Cerita EVAN HUNTER

Putaran Terakhir

oleh Evan Hunter

terjemahan Bayu Pratama

Pemuda yang duduk di hadapannya adalah musuhnya.

Pemuda itu memakai jaket sutra berwarna hijau dengan garis oranye di setiap lengannya, dan biasa dipanggil Tigo. Jaket itu yang membuat Danny yakin Tigo adalah musuhnya. Jaket itu seperti menjerit, “Musuh. Musuh!”

“Ini barang bagus,” kata Tigo sambil menunjuk pistol yang tergeletak di atas meja. “Kau perlu habiskan hampir 45 dolar kalau ingin membelinya di toko. Itu uang yang lumayan banyak.”

Pistol yang Tigo bicarakan adalah tipe Smith & Wesson .38 Police Special. Tergeletak tepat di tengah-tengah meja. Larasnya yang lebih pendek hingga dua inci dari ukuran aslinya menghilangkan kesan agung dari senjata mematikan itu. Gagangnya dihiasi ornamen kayu kenari, sedangkan keseluruhannya diselesaikan dengan warna biru yang monoton. Tepat di samping pistol itu tergeletak peluru untuk .38 Special.

Danny dengan enggan menatap pistol itu. Dia merasa gugup dan khawatir, tapi tetap berusaha terlihat tenang. Tidak mungkin dia akan membiarkan Tigo melihat kecemasannya. Tigo adalah seorang musuh, dan karena itu dia harus memasang topeng di hadapan musuhnya, menaikkan sebelah alis dan berkata, “Aku sudah lihat pistol seperti ini sebelumnya, tidak ada yang spesial soal itu.”

“Kecuali apa yang bisa kita lakukan dengannya,” kata Tigo, menatap Danny dengan mata coklatnya yang besar. Mata itu kelihatan selalu basah. Dia bukan pemuda yang bertampang buruk atau semacamnya. Tigo, dengan rambut hitamnya yang tebal dan hidungnya yang mungkin terlalu panjang, punya mulut dan dagu yang lumayan. Mulut dan dagu itu pantas mendapat pujian, tapi Tigo tidak mau mengambil pusing soal itu. Untuk yang satu itu, Danny sangat yakin.

“Kenapa kita tidak mulai saja?” kata Danny. Dia menjilati bibirnya sambil menatap lurus Tigo.

“Kau pasti tahu,” kata Tigo, “Aku tidak punya dendam atau semacamnya padamu.”

“Tentu.”

“Beginilah aturannya. Beginilah seharusnya kita menyelesaikan hal semacam ini. Memang tidak perlu ribut-ribut, kau paham? Tapi kau perlu tahu aku bahkan tidak mengenalimu kecuali karena kau pakai jaket biru keemasan ini.”

“Dan kau dengan jaket hijau-oranyemu,” kata Danny, “dan itu cukup buatku.”

“Tentu, tapi maksudku …”

“Kita akan duduk dan bicara semalaman, atau kita bisa mulai sekarang?” kata Danny.

“Tapi maksudku,” kata Tigo tetap melanjutkan, “aku ini tiba-tiba saja dipilih untuk ini, kau tahu? Semacam aku harus ada di sini sekarang untuk menyelesaikan urusan kita berdua. Kau juga pasti tahu. Kau tahu orangmu harusnya tidak masuk wilayah kami semalam.”

“Aku tidak perlu mengaku soal apa-apa,” kata Danny dengan datar.

“Nah, lagi pula, orangmu main tembak di BD1. Itu pastinya salah. Harusnya ada gencatan senjata sekarang.”

“Iya, terserahlah,” kata Danny.

“Jadi semacam… semacam beginilah caranya kita harus menyelesaikan ini. Maksudku, satu dari kami… dan satu dari kalian. Adil dan bulat. Tanpa perlu ada keributan di jalan, dan tidak ada urusan dengan petugas.”

“Ayo kita mulai saja,” kata Danny.

“Aku cuma mau bilang, aku bahkan tidak pernah melihatmu di sekitar sini selama ini. Jadi tolong jangan diambil pusing, ini bukan masalah pribadi. Bagaimanapun caranya ini selesai, seperti…”

“Aku juga tidak pernah melihatmu sebelumnya,” kata Danny.

Tigo diam dan menatap Danny beberapa lama. “Itu karena kau yang orang baru di sekitar sini. Sebenarnya kau asli mana?”

“Kami dari Bronx.”

“Kau punya keluarga?”

“Satu saudara perempuan, dan dua saudara laki-laki. Itu saja.”

“Nah, aku hanya punya saudara perempuan,” kata Tigo sambil mengangkat bahu. “Jadi,” katanya setengah mendesah. “Ya,” katanya mendesah lagi. “Kita mulai sekarang?”

“Dari tadi aku menunggu,” kata Danny.

Tigo mengambil pistol itu, kemudian mengambil salah satu peluru dari atas meja. Dibukanya tempat peluru, memasukkan amunisi ke dalam silinder, kemudian menutup kembali tempat peluru dan memutar-mutar silinder. “Berputar dan berputar,” katanya, “dan sekarang, tidak ada yang tahu…. Ada enam ruang di dalam silinder, dan hanya ada satu peluru. Itu lima banding satu kalau pelurunya ada di posisi yang pas. Paham?”

“Paham.”

“Aku duluan,” kata Tigo.

Danny menatapnya curiga. “Kenapa?”

“Kau mau duluan?”

“Tidak tahu.”

“Ini lebih gampang buatmu,” kata Tigo menyeringai. “Mungkin saja kepalaku meledak di putaran pertama.”

“Kenapa ini lebih gampang buatku?” kata Danny.

Tigo diam, mengangkat bahu. “Apa juga bedanya?” Dia mulai memutar-mutar silinder pistol dengan cepat.

“Orang-orang Rusia bikin hal semacam ini, ya?” kata Danny.

“Begitulah.”

“Aku selalu bilang mereka itu bajingan gila.”

“Nah, aku selalu…” Tigo tiba-tiba berhenti bicara. Dia berhenti memutar silinder itu. Mengambil napas dalam-dalam, menaruh ujung pistol .38 Special itu tepat di batok kepalanya, kemudian menekan pelatuk dengan begitu berat.

Hantaman hammer2 meledakkan ruang peluru yang kosong.

“Nah, itu gampang sekali, bukan?” kata Tigo, kemudian mendorong pistol itu menyeberangi meja. “Giliranmu, Danny.”

Danny mengambil pistol itu. Udara begitu dingin di ruang bawah tanah tempat mereka berada, tapi Danny berkeringat. Dia menarik pistol itu sampai tepat di depannya, kemudian melepaskannya sebentar untuk mengelap keringat di telapak tangannya ke celana. Danny mengangkat pistol itu kemudian menatapnya.

“Itu barang bagus,” kata Tigo. “Aku suka barang bagus.”

“Ya, sama,” kata Danny. “Dipegang saja, kau bisa bilang ini barang bagus.”

Tigo kelihatan kaget dengan jawaban itu. “Aku juga bilang begitu kemarin ke salah satu orang yang datang, dan dia pikir aku sudah gila.”

“Banyak orang tidak mengerti barang bagus,” kata Danny sambil mengangkat bahu. “Aku pikir,” kata Tigo, “Kalau aku sudah cukup umur, aku akan masuk tentara, kau tahu? Aku suka kerja-kerja yang lumayan.”

“Aku juga mau. Aku bisa ikut sekarang, tapi pacarku tidak mengizinkan. Dia harus tanda tangan kalau aku mau ikut sekarang.”

“Nah, mereka semua sama saja,” kata Tigo sambil tersenyum. “Pacarmu lahir di sini atau dari luar?”

“Asli luar,” kata Danny.

“Nah, kau tahu mereka selalu punya gagasan-gagasan kuno.”

“Lebih baik aku mulai memutar,” kata Danny. “Tentu,” Tigo menyetujui.

Danny memukul silinder pistol dengan tangan kirinya. Silinder itu berputar dan berputar, kemudian berhenti. Perlahan, Danny menaruh ujung pistol itu di kepalanya. Dia ingin menutup mata, tapi perasaan takut menguasainya. Tigo, musuhnya itu, terus menatapnya. Danny balas menatap Tigo, kemudian menekan pelatuk.

Jantungnya berdegup kencang. Di antara darahnya yang terasa mengalir lebih cepat, Danny mendengar suara hammer menghantam ruang silinder yang kosong. Segera pistol itu dikembalikannya ke atas meja.

“Bikin berkeringat, kan?” kata Tigo.

Danny mengangguk tanpa sepatah kata. Dia menatap Tigo. Tigo menatap pistol itu.

“Giliranku lagi, ya?” kata Tigo. Dia mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengambil .38 Special itu. Memutar silinder, menunggu putarannya berhenti, kemudian menaruh ujung pistol tepat di kepalanya.

“Dor!” kata Tigo, kemudian menekan pelatuknya. Lagi, hammer menghantam silinder yang kosong. Tigo mengembuskan napasnya kemudian meletakkan kembali pistol itu. “Barusan aku pikir aku akan mati.”

“Malah aku tadi bisa mendengar suara harpa,” kata Danny.

“Ini cara yang bagus buat kehilangan berat badan, kau tahu?” kata Tigo. Walaupun gugup, dia berusaha tertawa, dan kemudian tawanya menjadi sungguh-sungguh ketika melihat Danny ikut tertawa bersamanya. “Bukankah itu benar? Kau bisa kehilangan lima kilo dengan cara ini.”

“Pacarku besarnya sudah seperti rumah. Dia harus coba cara diet ini,” kata Danny menertawakan leluconnya sendiri, dan semakin tertawa ketika Tigo juga menertawakan hal itu.

“Itu masalahnya,” kata Tigo. “Kau lihat wanita cantik di jalan, kau pikir itu hal paling gila, kemudian dia jadi tambah tua dan gemuk,” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Kau punya pacar?”

“Ada satu.”

“Siapa namanya?”

“Nah, kau tidak kenal juga.”

“Mungkin aku kenal,” kata Danny.

“Namanya Juana,” kata Tigo sambil menatap Danny. “Dia ibarat lima banding dua, punya mata coklat…”

“Sepertinya aku tahu dia,” kata Danny sambil mengangguk. “Ya, sepertinya aku tahu dia.”

“Dia lumayan, kan?” kata Tigo, mencondongkan badannya ke depan, seolah-olah jawaban Danny adalah hal penting untuknya.

“Ya, dia lumayan,” kata Danny.

“Nah, mungkin suatu saat kita bisa…” Tigo segera memotong ucapannya. Dia menatap pistol itu, kemudian seluruh ketertarikannya untuk bicara hilang tiba-tiba. “Giliranmu,” katanya.

“Ini tidak berguna,” kata Danny. Dia mulai memutar silinder pistol, menghirup napas, kemudian langsung menekan pelatuk.

Suara hantaman hammer yang begitu keras membuat suasana di ruangan itu malah terasa lebih sunyi.

“Astaga!” kata Danny.

“Kita berdua ini lumayan beruntung, kau tahu?” kata Tigo.

“Sejauh ini ya begitu.”

“Kita lebih baik memperbesar peluangnya. Mereka tidak akan suka…” dia memotong ucapannya sendiri lagi, kemudian mengambil peluru lainnya dari atas meja. Dibukanya tempat peluru, kemudian memasukkan peluru yang baru ke dalam silinder. “Sekarang kita punya dua peluru di dalam sini,” katanya. “Dua peluru, enam kamar. Itu empat banding dua. Bagi itu, maka jadi dua banding dua.” Dia berhenti sejenak. “Kau ikut?”

“Itu… itu alasan kita berdua di sini, kan?”

“Pastinya.”

“Baiklah.”

“Ayo,” kata Tigo, menganggukkan kepala. “Kau pasti berani, Danny.”

“Kau yang butuh keberanian sekarang,” kata Danny dengan tenang. “Ini giliranmu.”

Tigo mengangkat pistol itu. Dia mulai memutar-mutar silinder.

“Kau tinggal di kompleks sebelah, kan?” kata Danny.

“Begitulah.” Tigo terus memutar-mutar silinder. Silinder itu mengeluarkan suara desingan yang terdengar begitu kaku.

“Mungkin karena itu kita belum pernah saling lihat. Lagi pula, aku memang orang baru di sekitar sini.”

“Nah, kau tahu, kau jadi terlibat di kelompok ini, begitulah intinya.”

“Kau suka orang-orang di sekitarmu?” kata Danny sambil mendengar desingan silinder itu. Dia penasaran mengapa pertanyaan bodoh semacam itu keluar dari mulutnya.

“Mereka lumayan,” kata Tigo sambil mengangkat bahu. “Tidak ada dari mereka yang benar-benar ingin mengirimku, tapi itulah orang-orang di kelompokku. Jadi, apa yang bisa kaulakukan soal itu?” Tangannya melepas silinder. Silinder itu berhenti berputar. Tigo mulai menaruh pistol itu di kepalanya.

“Tunggu!” kata Danny tiba-tiba.

Tigo kelihatan bingung. “Kenapa?”

“Tidak ada. Aku cuma mau bilang… maksudku…” Danny mengerutkan keningnya. “Aku juga kadang-kadang tidak mengerti apa sebenarnya yang diinginkan orang-orang di kelompokku.”

Tigo mengangguk. Sejenak, mata mereka saling menatap lekat-lekat. Kemudian Tigo mengangkat bahu, dan menekan pelatuk.

Suara letupan pistol yang kosong memenuhi ruang bawah tanah itu.

“Huh,” kata Tigo.

“Ya ampun!”

Tigo mendorong pistol itu ke arah Danny. Sejenak perasaan ragu-ragu menguasai Danny. Dia tidak ingin mengambil pistol itu. Kali ini dia yakin letupan pistol itu akan mengirim salah satu peluru ke kepalanya. Dia yakin kali ini dia akan menembak dirinya sendiri.

“Kadang aku pikir aku ini pengecut,” kata Tigo, kaget pikirannya itu menemukan pengungkapan yang tepat.

“Aku juga merasa begitu kadang-kadang. Aku tidak pernah bicara soal itu ke siapa pun,” kata Danny. “Orang-orang di kelompokku akan tertawa, aku tidak akan memberi tahu mereka soal itu.”

“Beberapa hal harus kau simpan sendiri. Tidak ada orang yang bisa dipercaya di dunia ini.”

“Harusnya ada,” kata Danny. “Sialan, kau tidak bisa bilang apa-apa ke orang dekatmu. Mereka tidak akan mengerti.” Tigo tertawa. “Itu cerita lama, tapi memang begitulah. Kau bisa apa soal itu?”

“Ya, tetap saja. Kadang-kadang aku pikir aku ini pengecut.”

“Tentu, tentu,” kata Tigo. “Pastinya bukan hanya itu saja. Misalnya… apa kau tidak penasaran kenapa kau membentak seseorang di jalan? Misalnya… kau paham maksudku? Seperti… apa pentingnya orang itu buatmu? Buat apa kau mengalahkannya? Karena dia bikin masalah dengan pacar orang lain?” Tigo menggeleng-gelengkan kepalanya. “Semua itu jadi rumit kadang-kadang.”

“Ya, tapi…” Danny mengerutkan keningnya lagi. “Kau harus tetap jadi anggota kelompok, kan?”

“Tentu. Begitulah… Pastinya.”

“Jadi, inilah dia,” kata Danny. Dia mengangkat pistol itu. “Hal ini…” dia menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mulai memutar silinder. Silinder itu berputar, kemudian berhenti. Dia menatap pistol itu sebentar, penasaran apakah peluru akan melesat lewat selongsongnya ketika dia menekan pelatuk.

Kemudian Danny menekan pelatuk.

Klik.

“Aku kira kau tidak akan berhasil lewat yang satu ini,” kata Tigo.

“Aku juga tidak.”

“Kau bukan pengecut, Danny,” kata Tigo. Dia menatap pistol itu. Mengangkatnya, kemudian membuka tempat peluru lagi.

“Kau mau apa?” kata Danny.

“Tambah peluru,” kata Tigo. “Enam tempat peluru, tiga peluru. Itu membuat ini lebih berharga. Kau ikut?”

“Kau?”

“Mereka bilang…” kata Tigo, memotong ucapannya sendiri lagi. “Nah, pasti aku ikut,” sambungnya dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Ini giliranmu, kau tahu.”

“Tahu.” Tigo mulai mengangkat pistol itu dan Danny menatapnya.

“Kau pernah naik perahu dayung di danau?”

Tigo menatap Danny yang duduk di seberang meja, matanya melebar. “Sekali,” katanya. “Aku pergi dengan Juana.”

“Begitu … apakah itu menyenangkan?”

“Ya, ya. Itu lumayan menyenangkan. Maksudmu kau belum pernah?”

“Belum pernah.”

“Nah, kau harus coba itu, Bung,” kata Tigo bersemangat. “Kau akan suka. Kau harus coba.”

“Ya, aku tadi berpikir mungkin minggu ini aku akan…” Danny tidak melanjutkan kata-katanya.

“Putaranku,” kata Tigo lelah. Dia memutar silinder. “Inilah dia,” katanya, kemudian menaruh ujung pistol itu di kepalanya dan menekan pelatuk.

Klik.

Danny tersenyum gugup. “Tidak ada waktu untuk lelah,” katanya. “Tapi, ya tuhan, kau itu berani sekali. Aku tidak tahu kalau aku bisa melewati ini.”

“Pasti kau bisa,” kata Tigo meyakinkannya. “Dengar, apa yang perlu ditakutkan?” Tigo mendorong pistol itu menyeberangi meja.

“Kita terus begini sepanjang malam?” kata Danny.

“Mereka bilang… kau tahulah…”

“Ya, ini tidak seburuk itu. Maksudku, sialan, kita tidak bisa apa-apa, kita tidak akan punya kesempatan untuk bilang apa-apa, begitu, kan?” Danny menyeringai lemah.

“Begitulah,” kata Tigo. Wajahnya seperti terbelah oleh senyuman yang begitu lebar. “Belum pernah seburuk ini, ya?”

“Tidak juga. Pernah… ya, kau tahulah, orang-orang di kelompok ini, siapa juga yang bisa bicara dengan mereka?” Danny mengangkat pistol itu. “Kita bisa…” kata Tigo memulai.

“Apa?”

“Kita bisa bilang… nah… semacam kita tetap menekan pelatuk dan tidak terjadi apa-apa, jadi…” Tigo mengangkat bahu. “Sialan! Bisa-bisa kita terus melakukan ini semalaman, kan?”

“Tidak tahu juga.”

“Ayo buat ini jadi putaran terakhir. Dengar, mereka tidak suka hal semacam ini, bisa jadi mereka muak dan pergi, kau tahu?”

“Aku pikir mereka tidak suka itu. Kita harus menyelesaikan ini demi kelompok.”

“Persetan kelompok!” kata Tigo. “Tidak bisakah kita memutuskan sendiri…” Kata-kata itu keluar dengan begitu berat dari dirinya. Ketika keluar, matanya tidak bisa lepas menatap wajah Danny. “Sobat?”

“Tentu saja kita bisa,” kata Danny dengan tegas. “Tentu saja bisa! Kenapa tidak?”

“Putaran terakhir,” kata Tigo. “Ayo, putaran terakhir!”

“Ayo,” kata Danny. “Kau tahu, aku senang mereka punya ide ini. Kau tahu? Aku sebenarnya senang!” Dia mulai memutar silinder. “Dengar, kau mau ikut ke danau minggu ini? Maksudku dengan pacarmu dan pacarku? Kita bisa sewa dua perahu. Atau satu saja kalau kau mau.”

“Nah, satu saja cukup,” kata Tigo. “Pacarmu pasti suka Juana, sungguh. Dia itu wanita yang hebat.”

Silinder itu berhenti berputar. Danny cepat-cepat menaruh ujung pistol di kepalanya.

“Ini untuk hari minggu besok,” katanya. Dia tersenyum melihat Tigo, dan Tigo tersenyum padanya, dan kemudian Danny menekan pelatuk.

Suara ledakan memenuhi ruang bawah tanah yang sempit itu. Meledakkan setengah dari kepala Danny, menghancurkan wajahnya. Suara tangis mendesak keluar dari tenggorokan Tigo, dan rasa kagetnya seperti menusuk-nusuk, mendesak keluar dari bola matanya. Tigo meletakkan kepalanya di atas meja. Perlahan, dia mulai menangis.*

Catatan Kaki:

  1. BD = Istilah untuk pengedar narkoba.
  2. Hammer = bagian dari pistol yang berfungsi memicu ledakan saat pelatuk ditekan.

Evan Hunter adalah nama lain yang diadopsi secara legal oleh Ed Mcbain pada 1952. Ia adalah pengarang berkebangsaan Amerika. Terkenal karena menulis banyak fiksi kejahatan. Nama pena lain yang sering dipakainya adalah John Abbott, Curt Cannon, Hunt Collins, Ezra Hannon, Richard Marsten, dan lain-lain. 

Bayu Pratama lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon, Mataram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *