CandikataCeritaSastra

Cerita CURTIS SITTENFELD

KAJIAN GENDER

oleh Curtis Sittenfeld

terjemahan A. Nabil Wibisana

Nell dan Henry selalu berkata mereka akan menunggu sampai pernikahan dinyatakan legal untuk semua orang di Amerika tanpa kecuali, tapi seminggu sebelum waktu itu tiba—tepat pada Agustus 2015—Henry malah minggat bersama salah seorang mahasiswi, Bridget. Bridget berusia dua puluh tiga tahun, cukup cantik tapi tidak terlalu menarik (salah satu segi non-stereotipikal dari situasi ini, pikir Nell, adalah kurangnya sihir pesona Bridget). Henry dan Bridget telah berkencan selama enam bulan, mereka mulai berselingkuh sejak musim dingin tahun lalu, saat Henry dan Nell masih bersama. Lantas Henry keluar dari rumah yang ia dan Nell miliki pada bulan April, langsung menuju apartemen Bridget. Nell dan Henry telah berpasangan selama sebelas tahun.

Di radio mobil antar-jemput dari bandara Kansas ke hotel tempat pertemuan yang akan Nell hadiri—mobil antar-jemput itu sebuah van, dan ia satu-satunya penumpang—seorang penyiar dan tamunya sedang mendiskusikan pencalonan Donald Trump sebagai presiden. Si supir bertemu pandang dengan Nell di kaca spion dalam dan berkata, “Ia tak takut menyuarakan pendapatnya, kan? Kau mesti  mengakuinya.”

Nell hanya bergumam pelan untuk menunjukkan, dalam arti paling harfiah, ia mendengar komentar si supir.

Si supir berkata, “Aku tak pernah memilih sebelumnya, tapi ia telah melaju sejauh ini, mungkin aku nanti akan memilih. Seorang pebisnis tangguh macam Trump rasanya bisa berbuat banyak di Washington.” 

Ada waktu, baik di masa silam ataupun hari-hari belakangan ini, ketika Nell kerap merespons pernyataan semacam itu dengan sikap tenang tapi menohok, dengan pendapat otoritatif seorang profesor, atau paling tidak kalimat yang dianggap berbobot. Barangkali: Memangnya rekam jejak bisnis Trump mana yang kauanggap paling meyakinkan? Tapi kali ini ia hanya berpikir, kau pandir sekali. Ia pun cuma berujar “menarik” dan mengalihkan pandangan ke luar jendela, pada langit mendung dan padang rumput luas di balik pagar kayu sebuah rumah peternakan. Meskipun ia tinggal di Wisconsin, yang hanya terpaut beberapa negara bagian saja, ia tak pernah pergi ke Kansas, atau bahkan ke Missouri.  

“Aku bukan seorang republikan,” si supir berkata. “Tapi aku jelas bukan seorang demokrat. Pasti. Kau tak akan pernah melihatku memilih Shrillary.” Ia gemetar, atau berolok-olok gemetar. “Jika aku Bill, aku pun akan berbuat serong.”

Supir itu kelihatannya berumur sekitar awal dua puluhan, sekurang-kurangnya lima belas tahun lebih muda daripada Nell. Bahunya tak begitu lebar, rangka tubuhnya tampak tinggi. Ia mengenakan hem polo oranye cerah; mobil van yang dikemudikannya pun berwarna oranye, dan sebuah pulpen oranye terselip di atas telinga kanannya. Rambutnya hitam, disisir rapi ke belakang dan tampak basah. Kulit wajahnya putih pucat dan berbintik-bintik. Di kaca spion dalam, ia dan Nell kembali bertemu pandang, lalu ia berkata, “Aku bukannya seksis lho.”

Nell tak mengatakan apa pun.

“Kau sudah menikah?” ia bertanya.

“Belum,” Nell menjawab.

“Pacar?”

“Tak ada,” Nell kembali menjawab, lalu mendadak menyesali jawabannya—si supir memberinya dua kesempatan, dan Nell melepaskan keduanya begitu saja.

“Aku sih sudah bercerai,” ia berkata. “Tak akan pernah mau terlibat dalam masalah itu lagi. Tapi aku punya putri yang berumur empat tahun, Lisette. Ia benar-benar dekat denganku. Kau punya anak?”

“Tidak.” Kali ini Nell tak ingin berdusta.

Apakah ia akan mencibirnya? Ternyata tidak. Alih-alih, supir itu bertanya, “Apa kau seorang pengacara?”

Nell spontan tersenyum. “Maksudmu seperti Hillary? Bukan, aku seorang profesor.”

“Profesor bidang apa?”

“Bahasa Inggris.” Sekarang Nell benar-benar berbohong. Ia seorang guru besar dalam kajian perempuan dan gender, tapi di luar kalangan akademis acapkali lebih mudah untuk tak membahasnya sama sekali. 

Nell mengambil ponsel dari saku jaket yang ia kenakan dan dengan nada yang tajam berujar, “Aku perlu mengirim email.” Alih-alih mengirim email, ia mengecek masih berapa lama lagi waktu perjalanan menuju hotel—sekitar dua puluh menit. Interupsi itu berhasil, si supir tak mencoba menyambung percakapan sampai mereka keluar dari jalan tol dan tiba di pusat kota. Sementara itu, melalui Facebook, Nell tak sengaja mengetahui bahwa Henry dan Bridget, yang telah menikah dua hari lalu di New Orleans (Mengapa New Orleans? Nell tak punya bayangan sama sekali), menyantap roti beignet untuk sarapan dan, tepat satu jam lalu, mereka berjalan-jalan di French Quarter, wilayah kota tua bersejarah di New Orleans.

“Berapa lama kau akan berada di Kansas?” si supir bertanya saat ia menghentikan mobil van itu di bawah porte-cochère hotel. Suasana tampak sibuk, kendaraan datang dan pergi, para petugas parkir valet dan petugas portir kelihatan berkeringat dalam seragam merah marun mereka.

“Sampai hari Minggu,” jawab Nell.

“Urusan bisnis atau berlibur?”

Acara yang akan dihadiri Nell adalah pertemuan dewan pelaksana sebuah asosiasi nasional tempat ia menjabat sebagai presiden pada periode terakhir, pertemuan tengah tahun yang rutin diadakan untuk membahas rencana kerja organisasi, pertemuan yang terdengar sangat membosankan sehingga ia tergoda untuk menjelaskan semua perkara teknis itu kepada si supir. Namun, akhirnya ia hanya berkata, “Urusan bisnis.”

“Kalau kau punya waktu luang, cobalah barbeku kami,” pria itu berkata. “Iga terbaik di kota ini ada di restoran Winslow. Kau bukan seorang vegetarian toh?”

Nell dan Henry vegetarian saat mereka bertemu, sewaktu mereka melanjutkan kuliah di kampus yang sama; Henry menempuh pendidikan doktor di bidang ilmu politik. Kemudian, sekira lima tahun lalu, secara kebetulan Henry datang ke restoran tempat Nell sedang menyantap makan siang bersama kawan-kawannya. Nell melahap steak BLT. Nell dan Henry tidak mengatakan apa pun sampai mereka tiba di rumah malam harinya. Saat itu barulah Nell bertanya, “Apa kau perhatikan apa isi piringku tadi siang?”

“Sebenarnya,” kata Henry, “Sudah cukup lama aku makan daging pula.”

Nell terhenyak. Tidak marah, tapi benar-benar terkejut. Ia bertanya, “Sejak kapan?”

“Setahun?” Henry tampak tersipu-sipu saat melanjutkan, “Ternyata nikmat sekali.”

Mereka terbahak, dan mulai memasak steak atau sosis untuk makan malam, meskipun, mengingat orang macam apa mereka selama ini (orang-orang congkak, Nell menyadarinya sekarang), semua daging itu haruslah berasal dari hewan ternak yang hanya dipakani rumput atau berasal dari peternakan organik. Dan tentu saja, mereka tak boleh terlalu sering makan daging. 

Semua itu membuat Nell berpikir, sejak ia tahu ihwal perselingkuhan Henry, ia bertanya-tanya bukan hanya apakah ia seharusnya menyadari hal itu lebih awal tapi juga apakah ia keliru tidak berselingkuh dari Henry. Apakah ada pakta tak tertulis yang gagal ia pahami? Dan bukankah sebenarnya ia telah diperingatkan? Mengagumi mahasiswi dua-puluh-tiga-tahun ternyata, atau rupanya, nikmat sekali! Lagi pula, Bridget dan Henry mulai dekat sewaktu Nell dan Henry tak lagi berhubungan seks selama berbulan-bulan. Mereka masih berhubungan baik saat itu, tapi kalaupun dahulu mereka pernah merasakan hasrat dan kegembiraan dalam sebuah relasi—dan terus terang, ketika memikirkan ulang hal itu kini, Nell tak bisa mengingat secara pasti—bisa dibilang mereka tak lagi merasakannya. Sebenarnya, apa yang ia ingat dari masa-masa penjajakan mereka dahulu adalah beberapa kencan makan malam di sebuah restoran Mexico payah di dekat kampus, saat mereka antusias bercakap-cakap dengan niat agar bisa terlihat cerdas di mata masing-masing. Barangkali bagi mereka itulah gelora hasrat? Kini perasaannya bertumpuk-tumpuk, ia gusar kepada Henry—ia merasa dikhianati dan dipermalukan—dan ia pun merasakan simpati yang mengalir. Semua perasaan itu ia simpan hati-hati, tak ia umbar di hadapan Henry atau teman-temannya. Kehidupan mereka yang serba kekanak-kanakan, kucing mereka yang dinamai Converse (menurut nama seorang ilmuwan politik, bukan merek sepatu), pantangan mereka pada daging, serta malam-malam dan hari-hari akhir pekan mereka yang diisi kegiatan membaca atau memeriksa tugas mahasiswa atau menonton serial televisi yang berkualitas—adalah kehidupan yang baik dan sekaligus sedikit mengerikan. Nell paham semua itu.

Kepada si supir, ia menjawab, “Aku bukan vegetarian.”

Si supir mematikan mesin. Walaupun Nell telah membayar layanan antar-jemput itu secara daring sebelumnya, ia membaca sebuah stiker di atas kaca spion dalam yang bertuliskan TIP TIDAK WAJIB TAPI AKAN DIHARGAI. Sewaktu si supir melompat keluar dari kursi depan untuk mengambil bagasi di bagian belakang mobil, Nell baru menyadari dompetnya hanya terisi lembaran-lembaran uang dalam pecahan dua puluh dolar. Kalau saja tak ada komentar politik menyebalkan dari si supir, Nell akan dengan senang hati memberi tip dua puluh dolar—pendirian umumnya adalah jika ia bisa membayar 300 dolar untuk sepasang sepatu atau 11,99 dolar untuk satu pon brokoli Thailand yang dijual di koperasi, ia bisa memberi tip lebih untuk para pekerja yang diupah secara harian—tapi sekarang ia merasa enggan. Ia memutuskan akan meminta kembalian sepuluh dolar.

Ia turun dan bergabung ke belakang mobil, kendaraan-kendaraan lain masih terus melintas. Sewaktu ia menyerahkan selembar uang dua puluh dolar, Nell mengamati bahwa si supir menunjukkan rasa kaget dan mungkin secercah rasa kagum kepadanya. Tentu saja ia tak bisa memaksa dirinya untuk meminta kembalian sepuluh dolar itu, sehingga ia malah berkata, “Mustahil Donald Trump bisa menjadi kandidat presiden dari Partai Republik.”  

Nell penasaran apakah supir itu akan menukas dengan kalimat seperti “Sialan kau, Nyonya” tapi si supir tak memberinya kepuasan semacam itu. Ia justru tampak risau, dan berkata, “Hei, aku tak bermaksud menyinggungmu.” Dari saku celananya ia mengambil sebuah kartu nama berwarna putih dengan aksen garis oranye dan logo perusahaan layanan antar-jemput tempat ia bekerja. Ia menambahkan, “Aku libur hari Minggu, tapi, kalau kau membutuhkan sesuatu saat kau berada di sini, telepon saja.”  Lantas supir itu berlutut, mengambil pulpen yang terselip di telinganya dan, menggunakan koper hitam beroda yang berdiri tegak di antara mereka berdua sebagai alas, menuliskan nama LUKE dan sepuluh digit nomor telepon di bawahnya. (Beberapa tahun lalu, Henry mengikatkan pita merah-putih dari kado Natal ibunya pada pegangan koper itu.) Si supir menyerahkan kartu nama itu kepada Nell.

Untuk alasan apa ia mesti meneleponnya, pikir Nell. Tapi bagian mengganggu dari situasi itu adalah, karena posisinya yang sedang berlutut, wajah si supir kebetulan persis berada di depan ritsleting celana Nell—ia tidak sengaja melakukannya, Nell yakin, tapi wajah si supir mungkin hanya terpaut tiga inci—sehingga bagaimana bisa bayangan si supir melakukan oral seks padanya tidak terlintas dalam pikiran Nell? Dengan nada tergesa, ia berkata, “Terima kasih untuk tumpangannya.”

***

Ditemani siaran CNN, Nell menggantungkan kemeja dan celananya di lemari dan menyimpan kantung peralatan mandi di kamar mandi. Para anggota dewan pelaksana sepakat berkumpul di lobi pada pukul enam dan bersama-sama naik taksi menuju restoran yang jaraknya satu mil dari hotel. Nell sedang mengeluarkan barang-barang yang tidak ia butuhkan saat acara makan malam dari tas dan meletakkan barang-barang itu dengan rapi di atas meja—botol air, map manila yang menyimpan catatan-catatan tentang makalah yang sedang ia revisi—ketika ia menyadari bahwa SIM miliknya tak ada di slot depan dompetnya. Apakah ia tak menyimpannya kembali setelah melewati pemeriksaan keamanan di bandara Madison? Mula-mula ia tak khawatir, tapi setelah dua kali memeriksa isi tas dan tetap tak menemukan apa yang dicari, ia benar-benar cemas. Ia tak menemukan pula SIM itu di saku celana atau saku jaketnya, dan jelas mustahil kartu itu berada di dalam koper. Ia membayangkan kartu itu tergeletak di salah satu wadah bulat kecil yang bertumpuk di ujung jalur Sinar X—foto di SIM itu diambil pada tahun 2010, saat sebagian rambutnya baru saja dicat merah, nomor-nomor di kartu itu mengungkapkan hari lahir, tinggi, berat, dan alamatnya. Tapi ia ingat tak menaruh SIM itu di wadah saat melewati jalur pemeriksaan. Barangkali ia tak sengaja menjatuhkannya di karpet saat ia berjalan melewati pintu keberangkatan, atau kartu itu terjatuh dari tas atau kantungnya selama ia berada di pesawat.

Bisakah kau naik pesawat di Amerika, pada tahun 2015, tanpa kartu identitas? Jika kau seorang perempuan kulit putih, tanpa keraguan peluangmu lebih besar daripada orang-orang lain. Menurut informasi di internet, ia harus tiba di bandara lebih awal dan menyiapkan kartu pengenal lain, beberapa di antaranya ia miliki (kartu karyawan, kartu anggota klub kebugaran, kartu nama) dan beberapa yang lain tak ia miliki (slip tagihan listrik/air, buku cek, atau buku nikah). Ia pun menelepon pihak maskapai, sebuah tindakan investigasi yang tampaknya sia-sia belaka. Telepon terakhir yang ditujukan kepada si supir van—syukurlah ia jadi memberi tip sebesar dua puluh dolar—dijawab dengan nada profesional, “Ini Luke, ada yang bisa dibantu?”

“Ini dengan penumpang yang kauantarkan ke Hotel Garden Center,” kata Nell. “Kau mengantarku sekitar empat puluh lima menit lalu.”

“Oh halo…” Mendadak, suara Luke terdengar lebih hangat.

Mencoba mengimbangi kehangatannya, Nell bertanya, “Mungkin aku tak sengaja menjatuhkan SIM milikku di mobilmu. Bisakah kau memeriksanya? Namaku Eleanor Davies.”

“Aku sedang mengemudi sekarang, tapi aku bisa memeriksanya nanti, tak masalah kok.”

Spontan Nell menyahut, “Jika kau menemukannya, aku akan memberimu uang.” Apakah ia mesti menyebutkan nominal tertentu? Dua puluh dolar lagi? Lima puluh?

“Yah, bisa ada di sini bisa juga tidak,” Luke berkata. “Aku akan meneleponmu nanti.”

“Aku duduk di baris pertama di belakang kursi pengemudi,” ujar Nell, dan ketika ia berbicara lagi, Luke terdengar senang.

Ia berkata, “Yah, tentu aku ingat.”

***

Luke belum menelepon sampai waktu Nell mesti pergi ke acara makan malam. Nell meneleponnya kembali sebelum keluar kamar, tapi panggilan itu tersambung ke pesan suara. Acara makan malam, yang dihadiri sembilan orang termasuk Nell, ternyata lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan—mereka mendiskusikan jurusan kajian-gender di California yang berkembang pesat sambil menyantap makan malam, plus enam botol anggur—dan mereka memutuskan untuk berjalan kaki saat kembali ke hotel. Di kamarnya, Nell menyadari bahwa empat puluh dua menit lalu, ia meluputkan panggilan telepon dari Luke, dan kemudian sebuah pesan. Hei telepon aku, pesan itu tertulis.

“Kau berada di hotel sekarang?” ia bertanya ketika Nell menelepon balik, dan saat Nell mengonfirmasi, ia menyahut, “Sif kerjaku baru saja berakhir, jadi aku bisa ke sana dalam waktu lima belas menit.”

“Wow, terima kasih banyak,” Nell berujar. “Aku sangat menghargainya.” Mereka sepakat, Luke akan mengirim pesan saat ia tiba, dan Nell akan keluar kamar dan menemuinya di lobi hotel.

Namun, ketika Nell sampai di lobi, Luke ternyata telah berdiri menunggu di sana, di dekat pintu kaca. Ia tak lagi mengenakan kemeja polo oranye cerah itu; ia memakai celana jin kelabu-gelap dan kaus hitam bertudung tanpa lengan. Otot bisepsnya menyembul sempurna; dan kaus itu membuatnya terlihat kasual. Nell telah memutuskan untuk memberi lima puluh dolar, yang ia lipat rapi setengah bagian, dan langsung ia ulurkan bahkan sebelum mereka berbicara. Luke menolak uang itu dan berkata, “Traktir aku minum saja dan kita impas.”

“Traktir minum?” Nell mengulangi. Jika saja ia sedang dalam kondisi seratus persen sadar, Nell pasti akan mengarang sebuah alasan.

Dengan gerak dagunya, Luke menunjuk bar hotel di seberang lobi, tempat asal suara bising percakapan dan nada-nada saksofon yang dimainkan oleh seorang musisi. “Satu Jack & Coke,” kata Luke. “Kau minta, kau dapat tawaran.”

***

Minum bersama Luke si supir layanan antar-jemput di bar hotel sesungguhnya hampir menghibur, sebab perbincangan mereka serupa pengalaman antropologis. Di luar keinginan untuk mendapatkan kembali kartu identitasnya, Nell tidak punya perasaan apa pun kepada orang yang duduk di hadapannya, tapi jalan hidup pria itu, jalur yang dilaluinya sejak lahir sampai ke titik ini, menarik sebagaimana kehidupan orang-orang lain. Luke berumur dua puluh tujuh tahun, lebih tua daripada tebakan Nell, lahir di Wichita, bungsu dari dua bersaudara. Orang tuanya bercerai sebelum ia berusia dua tahun; ia bertemu ayahnya beberapa kali dan tidak menyukai pria itu. Ia tak pernah menghilang dari kehidupan putrinya sebagaimana ayah Luke lenyap dari kehidupannya. Ia dan ibu dan kakaknya pindah ke Kansas saat ia duduk di kelas lima sekolah dasar—kakek-neneknya berasal dari sini—dan ia main bisbol di SMP dan SMA dan berharap mendapatkan beasiswa atlit ke Universitas Negeri Truman (seorang pencari bakat bahkan pernah menonton salah satu pertandingannya) tapi nilai-nilainya di semester akhir remuk. Selanjutnya, ia sempat menempuh satu semester di kampus UMKC, tapi kelas-kelas di sana sungguh membosankan dan tidak sebanding dengan biaya yang harus dibayarkan. (“Jangan tersinggung,” katanya, seolah-olah Nell yang notabene seorang profesor terlibat menjalankan program di sana.) Ia bertemu mantan istrinya, Shelley, di SMA, tapi lucunya ia tidak terlalu menyukai perempuan itu di masa-masa sekolah, jadi mestinya ia tahu pernikahan mereka akan berantakan. Ia berpikir perempuan itu hanya mendambakan seorang anak. Mereka menikah selama dua tahun, dan kini Shelley berpacaran dengan seorang kawan SMA lain, dan Luke berpikir pria itu memang lebih baik daripada dirinya. Luke dan sahabatnya Tim ingin membuka usaha layanan-antar jemput sendiri, targetnya dalam waktu delapan belas bulan mendatang sebab manajer di perusahaan tempat ia bekerja sekarang sungguh berengsek bukan main.

Memancing semua informasi itu tidaklah sulit. Satu-satunya pertanyaan yang Luke ajukan padanya adalah berapa tahun Nell mesti belajar untuk mendapatkan gelar profesor. Nell berujar, “Berapa lama setelah SMA atau total berapa lama?”

“Setelah SMA,” ia berkata, dan Nell menjawab, “Sembilan tahun.”

Tanpa bertanya kepadanya, Luke memesan gelas kedua, dan setelah menghabiskan minuman itu Nell merasa tak pernah semabuk ini sejak ia menjadi pengiring pengantin di acara pernikahan temannya, Anna, pada tahun 2003: ia benar-benar mabuk berat. Ia berujar, “Baiklah, berikan SIM-ku sekarang.”

Luke meringis. “Bagaimana kalau aku mengantarmu ke kamar? Seperti sopan-santun para pria sejati begitu.”

“Subtil nian,” kata Nell. Apakah Luke tahu apa makna subtil? (Bukannya Nell tak tahu bahwa ia seorang elitis ngehek. Ia sadar! Ia hanya tak kuasa menepis karakter itu. Dan, serius, apakah ia paham apa makna subtil?) Nell berujar, “Apa merayu penumpang adalah kebiasaanmu atau aku harus merasa spesial?”

“Apa yang membuatmu berpikir aku sedang merayumu?” Tapi ia masih meringis, dan tentu saja kalimat itulah yang akan dikatakan jika seorang pria ingin mengajak berkencan. (Bagaimana ia, dalam kehidupan nyata, bisa bertemu pria yang ingin diajaknya berkencan atau pria yang ingin mengajaknya berkencan? Apakah ia mesti main Match? Tinder? Apakah mahasiswanya akan menemukan Nell di sana?) Kemudian Luke berkata, “Cuma bercanda kok, aku benar-benar sedang merayumu,” dan efek perkataan Luke itu pun berlipat ganda—ia punya selera humor dan ia benar-benar menyanjung Nell.

Nell berkata, “Jika kau menyerahkan SIM-ku, kau bisa mengantarku ke kamar.”

“Biarkan aku mengantarmu ke kamar dulu, dan aku akan menyerahkan SIM-mu.”

Apakah begini perasaan tokoh-tokoh perempuan dalam novel romansa itu? Mereka, dalam tanda petik, tak punya pilihan kecuali tunduk; mereka dibebaskan dari tanggung jawab oleh keadaan-keadaan yang meringankan. (Agak berhubungan pula, Nell pernah menjadi penulis pertama pada sebuah makalah yang berjudul Booty Call: Norms of Restricted and Unrestricted Sociosexuality in Hookup Culture, sebuah makalah yang, terakhir kali ia cek di Google Scholar, maksudnya kemarin, telah dikutip sebanyak tiga puluh tiga kali.)

Nell memasukkan harga minuman itu ke tagihan kamarnya, dan di lift menuju lantai tujuh belas, Luke berdiri di belakang Nell dan menekan wajahnya di tengkuk Nell, rasanya sungguh nyaman; saat mereka berdiri nyaris berhimpitan seperti ini, rasanya sulit diingat bahwa Nell tidak tertarik pada pria itu. Di dalam kamar—dalih bahwa Luke hanya akan mengantar Nell ke kamar tampaknya telah menguap—mereka bercumbu sebentar di kamar mandi. (Rasanya aneh, bukan aneh-yang-buruk, dicium seorang pria selain Henry. Nell hanya berciuman dengan Henry selama sebelas tahun terakhir.) Lantas mereka berbaring telentang di kasur ukuran besar itu, di atas bedcover putih. Mereka berguling beberapa kali, tapi Nell lebih sering berada di bawah Luke. Akhirnya, Luke melepas kancing dan melemparkan blus yang menutupi tubuh Nell, lalu branya, dan kemudian menarik lepas kaus tudung tanpa lengan konyolnya sendiri. (Barangkali, jika tak terlalu mabuk, Nell akan mematikan lampu.) Luke lebih tinggi dan ramping daripada Henry, dan ia menggunakan tangannya dengan cara yang kurang ahli tapi terasa lebih alamiah. Tubuhnya menguarkan aroma maskulin murahan dari entah sabun mandi atau deodoran. Sebentar-sebentar, Nell berpikir betapa geli temannya Lisa, seorang profesor di bidang ekonomi, jika ia mengirim pesan dan memberi tahu bahwa ia terlibat kencan satu malam bersama seorang supir layanan antar-jemput. Namun, untuk dianggap sebagai kencan satu malam, apakah perlu ada penetrasi? Apakah penetrasi akan terjadi? Mungkin, asalkan pria itu punya kondom.

Luke dengan telaten menjilati puting kiri Nell, lalu puting kanan, lantas ke tulang dadanya, turun sampai ke pusar lalu berhenti dan kembali ke atas. Nell berkata, “Teruskan,” dan saat pria itu mengangkat wajah untuk menatapnya, Nell melanjutkan, “Kau boleh turun sampai ke sana.” Ini bukanlah sesuatu yang biasa ia katakan kepada Henry. Meskipun Henry pernah melakukannya—tidak sering tapi sesekali—tak seorang pun dari mereka yang memperlakukan oral seks sebagai privilise yang dianugerahkan untuknya.

Luke menarik celana dan celana dalam Nell sekaligus. Ia mesti berdiri untuk melepaskan keduanya dari pergelangan kaki Nell. Memandang dari atas, ia berkata, “Wow, sudah lama kau tak bercukur, ya? Bukan penggemar Brazilian wax itu?

Perkataan yang akan membuat Nell membeku jika saja kalimat itu datang dari orang yang opininya ia pedulikan, orang-orang yang akan ia temui lagi di hari-hari lain. Dari para mahasiswinya, ia tahu bahwa agak polos atau polos tanpa bulu sama sekali adalah norma masa kini, tidak luar biasa bahkan bagi mereka yang mengganggap diri sendiri sebagai seorang feminis, dan terlintas pula di benaknya bahwa ia mungkin adalah perempuan tertua yang pernah berkencan dengan Luke.

Lucunya, atau bagian buruk dari situasi itu adalah Nell benar-benar telah bercukur belum lama ini—ia bercukur untuk membentuk apa yang biasa disebut sebagai garis bikini pada pagi hari sebelum ia pergi sebab ia membaca secara daring bahwa hotel ini punya kolam renang dan ia telah menyiapkan pakaian renang, yang sebenarnya bukanlah sebuah bikini. Dengan lembut, ia berujar kepada Luke, “Kau sungguh sangat sopan.”

Pandangan mata mereka bertemu—mungkin Nell tiga persen lebih sadar daripada saat ia berada di lobi, meskipun masih cukup mabuk sehingga tidak khawatir kondisi mabuknya akan hilang sebentar lagi—dan pada mulanya Luke hanya membisu. Kemudian, dengan nada serius sehingga kata-katanya nyaris membangkitkan perasaan hangat pada diri Nell, Luke berkata, “Kau cantik.”

Dengan kerja sama Nell, Luke menarik tubuh Nell sampai ke tepi ranjang sehingga kakinya setengah terjuntai, lalu Luke berlutut di lantai dan mulai memainkan pelayanannya. (Dilahap oleh supir layanan antar-jemput! Saat telanjang! Dengan lampu menyala! Di Kansas! Pasti Lisa akan menanggapinya dengan heboh.) Sejenak kemudian, Nell berhenti memikirkan Lisa. Akhirnya, betapa dahsyat, mula-mula jeram, lalu air terjun. Walaupun ia tak jadi melakukannya, terlintas pula dalam benak Nell untuk berkata “aku cinta padamu”. Dalam arti, Nell bisa memahami bahwa dalam situasi seperti ini seseorang akan terdorong untuk mengatakan ungkapan itu.

Luke kembali berbaring di sisi Nell—ia telanjang pula, walaupun Nell tak bisa mengingat kapan Luke melepas sisa pakaiannya—dan Nell menutup mata saat ia menjangkau batang tegak itu dan mulai menggerakkan tangannya. Terlepas dari dorongan untuk mengungkapkan rasa cinta tadi, Nell tidak cukup tergila-gila untuk memandangi Luke. Nell berujar, “Aku akan mengulum penismu, tapi aku minta SIM-ku dulu. Sekarang.”

Luke tidak merespons, dan Nell berhenti menggerakkan tangannya. Ia memerintah, “Taruh saja di meja itu. Lalu kita bisa berhenti mendiskusikannya.”

Dengan suara lirih, Luke berkata, “Aku tak memilikinya.”

Mata Nell membelalak. “Kau serius?”

“Aku sudah memeriksa seisi van, tapi memang tak ada di sana.”

“Apa kau bercanda?” Nell duduk. Lalu apa yang kaulakukan di sini?”

Luke membisu, dan Nell berkata, “Kau berdusta padaku.”

Luke mengangkat bahu. “Kuharap aku menemukannya.”

“Apa kau berencana, eh, menjualnya?” Kepada siapa SIM bisa dijual? Ia bertanya-tanya. Anak di bawah umur? Pencuri data-data pribadi?

“Sudah kubilang, aku tak memilikinya.”

“Nah, apa pun yang kaukatakan, kau telah kehilangan kredibilitas saat ini.”

Setelah beberapa saat, Luke berkata, “Atau mungkin kau tak benar-benar kehilangannya.”

“Apa pula maksudnya itu?”

Nell akan merefleksikan momen ini nanti, akan memikirkan ulang soal ini dengan sungguh-sungguh nanti, dan salah satu kesimpulan yang muncul di pikirannya adalah, dengan pengendalian-diri yang lebih kuat, Luke mestinya bisa menyesuaikan ulang suasana hati mereka. Ia bisa melakukan beberapa variasi dari aksinya di bar hotel sebelumnya, saat ia menggoda Nell yang menduga ia sedang merayu dan kemudian mengakui bahwa ia memang sedang merayu. Jika saja ia punya lebih banyak rasa percaya diri, maksudnya, rasa pongah, atau bahkan—jika saja ia bisa bergurau dengan menunjukkan betapa Nell pun terlibat penuh dalam kekacauan ini. Namun, hidup Nell mungkin memberi lebih banyak latihan kepongahan daripada hidup Luke. Dan, nyatanya, Luke tampak jeri padanya. Wajah takutnya membuat Nell merasa sebagai seorang perempuan menyeramkan, dan perasaan itu menjijikkan sekaligus menyenangkan.

Dengan suara lirih, Luke berkata, “Aku bersumpah tak memilikinya.”

“Kau pergilah,” kata Nell, lalu menambahkan, “Sekarang.”

Sekali lagi, saat mereka menatap satu sama lain, Nell hampir meredakan lakon kemarahannya—yang jelas, ia tak abai pada kondisi non-setara atas momen berakhirnya perjumpaan mereka ini—tapi ia belum menemukan kata-kata yang bisa menyebabkan kemarahannya susut. Betapapun mabuknya ia kini, kata-kata itu sulit ditemukan.

“Kupikir kita bersenang-senang.” Nada suara Luke terdengar sedikit masygul dan menuduh. “Kau bersenang-senang.” Kebenaran pernyataannya itu, yang sesungguhnya Nell akui pada dirinya sendiri, yang sejenak ia pertimbangkan pula untuk diakui kepada Luke, jelas membuat segalanya berbalik arah.

“Keluar!” seru Nell.

Nell memandang sekeliling, saat ia menatap kaki polosnya, ia bisa melihat Luke berdiri dan berpakaian. Jantung Nell berdegup kencang. Setelah berpakaian, Luke melipat tangannya di dada. Jika saja Luke mendekat dan menyentuh pundaknya… jika saja Luke kembali duduk di sisinya…

“Eleanor,” kata Luke, dan ini adalah pertama kali dan satu-satunya kesempatan ia menyebut nama Nell, lebih tepatnya nama asli Nell, walaupun tak seorang pun yang Nell kenal memanggilnya dengan sapaan itu. “Aku tak bermaksud menipumu. Aku hanya ingin bergaul.”

Nell membisu, dan setelah hening sekitar satu menit, Luke melangkah menuju pintu dan pergi.

***

Rasa pening itu terus bertahan sampai Minggu siang, terasa di sepanjang rapat anggaran, pembahasan tentang usulan jurnal baru, dan diskusi tentang lokasi konferensi berikut. Nell menduga beberapa koleganya merasa pengar pula, dan tanpa tambahan minuman yang ia habiskan bersama Luke pun, ia akan merasa pengar, sehingga seolah-olah interlude bersama Luke itu tidaklah terjadi—seolah-olah peristiwa itu hanyalah mimpi singkat yang sangat menyenangkan dan kemudian berakhir buruk. Namun, setelah ia bangun dari tidur nyenyak sebelum acara makan malam berikutnya, berbagai rapat yang berlangsung beberapa hari belakangan menjadi kabur, sementara waktu-waktu yang ia habiskan bersama Luke menjadi begitu nyata dan menyakitkan.

Nell bangkit dari ranjang dan memercikkan air dingin ke wajahnya. Ia ingin waktu segera berlalu sehingga ia bisa kembali ke dirinya yang membosankan, dirinya yang-dikhianati-oleh-pasangan. Ia ingin menjadi pribadi yang bermoral; ia ingin memupuk kekuatan, mungkin dalam pikirannya sendiri, untuk tak berlaku kejam. Ia tak lagi berpikir untuk menceritakan semua hal kepada Lisa.

Makanya, saat ia sedang berpakaian untuk acara makan malam bersama para koleganya dan menemukan SIM miliknya tersangkut dalam satu lubang saku kiri jaketnya, penemuan itu hanya membuat dirinya semakin sengsara. Jahitan saku kirinya koyak, ia tahu, sebab sekeping uang logam pernah lolos sejak musim semi tahun lalu. Namun, ia tak menyadari lubang itu telah cukup lebar sehingga sebuah kartu SIM bisa pula terselip masuk.

Ketika ia berada di tahun awal SMA, ayah salah satu teman sekelasnya yang sangat baik dan populer meninggal karena kanker. Nell tidak mengenal dekat pemuda itu, dan ia tidak yakin apakah ia patut untuk menulis surat belasungkawa. Saat temannya itu kembali masuk sekolah seminggu kemudian, Nell masih belum menulis surat. Mungkin tampaknya sudah terlambat. Namun, beberapa hari kemudian, Nell bertanya-tanya, apakah benar sudah terlambat? Berminggu-minggu kemudian, terlambatkah? Berbulan-bulan kemudian? Ia kadang-kadang masih teringat pemuda itu, kini seorang pria dewasa tentu, mendekati usia empat puluh seperti dirinya, dan Nell masih berharap untuk bisa mengungkapkan rasa simpati yang tulus kepadanya.

Beginilah perasaan Nell terhadap Luke. Ia bisa saja memanggil Luke Jumat malam itu. Ia bisa saja meneleponnya pada hari Sabtu, setelah ia menemukan SIM yang hilang itu. Ia bisa saja mengirim pesan pada hari Minggu, atau setelah ia kembali ke Madison. Namun, walaupun ia kerap memikirkan Luke—ia memikirkan Luke terutama saat debat kandidat Partai Republik, saat pemilihan awal, saat kaukus, saat konvensi, dan saat pemilihan umum (pemilihan umum itu!)—ia tak pernah memulai kontak. Ia akhirnya bergabung dengan Match, ia pergi ke salon dan mencoba Brazilian wax. Ia mulai berkencan dengan seorang arsitek—yang bukan dikenalnya dari Match—berumur delapan tahun lebih tua, seorang pro rambut pubis perempuan, yang terkejut ketika tahu betapa siapnya seorang profesor kajian-gender menyerah pada standar kecantikan perempuan yang arbitrer. Bagi Nell, pendapat si arsitek menimbulkan rasa lega secara personal, tapi secara intelektual merupakan sebuah kegagalan imajinasi yang sangat payah.

Kadang kala, saat ia setengah mengantuk, Nell mengingat Luke berkata kau cantik, betapa serius dan tulus suaranya waktu itu. Nell mengingat wajah Luke terbenam di antara dua kakinya, dan ia merasa malu sekaligus bergairah. Namun, siang harinya sangat sukar untuk tidak mengolok-olok perasaan melambung itu. Luke memang tak ada kaitan dengan hilangnya SIM itu, tapi setidaknya ia bersalah telah membuat Nell berpikir demikian. Lagi pula, Luke seorang pendukung Trump. 

*Diterjemahkan oleh A. Nabil Wibisana dari cerpen berjudul “Gender Studies”. Cerpen Curtis Sittenfeld ini pertama kali terbit di New Yorker edisi 22 Agustus 2016, kemudian terpilih dalam antologi bergengsi The Best American Short Stories 2017 (Houghton Mifflin Harcourt, 2017).

Curtis Sittenfeld lahir di Cincinnati, Ohio, 23 Agustus 1975. Saat berkuliah di Universitas Stanford, ia pernah terpilih sebagai salah satu Collage Women of the Year. Ia meraih gelar MFA dari Iowa Writer’s Workshop di Universitas Iowa. Sampai saat ini, telah menulis satu kumpulan cerpen, You Think It, I’ll Say It (2018) dan enam novel, antara lain American Wife (2008), Sisterland (2013), dan Rodham (2020). Buku-bukunya masuk dalam “Daftar Sepuluh Buku Terbaik Tahun Ini” versi The New York Times, Time, dan Entertainment Weekly, diadaptasi untuk tayangan televisi dan film, dan diterjemahkan ke dalam tiga puluh bahasa. 

A. Nabil Wibisana bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang. Salah satu emerging writer pada Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2017. Penyair dan penerjemah, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *