itu, Minikino lebih banyak mendapatkan kiriman materi film pendek internasional daripada film pendek Indonesia. Minikino lahir dan berkegiatan di Bali sebelum tahun 2003, sampai 2010 lebih banyak terdengar di Jakarta. Setelah 2010, kegiatan di Bali mulai diintensifkan kembali, termasuk publikasinya.

Organisasi, artinya dari rancangannya sudah melibatkan struktur kerja organisasi, perencanaan jangka pendek dan jangka panjang. Cuma entah bagaimana ceritanya, di Indonesia masyarakat sepertinya lebih akrab dengan istilah “komunitas”, dan kelihatan canggung memahami “organisasi”, apalagi “organisasi film pendek”. Mungkin di dalam kepala mereka bertanya, “Film kok organisasi?” atau “Film pendek itu apaan?”. Tapi kalau disebut “komunitas film”, kebanyakan seolah-olah paham dan tidak dipertanyakan. Entah pemahaman mereka seperti apa, saya tidak pernah jelas, karena dari sepuluh orang, saya bisa dapat sepuluh jawaban berbeda sesuai angan-angan mereka tentang “komunitas film”. Ini pemahaman yang abstrak dan kemudian dianggap kurang penting untuk dipertanyakan.

Kebanyakan orang tidak terlalu kritis untuk mempertanyakan tentang film, apa itu film, dan untuk apa film, karena anggapan umum, film adalah hiburan. Dan hiburan tidak usah dipertanyakan. Apalagi kemudian ada masanya di Indonesia, sebuah film yang wajib ditonton, tapi tidak perlu dipertanyakan macam-macam – daripada ditangkap. Tidak perlu dibahas terlalu serius daripada stres sendiri. Dipendam saja sendiri atau dilupakan saja kalau tidak tertarik. Arti “film” sebetulnya memiliki banyak konteks dan memang memerlukan penjelasan panjang lebar. Tapi cari makan aja masih susah, ngapain mengurus film, kira-kira begitu pandangannya. Mungkin.

Apa yang ingin kamu tawarkan dengan film?

Kesempatan bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama, membangun pola pikir kritis, belajar berdiskusi dan belajar menghargai perbedaan pendapat. Kesempatan bertemu dengan orang-orang yang visioner, tukang mimpi dan ikut berandai-andai.

Jaringan internasional yang dibentuk Minikino menawarkan semua ini. Cara paling awal untuk yang tertarik adalah hadir menonton seleksinya dan ikut mendengarkan diskusi yang terjadi. Nanti pelan-pelan mungkin terpancing ikut bertanya. Acara terbuka diadakan rutin, dan informasinya juga disebar seluas-luasnya di sosial media, bahkan ada website juga. Dulu waktu Bali Post masih punya kolom “Seni Sana Sini” pada kisaran tahun 2002–2005, kalau nggak salah ingat, kami sering posting di sana juga.

Bagaimana kamu memandang perkembangan film di Bali?

Lambat, tapi konsisten. Perlahan, tapi pasti. Masih belajar terus untuk saling terhubung dan bekerja sama. Dengan posisi saya saat ini di organisasi, saya pilih bersikap optimistis. Kita semua tetap belajar untuk melakukan semuanya secara bertahap, tapi tetap pada langkah yang terintegrasi. Tidak selalu sukses, ada yang gagal dan tidak menghasilkan apa-apa, tapi proses pembelajaran dan evaluasi harus selalu dilakukan.

Apa program Minikino?

Untuk jangka pendek, saat ini Minikino aktif menjalankan tiga festival tahunan: Minikino Monthly Screening & Discussion, Minikino Open December dan Minikino Film Week. Selain itu ada program jaringan kerja Indonesia Raja dan S-Express. Jadi, sementara cukup padat karya dan belum berniat untuk menambah aktivitas.

Secara organisasional, kami juga membantu festival lain. Tahun 2019, direktur program Minikino, Fransiska, menjadi juri kompetisi film pendek eksperimental dari Asia Timur di 33rd Image Forum Festival Tokyo, dan ia juga diundang jadi bagian komite juri seleksi tahap awal untuk memilih film pada kompetisi internasional di Busan International Short Film Festival 2020. Rekan saya, Made, juga aktif sebagai mentor untuk beberapa lokakarya yang berhubungan dengan film. Dia juga jadi pendamping salah satu produksi pemenang KPK Short Film Competition. Saya sendiri jadi salah satu juri di festival Bali Jani yang lalu.

Untuk perencanaan jangka panjangnya, tentu saja akan terus memperkuat jaringan global dan jadi pintu masuk film-film pendek internasional untuk Asia Tenggara. Untuk itu, tantangan terbesarnya adalah menarik dukungan dan perhatian dari masyarakat dan pemerintah Indonesia sendiri.

Menarik perhatian internasional sedikit-banyak lebih “mudah”, mungkin karena mereka sudah paham dengan yang dilakukan Minikino. Organisasi seperti ini banyak di negara mereka, sehingga mereka punya pembanding. Di Bali, kadang teman-teman sendiri pun tidak terlalu paham dengan apa yang kita kerjakan, atau misalnya membaca potensi yang mungkin bisa bermanfaat untuk mereka. Tapi ini semua proses yang wajar, ada sebab-akibatnya, dan inilah tantangan yang harus dijalani Minikino.

Yang telah dilakukan selama tujuh belas tahun belakangan cukup rapi tercatat di website Minikino. Minikino juga baru saja menerbitkan buku Your Healthy Dose of Short Film, Celebrating 17 Years of Minikino. Ini buku rekoleksi perjalanan organisasi yang bisa jadi acuan kalau ingin tahu lebih dekat.

Apa kendala membangun kesadaran masyarakat untuk membuat film?

Kendala terbesarnya tentu saja menarik minat dari masyarakat yang tidak berminat bikin film, hehehe…. Tapi ini bukan tujuan Minikino ataupun saya pribadi. Yang kami perjuangkan bukan untuk mendorong lebih banyak orang bikin film. Bukan.

Tidak perlu semua orang bikin film. Sama juga seperti tidak semua orang perlu jadi penulis atau apa saja. Perlu ada yang jadi penulis, perlu juga ada yang jadi tukang masak, tukang kayu. Supaya bisa bisa bikin meja makan, sehingga seorang penulis bisa menikmati masakannya di atas meja. Bahkan perlu ada pemalas, supaya bisa jadi bahan tulisan, setelah selesai makan, hahaha…. Mungkin ini analogi yang mentah, tapi begitulah adanya.

Menurut saya, yang lebih dibutuhkan Indonesia saat ini adalah layar film dan penonton film. Pembuat film sering tidak punya kesempatan untuk mempertunjukkan film karya mereka kepada penonton sungguhan. Yang saya maksud penonton sungguhan di sini adalah penonton yang beneran meluangkan waktu, datang untuk menonton karya film yang diproyeksikan ke layar lebar. Bukan angka viewer di Youtube yang kita tidak pernah tahu apakah mereka beneran nonton sampai selesai atau cuma salah pencet.

Menonton film bersama-sama di depan layar lebar inilah yang saya sebut-sebut sebagai “budaya film”. Indonesia pernah punya budaya ini di era 50-70-an, namun semakin lemah termakan teknologi. Akibatnya, banyak karya film yang “dibuang” begitu saja di platform online dengan harapan jumlah viewer. Menurut saya, ini sih strategi yang kurang pas dan seperti pasang undian saja.

Jadi, yang berusaha saya bangun bersama Minikino adalah budaya menonton film, dan bukan sekedar membuat film. Budaya menonton film, lebih lengkapnya adalah budaya masyarakat yang menyadari kebutuhan mereka untuk meluangkan waktu menonton film bersama, nonton dari awal sampai selesai, di hadapan proyeksi film di layar lebar dengan tata suara yang memadai.

Tantangan terbesarnya adalah sekarang semua begitu cepat dan sibuk, sehingga banyak yang merasa tidak punya waktu untuk hal ini. Teknologi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, dia memudahkan, tapi di sisi lain, mengikis nilai-nilai wajar sebuah karya. Film yang diproduksi dengan biaya triliunan di-download gratis pakai Wifi tetangga.

Budaya nonton ini sama seperti budaya baca buku, misalnya. Kesadaran untuk memilih berhenti, duduk dan meluangkan waktu untuk membaca buku. Taman kota Denpasar selalu ramai, tapi jarang saya lihat yang duduk membaca buku. Syukurlah masih ada yang baca koran, tapi itu pun semakin jarang.

Mungkin ini hanya kekhawatiran generasi Boomer dan romantisme Gen X saja. Waktu berjalan, budaya pasti bergeser dan akan menjawab dengan sendirinya, apakah memang layar lebar masih diperlukan. Selama Gen X dan OK Boomer masih hidup, saya yakin layar masih akan terkembang, festival film dengan penonton sungguhan masih bisa berlangsung, semoga sampai 10-20 tahun ke depan. Tidak tahu setelah itu.

Desember tahun lalu Minikino mengadakan program film masuk desa. Bagaimana ide itu muncul?

Kegiatan masuk ke desa ini hal yang biasa, hanya keperluan kegiatannya saja. Membawa layar tancap masuk ke desa-desa sudah dilakukan Minikino sejak lama. Tahun 2005 juga sudah ada kegiatan pelatihan produksi yang masuk ke pelosok-pelosok desa di Bali.

Jauh sebelum layar tancap yang dibawa Minikino, masyarakat desa sudah mengenal kegiatan ini di era 70-80-an. Masyarakat desa pun kadang berinisiatif membuat acara pemutaran sendiri. Jadi, bukan Minikino yang memperkenalkan film masuk desa. Belanda, mungkin?

Ketika berkegiatan bersama desa di pelosok Bali, atau berkegiatan di Prancis, semua memiliki target yang kurang-lebih sama, yaitu untuk membuka dan menjalin hubungan, kemudian bersama-sama membangun hubungan ini secara kreatif untuk kepentingan bersama. Melalui film, kepentingan yang bisa diakomodasi sangat luas. Sebagai sebuah media yang terekam, film adalah media yang mampu melampaui batas ruang dan waktu. Ini kondisi yang sudah terjadi bahkan di akhir abad ke-19.

Kalau untuk yang bulan Desember itu, sebetulnya idenya justru muncul dari pemerintah Desa Padangsambian Kaja, karena mereka memang ingin membuat pelatihan produksi untuk masyarakat di sana, terutama kalangan remajanya. Kegiatan akhir tahun di desa, menjelang liburan, ini kan ide yang menyenangkan dan positif untuk dilakukan. Jadi Minikino menyambut dengan memberikan beberapa saran, dan ternyata disambut dengan baik. Desa Padangsambian Kaja ini desa yang progresif, pengurus-pengurus desanya adalah orang-orang yang berpandangan terbuka dan berani membuat terobosan baru. Jadinya cocok.

Bagaimana respons publik di desa?

Workshop kemarin diikuti sebelas peserta. Ini dari target awal lima belas peserta. Jadi ini termasuk lumayanlah, mendekati perkiraan awal. Suasana pelatihan justru lebih ideal dengan jumlah ini, dan kami berhasil memproduksi satu film pendek hasil pelatihan.

Jadi ini adalah pelatihan yang lengkap dari hulu sampai hilir. Kami membahas dari ide sampai produksi dan jadi karya film pendek. Tiga hari yang intens itu diikuti dengan antusias. Dan semua akan tercermin pada hasil produksinya. Karya film tidak mungkin bisa manipulasi. Kalau ide, pengembangan dan perencanaannya sudah lemah, sudah pasti terlihat lemah di hasilnya. Untuk tim produksi film pemula dari peserta workshop, ini hasilnya luar biasa.

Bagaimana memancing generasi milenial Bali supaya tertarik membuat film?

Pertama, penting membuat mereka tertarik untuk nonton. Sebetulnya bioskop-bioskop komersil di Denpasar sudah menunjukkan bahwa minat menonton masyarakat cukup tinggi. Namun tontonan yang disuguhkan di sini tentu saja produk perusahaan dan franchise.

Saya sering membuat perumpamaan ini. Sama seperti makanan-makanan franchise, silakan sebut apa sajalah, pasti rasanya enak, gurih, lezat, dengan penyajian yang kekinian, ditambah kemudahan-kemudahan pembeliannya dan semua elemen yang menunjang penjualannya. Tapi gizinya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan kalau dimakan sehari-hari mungkin saja membahayakan kesehatan. Lidah yang sudah sangat terbiasa dengan makanan fast food dan franchise ini, kalau dikasih makanan sehat, mungkin nggak bisa menikmati.

Ini yang terjadi pada konsumen film-film komersial yang tidak mengimbangi seleranya dengan karya-karya film pendek yang sifatnya lebih eksperimental, karya-karya film yang masih sangat kental dan dekat dengan nilai-nilai personal dari si pembuat film.

Film-film yang dibuat dengan sistem kerja korporasi dan biaya raksasa dirancang dengan saksama oleh para ahli di bidangnya untuk satu tujuan: laku keras. Artinya, sebagai karya film, dia harus pasti disukai dan ditonton sebanyak mungkin orang. Kalau ada keraguan sedikit saja, film itu dari awal sudah pasti dibatalkan dan dibuang.

Film-film seperti ini tidak personal untuk para pembuatnya. Mereka dibayar dengan “layak” oleh perusahaannya untuk bekerja memproduksi film yang penuh perhitungan ini. Setelah pekerjaan mereka selesai, tugas berpindah ke divisi selanjutnya, dengan tim kerja yang berbeda lagi. Tujuannya satu, keuntungan sebesar-besarnya. Penjualan tiket, merchandise dan pernak-pernik lainnya.

Tapi di balik semua itu, ada jenis film-film lainnya, karya-karya film yang sangat bernilai untuk pembuatnya. Dibuat dengan penuh kecintaan dan harapan. Seringkali harapannya sangat sederhana, hanya berharap ditonton dan diapresiasi secara terhormat, berharap melalui karyanya ini bisa menciptakan sebuah hubungan yang baru. Hubungan manusia dengan manusia. Minikino berusaha mencari film-film pendek seperti ini.

Coba dengarkan salam dari Jeremy Comte, sutradara film “FAUVE” yang mendapat anugerah film pendek terbaik di Minikino Film Week 5. Tentu kita semua bisa merasakan bagaimana kedekatannya dengan karya film yang dia buat. Kalau sudah menyaksikan filmnya, mungkin lebih paham dengan apa yang saya coba jelaskan di sini.

Untuk merangsang remaja agar membuat film, penting untuk mempertemukan mereka juga dengan para filmmaker idealis seperti ini. Kalau hanya nonton bioskop melulu, itu hanya hiburan saja. Saya pun menikmati banyak film komersil. Memang lezat rasanya. Hiburan perlu, tapi perlu diimbangi makanan sehat juga, kan.

Apa saran kamu untuk meningkatkan kualitas film pendek yang dibuat siswa SMA?

Memperbaiki kualitas gurunya menjadi kunci utama. Kurikulum SMA begitu padat dan guru begitu berkuasa, jadi kualitas karya anak-anak SMA sulit mendapatkan suntikan dari luar sekolah. Jadi secara umum, hanya sekolah dan guru yang bisa memperbaiki kualitas anak didiknya.

Bagaimana membangun iklim film pada pelajar di Bali ?

Saya melihat siswa dan pelajar di Bali sudah lebih akrab dengan kegiatan teater. Perkenalan dengan film bisa dimulai dari kegiatan teater, terutama pada proses pengembangan ide dan penulisan naskahnya. Tapi perlu kerelaan dari guru-guru dan pembimbing teater untuk belajar memahami perbedaannya, karena walaupun banyak kemiripan, ya hanya mirip saja, tapi beda.

Apakah workshop cukup untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang film indie?

Saya luruskan sedikit bahwa istilah “film indie” sudah tidak relevan lagi dibicarakan di dunia saat ini. Terlebih lagi di Indonesia, yang pemahamannya sangat dangkal. Pemahaman istilah “indie” di Indonesia diadaptasi dari sebuah tren distribusi musik tahun 90-an, band-band indie Indonesia masa itu.

Minikino berfokus pada film pendek, jadi pertanyaan ini saya jawab dalam konteks film pendek dan tidak ada hubungannya dengan film indie.

Tentu saja workshop hanya salah satu cara untuk menyampaikan informasi tentang film pendek. Masih banyak kegiatan lain yang perlu melengkapi. Pemutaran dan diskusi, festival, simposium, dan juga rancangan pengembangan nilai ekonominya.

Sampai bicara nilai ekonomi, berarti perlu melibatkan berbagai kepentingan lain untuk bisa duduk bersama. Ini masih terus dipikirkan, dikerjakan dan dibangun bersama.

Apa harapan Minikino untuk Bali?

Bali adalah pulau dengan masyarakat yang kaya budaya. Minikino hanya pelengkap saja, nyempil di antara kerumunan. Harapan saya, semoga bisa ikut berperan dalam perkembangan beragam budaya masyarakat di Bali.

Bagaimana respons masyarakat Bali terhadap film-film pilihan Minikino?

Seiring dengan waktu, jumlah penonton juga berkembang. Merespons karakter masyarakat yang masih enggan keluar dari wilayah kediaman untuk mengunjungi sebuah festival film, Minikino harus berusaha mendekat ke tempat-tempat mereka berkumpul, seperti lapangan desa, bale banjar dan wilayah-wilayah yang ramah untuk masyarakat secara umum.

Biasanya, respons masyarakat hangat dan menyenangkan. Untuk remajanya, ini seringkali jadi pengalaman pertama mereka menyaksikan layar lebar bersama teman-teman dan kerabat. Untuk para orang tua, banyak yang mengakui bernostalgia dengan suasana layar tancap waktu mereka masih muda dulu.

Pada umumnya masyarakat lebih merespon suasana yang terbangun. Hanya sebagian kecil yang memiliki perhatian khusus kepada film yang mereka tonton.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *